Berita

Presiden AS Donald Trump (Tangkapan layar RMOL dari siaran France24)

Dunia

Hasil Negosiasi dengan Iran Belum Puaskan Trump, Opsi Militer Masih Terbuka

SABTU, 28 FEBRUARI 2026 | 07:44 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengaku tidak senang dengan cara Iran bernegosiasi dalam pembicaraan nuklir dengan AS. Meski begitu, ia menegaskan belum mengambil keputusan akhir terkait kemungkinan aksi militer terhadap Teheran.

Pernyataan itu disampaikan sehari setelah perwakilan AS dan Iran menggelar pembicaraan di Jenewa. Trump menilai Iran tidak menunjukkan sikap yang sesuai dengan harapan Washington.

“Kami tidak begitu senang dengan cara mereka bernegosiasi. Mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir,” kata Trump kepada wartawan pada Jumat, dikutip dari France24, Sabtu 28 Februari 2026.


Trump sendiri telah memerintahkan pengerahan militer besar-besaran ke Timur Tengah. Kapal induk terbesar Amerika, USS Gerald R. Ford, dilaporkan bergerak mendekati perairan Israel sebagai bagian dari tekanan terhadap Iran. 

Namun saat ditanya apakah AS akan melancarkan serangan, Trump menjawab bahwa keputusan final belum dibuat. Ia juga mengakui belum tentu serangan militer akan menjatuhkan pemerintahan Iran. “Tidak ada yang tahu,” ujarnya.

Trump menegaskan sikapnya yang keras terhadap program nuklir Iran. Ia menyatakan tidak ingin Iran melakukan pengayaan uranium dalam bentuk apa pun, bahkan untuk tujuan sipil. “Saya katakan tidak ada pengayaan. Bukan 20 persen, 30 persen. Saya pikir itu tidak beradab,” katanya.

Pihak Iran berulang kali membantah sedang mengembangkan senjata nuklir. Teheran sebelumnya menyepakati pembatasan pengayaan uranium dalam perjanjian nuklir 2015, namun kesepakatan itu dibatalkan Trump pada masa jabatan pertamanya. Ketegangan semakin meningkat setelah pada Juni lalu Trump mengklaim situs nuklir utama Iran telah “dimusnahkan” dalam operasi militer bersama Israel.

Situasi keamanan yang memburuk membuat Kedutaan Besar AS mengizinkan staf non-darurat dan keluarga mereka meninggalkan Israel. Warga Amerika juga diminta mempertimbangkan keluar dari Israel selagi penerbangan komersial masih tersedia. Beberapa negara Eropa seperti Jerman, Inggris, dan Prancis turut mengeluarkan peringatan perjalanan.

Populer

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Prabowo Berpeluang Digeruduk Demo Besar Usai Lebaran

Rabu, 11 Maret 2026 | 06:46

Golkar Berduka, Putri Akbar Tandjung Wafat

Rabu, 11 Maret 2026 | 15:27

Mengenal Bupati Rejang Lebong M Fikri yang Baru Terjaring OTT

Selasa, 10 Maret 2026 | 06:15

Rismon Ajukan RJ Kasus Ijazah Palsu Jokowi, Dokter Tifa: Perjuangan Memang Berat

Kamis, 12 Maret 2026 | 03:14

Memalukan! Rismon Ajukan Restorative Justice

Kamis, 12 Maret 2026 | 02:07

UPDATE

Empat Anggota TNI Penyiram Air Keras Sebaiknya Diadili di Pengadilan Sipil

Sabtu, 21 Maret 2026 | 02:05

Tiga Kecelakaan di Tol Jateng Tewaskan Delapan Orang

Sabtu, 21 Maret 2026 | 02:01

Kejahatan Perang Trump

Sabtu, 21 Maret 2026 | 01:36

Hadiri Jakarta Bedug Festival, Pramono Tekankan Kebersamaan Sambut Idulfitri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 01:14

Kenapa Pemimpin Iran Mudah Sekali Diserang Israel-AS

Sabtu, 21 Maret 2026 | 01:07

Bamsoet Apresiasi Kesigapan TNI dan Polri Tangani Kasus Andrie Yunus

Sabtu, 21 Maret 2026 | 00:23

Hukum Militer, Lex Specialis, dan Ujian Akuntabilitas dari Kasus Andrie Yunus

Sabtu, 21 Maret 2026 | 00:04

Korlantas Gagal Tangani Arus Mudik

Sabtu, 21 Maret 2026 | 00:00

Dokter Tifa Ngaku Dikuatkan Roy Suryo yang Masih Waras

Jumat, 20 Maret 2026 | 23:29

Air Keras dari Orang Dalam

Jumat, 20 Maret 2026 | 23:11

Selengkapnya