Berita

Ilustrasi. (Foto: Istimewa)

Publika

Muawiyah Ubah Khilafah Jadi Tahta Warisan Anak

MINGGU, 01 MARET 2026 | 02:10 WIB

KALI ini kita bahas sosok super krusial, Muawiyah ibn Abi Sufyan (atau Mu??wiyah I), pendiri Dinasti Umayyah pertama. 

Dia bukan cuma sahabat Rasulullah, tapi juga politisi ulung, gubernur tangguh, dan khalifah yang mengubah wajah kekhalifahan dari model Rashidun (pemilihan) jadi dinasti turun-temurun. 

Kisahnya penuh drama. Dari musuh Nabi jadi sahabat, dari gubernur Suriah yang bandel sampai berseteru dengan Ali bin Abi Thalib dan Hasan, lalu mendirikan imperium yang luas banget.


Lahir sekitar 602 M di MekKah, anak Abu Sufyan (pemimpin karavan super kaya) dan Hind bint Utbah (yang di Uhud sempat mengunyah hati Hamzah). Keluarga ini musuh bebuyutan Nabi, ikut Badr, Uhud, Khandaq, semuanya anti-Islam. 

Tapi pas Fathu Makkah 630 M, tiba-tiba semua masuk Islam. Muawiyah? Langsung jadi juru tulis wahyu. Dari “taliq” (mantan tawanan yang dibebaskan) jadi sahabat Nabi. 

Lucu ya, mirip politisi zaman sekarang yang dulu oposisi keras, begitu kekuasaan datang langsung klaim “saya sudah dari dulu pendukung perubahan”.

Di bawah Abu Bakr dan Umar, dia ikut penaklukan Suriah. Umar angkat dia gubernur Damaskus 639 M. Di bawah Utsman, kekuasaannya melebar dari Suriah, Palestina, hingga angkatan laut pertama Muslim. 

Dia bangun armada, rebut Siprus, Rodos, hancurkan Bizantium di Pertempuran Masts 655 M. 

Sukses banget sebagai administrator, toleran ke Kristen, rekrut suku lokal, ekonomi jalan. Tapi di balik itu, dia sudah bangun basis kuasa pribadi yang kuat. 

Mirip gubernur daerah sekarang yang “sukses pembangunan” tapi perlahan-lahan bikin dinasti lokal sendiri, kan?

Lalu meledak fitnah besar pas Utsman dibunuh 656 M. Muawiyah (kerabat Utsman) angkat spanduk “balas dendam darah khalifah”. 

Dia tolak bai’at ke Ali bin Abi Thalib, ganti gubernur, dan tuduh Ali “lindungi pembunuh”. Perang Unta selesai, langsung Perang Siffin Juli 657 M di tepi Efrat. 

Pasukan Ali unggul, tapi pasukan Muawiyah angkat mushaf Al-Quran di ujung tombak, “Kitabullah yang memutuskan!” Ali curiga muslihat, tapi pasukannya (yang takut dosa) paksa berhenti. 

Arbitrase di Dumat al-Jandal gagal total. Hasilnya? Khawarij lahir, Ali dibunuh 661 M. Muawiyah langsung self-declared khalifah di Damaskus.

Nuan bayangkan, perang saudara karena ambisi kekuasaan dibungkus agama. Mirip banget politik elite sekarang, satu pihak bilang “saya bela keadilan”, pihak lain bilang “saya bela persatuan”, tapi ujung-ujungnya rebut kursi. 

Fitnah pertama ini pecah umat sampai sekarang. Yang paling ironis, yang menang justru yang paling ahli politik, bukan yang paling saleh.

Hasan bin Ali naik jadi khalifah 7 bulan. Muawiyah maju dengan pasukan besar ke Irak. Hasan, yang benci pertumpahan darah, pilih damai Agustus 661 M. Perjanjian Hasan-Muawiyah super jelas:
- Berkuasa sesuai Quran & Sunnah
- Suksesor lewat shura (musyawarah), bukan turun-temurun
- Amnesti total, Ahlul Bait aman

Hasan mundur ke Madinah, Muawiyah masuk Kufah dengan damai. Disebut “Tahun Persatuan”. 

Tapi… seperti janji politik zaman sekarang yang ditulis di kertas lalu dilupakan begitu kursi sudah diduduki, Muawiyah kemudian langgar semua. 

Kutuk Ali di mimbar tiap Jumat selama 60+ tahun (bayangin, kampanye hitam resmi dari atas mimbar!), eksekusi Hujr bin Adi (sahabat Ali). Yang paling parah, tunjuk Yazid sebagai putra mahkota. 

Lahirlah Dinasti Umayyah, pertama kali kekhalifahan jadi kerajaan turun-temurun. 

Hasan wafat 670 M (Syiah yakin diracuni, kontroversial tapi banyak sumber klasik sebut Muawiyah dalang). Mirip banget pemimpin yang bilang “ini buat stabilitas dan persatuan”, tapi akhirnya bikin tahta warisan buat anak, dan umat yang bayar mahal.

Sebagai khalifah (661-680 M), Muawiyah pindah ibukota ke Damaskus, bangun imperium gila. 

Serang Bizantium tiap tahun, rebut Afrika Utara, ekspansi ke Oxus. Administrasi tiru Bizantium seperti d?w?n, pos, cap mohor, pejabat Kristen tetap dipakai. 

Ekonomi jalan, tentara loyal. Tapi gaya hidupnya sudah “raja,” bodyguard, tahta, protokol kerajaan. Madelung bilang ini awal mulk (monarki) menggantikan khilafah. Persis seperti yang dulu dicela, dari pemimpin terpilih jadi raja turun-temurun.

Wafat April/Mei 680 M di Damaskus umur 78 tahun. Sebelum wafat, dia wasiatkan Yazid, padahal janji shura sudah dibuang ke tong sampah. Beliau dimakamkan di Bab al-Saghir.

Bagi yang suka versi “stabilitas,” dia satukan umat setelah fitnah, ekspansi Islam sampai Afrika & Asia Tengah. 

Bagi yang kritis (termasuk banyak ulama klasik), dia ubah khilafah jadi kerajaan, lahirkan Karbala, dan contoh buruk “politik dinasti” yang sampai sekarang masih diulang-ulang di mana-mana. 

Sunni hormati sebagai sahabat Nabi yang pintar, Syiah kutuk sebagai pembunuh karakter Ahlul Bait. Tabari & Ibn Kathir catat semuanya, bukan hitam-putih, tapi manusia biasa dengan ambisi super tinggi.

Muawiyah mengajarkan kita satu hal yang masih relevan 1.400 tahun kemudian, kalau pemimpin bilang “ini buat umat dan persatuan” tapi langsung siapkan kursi buat anak atau kroni, maka waspadalah, sejarah pasti berulang. 

Dari Siffin sampai sekarang, yang kalah selalu rakyat biasa, yang menang selalu yang ahli main politik.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Rencana Insentif MBG Rp1 Triliun Tuai Kritik dari DPR

Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:47

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

UPDATE

IPW Desak Transparansi Penegakan Hukum Kasus 1.048 Ton Udang Impor di Jatim

Minggu, 01 November 2026 | 01:50

Langkah Polisi Tangani Kasus Perusakan Warung Mi Babi Sukoharjo Diapresiasi Warga

Minggu, 01 November 2026 | 01:24

Polda Metro Siap Dikritik Buntut Penyelenggaraan Deklarasi Sumpah Pemuda 29 Oktober

Minggu, 01 November 2026 | 00:43

Ramai Logo Muncul di TIME100 Next Gala, Danantara Bantah Bayar Dana Sponsorship

Minggu, 01 November 2026 | 00:16

Pengurus Baru SAPMA PP DKI Jakarta Siap Berkolaborasi dengan Pemprov

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 23:47

Polisi Tangkap Pelaku Penembakan di Kampung Ambon, Ini Motifnya

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 23:17

Winda Marfita Pastikan Tak Terlibat Kasus Investasi PT MBS yang Dilaporkan Nur Istianti

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:57

Asrul Haruna Terpilih Sebagai Koorpresnas BEM PTMA Indonesia

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:43

Rembuk Pemuda Himpun Aspirasi dari 29 Provinsi, Kukuhkan DPP Pertama

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:32

PPP Maluku Tolak Pemberhentian Agus Suparmanto-Taj Yasin

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:44

Selengkapnya