Berita

Zaid bin Tsabit. (Foto: Istimewa)

Publika

Zaid bin Tsabit, Sang Arsitek Keabadian Al-Qur'an

SELASA, 03 MARET 2026 | 16:16 WIB

ANDA yang lagi tadarus habis tarawih atau selesai sahur, pernahkah bertanya, siapa pertama kali menulis Al-Qur'an itu? Dialah Zaid bin Tsabit, dikenal sang arsitek keabadian Al-Qur'an. 

Kalau sejarah Islam itu film blockbuster, maka cameo paling gila justru bukan adegan pedang beradu di Badar, bukan teriakan takbir di Uhud, tapi suara lirih, “Zaid, tulis!” 

Muncullah Zaid bin Tsabit, bocah kelahiran sekitar 611 M dari Bani Najjar, Madinah. 


Ia anak yatim sejak usia enam tahun karena ayahnya gugur di Perang Bu’ath. Kelak ia membuat seluruh umat manusia berutang pada ujung penanya.

Ibunya, An-Nawar binti Malik, bukan buzzer, bukan komisaris BUMN literasi. Ia cuma perempuan salehah yang rutin mengantar makanan ke rumah Rasulullah SAW. 

Tapi dari tangan lembut itulah lahir seorang anak yang lebih tajam dari algoritma mana pun. Usia sebelas tahun, saat hijrah 622 M, Zaid sudah hafal 16-17 surah Al-Qur'an. 

Enam belas sampai tujuh belas. Bukan “hafal garis besarnya”, bukan “kurang dikit lagi”. Hafal sempurna. Ketika dibawa menghadap Nabi, ia membaca dengan suara jernih. Rasulullah tersenyum, dan sejarah pun diam-diam bergeser.

Di usia belasan, ia sudah bisa baca-tulis Arab Hijazi, tanpa titik, tanpa harakat. Kita hari ini salah ketik satu huruf saja bisa bikin makna jungkir balik. 

Zaid belajar dari lingkungan Yahudi Bani Qainuqa yang punya tradisi literasi. Multikulturalisme level dewa. Bukan seminar toleransi sambil rebutan mikrofon. Karena kecerdasannya, Rasulullah menjadikannya katib al-wahy, penulis wahyu.

Nuan bayangkan beban itu. Wahyu turun dari langit, malaikat menyampaikan, Nabi membacakan, lalu seorang remaja mencatatnya di pelepah kurma, kulit binatang, tulang belikat unta. 

Setelah itu ia membacakan ulang untuk verifikasi. Verifikasi! Kata yang di zaman sekarang sering kalah oleh kata “viral”.

Bahkan ketika surat-surat Nabi dikirim ke Yahudi, Romawi, Persia, muncul kekhawatiran manipulasi. 

Nabi bersabda, “Pelajarilah aksara Yahudi.” Zaid? Lima belas hari. Ulangi pelan-pelan, lima belas hari sudah menguasai Ibrani lisan dan tulisan. 

Tujuh belas hari kemudian, Suryani pun takluk. Persia, Koptik, Yunani, ia kuasai. Otaknya seperti server pusat abad ketujuh, tanpa buffering, tanpa error 404.

Ia memang sempat ditolak ikut Badar dan Uhud karena terlalu muda. Tapi di Perang Khandaq (5 H) ia ikut. Bahkan saat Tabuk, ia memegang bendera Bani Najjar. 

Rasulullah berkata, “Al-Qur'an lebih utama, dan engkau hafalnya paling banyak.” Jadi jangan heran, kadang yang kelihatan tak turun ke medan tempur justru memegang senjata paling mematikan, ilmu.

Lalu datang momen yang bikin merinding. Perang Yamamah. Banyak huffaz gugur. Umar bin Khattab khawatir Alquran tercecer bersama para syuhada. 

Ia mendesak Abu Bakar as-Siddiq untuk membukukannya. Abu Bakar memanggil Zaid. Tugasnya? Mengumpulkan seluruh ayat menjadi satu mushaf. 

Zaid berkata, “Demi Allah, memindahkan gunung lebih ringan bagiku.” Itu bukan drama. Itu rasa takut pada amanah.

Ia menyisir pelepah, kulit, batu, hafalan sahabat. Syaratnya tegas. Setiap ayat harus disaksikan dua orang yang mendengarnya langsung dari Nabi. 

Dua saksi! Standar forensik abad ketujuh yang membuat standar klarifikasi zaman sekarang tampak seperti status “katanya”.

Hasilnya, suhuf yang disimpan oleh Hafshah RA. Lalu pada masa Utsman bin Affan, ketika perbedaan dialek mengancam persatuan, Zaid kembali ditunjuk. Mushaf standar Quraisy disalin. 

Tujuh eksemplar dikirim ke Mekkah, Kufah, Basrah, Syam. Varian lain dibakar demi kesatuan bacaan. Itulah Mushaf Utsmani yang kita baca hari ini. Setiap hurufnya, setiap fathah-dammah-kasrah yang kini disempurnakan, berutang pada ketelitian seorang Zaid.

Belum selesai. Rasulullah bersabda, “Zaid paling tahu ilmu waris di antara umatku.” 

Ia jadi ahli faraidh nomor satu. Ia meriwayatkan 92 hadis, sebagian tercatat dalam Shahih al-Bukhari dan Sahih Muslim. Ia menjadi hakim, mufti Madinah, bendahara Baitul Mal. 

Pada tahun 45 H, di masa Muawiyah bin Abi Sufyan, ia wafat dalam usia sekitar 54–56 tahun. Ibnu Abbas menangis, “Hari ini ilmu pergi.” Abu Hurairah berkata, “Hari ini wafat tintanya umat ini.”

Coba berhenti sejenak. Satu anak yatim. Dua kali memikul tugas mustahil. Hasilnya? Kitab yang dibaca miliaran manusia hingga hari kiamat.

Di zaman ketika tulisan sering dipakai untuk menggiring opini, menjatuhkan lawan, atau sekadar panen like, Zaid menunjukkan, pena bisa menjadi penjaga wahyu. Ia tidak mencari panggung. Ia tidak menjual sensasi. Ia hanya teliti, jujur, dan takut pada Allah.

Semua kisah ini tercatat dalam Shahih al-Bukhari (4679, 4986-4987), Sahih Muslim, Sunan Abu Dawud, At-Tabaqat al-Kubra, Al-Bidayah wa an-Nihayah, Siyar A’lam an-Nubala’, Fath al-Bari. Data lengkap. Sumber jelas. Bukan dongeng motivasi.

Maka kalau hari ini kita masih ragu menulis kebenaran, masih malas belajar serius, mungkin yang perlu dipertanyakan bukan zaman, tapi nyali. Karena sejarah sudah membuktikan. 

Seorang remaja dengan pena dan integritas bisa menjaga wahyu untuk selamanya. Nama itu adalah Zaid bin Tsabit. Kagum? Seharusnya.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Merawat Tradisi Intelektual Mahasiswa Lewat Peluncuran Buku Pergerakan

Senin, 06 Juli 2026 | 03:59

Demokrasi Liberal dan Benteng Oligarki

Senin, 06 Juli 2026 | 03:43

ICX Realisasikan Buyback Rp71 Miliar Perkuat Sistem Tata Kelola

Senin, 06 Juli 2026 | 03:20

Polresta Bandara Soetta Bongkar Home Industry Vape Isi Ganja Beromzet Miliaran

Senin, 06 Juli 2026 | 02:59

Manifesto AJIP Bali: Ketika Pariwisata Kehilangan Arah

Senin, 06 Juli 2026 | 02:35

Perpres 111/2025 soal LGBT Ancaman Nirmiliter jadi Langkah Preventif Terukur

Senin, 06 Juli 2026 | 02:12

Nyali Semesta: Ali Khamenei dan Puncak Kepemimpinan Transendental

Senin, 06 Juli 2026 | 01:57

UMKM dan Budaya Minangkabau Bergaung di Malaysia

Senin, 06 Juli 2026 | 01:40

Jaksa telah Berubah Menjadi Pengacara Jokowi

Senin, 06 Juli 2026 | 01:20

Aiptu Sumaryanto jadi Korban Ketiga yang Gugur saat Gerebek Bandar Narkoba di Katingan

Senin, 06 Juli 2026 | 00:59

Selengkapnya