Berita

Yudhi Hertanto. (Foto: Dok. Pribadi)

Publika

Romantisme Reformasi dalam Jeratan Oligarki

KAMIS, 26 FEBRUARI 2026 | 11:31 WIB | OLEH: YUDHI HERTANTO

MONUMENTAL! Reformasi 1998 selalu dikenang dalam aspek historis bangsa, bukan hanya menjadi momentum lengsernya penguasa, tetapi sekaligus menjadi komitmen untuk memindahkan kemudi dari negara kekuasaan (machtsstaat) menuju negara hukum (rechtsstaat) yang demokratis (Asshiddiqie, 2011). Apa yang tersisa kini, selain romantisme?
 
Hiruk-pikuk dinamika politik dan ekonomi pasca reformasi memberi indikasi dari kondisi yang seolah tidak berubah. Perbedaannya terletak pada perubahan aktor, sementara watak dan sifat kekuasaan kembali memperlihatkan gaya yang relatif sama.

Berbagai agenda publik yang terkooptasi kepentingan elite, memberikan ilustrasi buram tentang reformasi yang mundur ke dalam lorong gelap.
 

 
Formalisme Hukum
 
Pada kerangka filosofis, reformasi merupakan mandat untuk mengembalikan Pancasila sebagai norma dasar yang memanusiakan warga, bukan alat pembenar kekuasaan (Asshiddiqie, 2008). Oleh karena itu, secara yuridis telah terjadi amandemen konstitusi yang luar biasa untuk memastikan tidak ada lagi presiden yang bisa berkuasa seumur hidup.
 
Dimana struktur Mahkamah Konstitusi (MK) ditempatkan sebagai penjaga gerbang demokrasi agar suara rakyat tak dicurangi oleh undang-undang yang dipesan elit (Mahfud MD, 2025). Kini, representasi MK tidak lepas dari proksi kepentingan politik kekuasaan, bukan soal hajat publik.
 
Dalam realitas sosiologis memperlihatkan wajah yang berbeda. Sejalan dengan Satjipto Rahardjo (2009) pernah mengingatkan; "hukum adalah untuk manusia, bukan manusia untuk hukum." Kondisi faktualnya justru ironis, hukum seringkali disusun secara formalistik di meja kekuasaan untuk melayani syahwat politik segelintir orang.
 
Sebagaimana upaya legislatif yang sempat mencoba menganulir putusan MK terkait syarat usia, serta ambang batas pencalonan pilkada 2024 adalah bukti telak betapa hukum bisa ditekuk demi kepentingan dinasti politik (Purnamawati, 2020). Bahkan MK juga tercemari dengan pembentukan norma baru MK tentang syarat usia capres-cawapres.

Kontras Dua Zaman

Jika 1998 kita dihantam krisis moneter yang membuat rupiah terjun bebas ke angka Rp16.000 per dollar AS, maka di tahun 2025 kita menghadapi tantangan "obesitas regulasi" dan jeratan korupsi yang lebih canggih (Kleden, 2018).

Data terbaru menunjukkan Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia tahun 2025 anjlok ke level 34, peringkat 109 di dunia (Transparency International, 2026). Kondisi ini merupakan sinyal merah bahwa penyakit KKN yang dulu kita lawan, kini telah bermutasi menjadi lebih sistemik di bawah ketiak oligarki.

Tidak banyak perubahan terjadi. Situasi demokrasi masih terbilang cacat (flawed democracy), dengan transformasi aktor kunci yang terkonsentrasi melalui partai politik maupun oligarki finansial. Relasi di antara keduanya membangun strategi dalam mempertahankan kekuasaan, yang seringkali bertolak belakang dengan kehendak publik.

Aktivis di Lingkaran Kuasa
 
Fenomena menarik di era kekuasaan pasca reformasi adalah masuknya para aktivis dalam lingkar kekuasaan. Tidak hanya menjadi pemain sampiran, bahkan beberapa diantaranya memangku kuasa, lantas apa makna dan faedah sebagai kebermanfaatan bagi publik?

Teori perubahan dari dalam struktur, nyatanya hanyalah isapan jempol belaka. Pilihan pragmatis adalah larut dalam nikmat fasilitas dibanding mampu mewarnai kebijakan dengan idealisme (Hamid, 2019).
 
Kekhawatiran tersebut terlihat dari dialektika yang tampil, bagaimana para aktivis di masa lalu menjadi semacam pembenar bagi arah kekuasaan. Posisinya berubah menjadi penyokong serta aksesori kekuasaan, seolah tengah mengubur sejarah.
 
Jalan Progresif
 
Reformasi menjadi pengingat penting, bahwa demokrasi tidak boleh hanya demokrasi elektoral yang prosedural, pelibatan publik diperlukan hanya pada saat periode pencoblosan, lalu dilupakan setelahnya (Kleden, 2018). Peluang masa depan terletak pada resiliensi masyarakat sipil, baik tampak secara langsung maupun menggunakan platform digital .
 
Kemunculan suara dan gerakan mahasiswa dan akademisi yang berhasil dalam mengawal putusan MK melalui "Peringatan Darurat" membuktikan kedaulatan rakyat masih bernyawa.
 
Perlu sekali lagi mendesak upaya reformasi regulasi yang serius untuk memotong tumpukan aturan yang bertabrakan dan rawan korupsi (PSHK, 2019). Keberadaan hakim dan penegak hukum harus berani keluar dari cangkang pasal-pasal kaku dan menggunakan nurani hukum progresif untuk membela kepentingan publik (Rahardjo, 2009).
 
Jelas sudah bahwa reformasi bukan barang antik pajangan museum sejarah. Melainkan nafas yang harus diperjuangkan. Masa depan Indonesia yang demokratis hanya mungkin tegak bila hukum kembali menjadi panglima, bukan pelayan bagi mereka yang berkuasa.
 
Doktoral Ilmu Hukum Universitas Islam Sultan Agung

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Rencana Insentif MBG Rp1 Triliun Tuai Kritik dari DPR

Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:47

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

Ketua KPK Bakal Babak Belur Gara-gara Nusron

Senin, 26 Oktober 2026 | 13:02

UPDATE

Digelar di Ambon, Muktamar XIV KAMMI Usung Semangat Ale Rasa, Beta Rasa

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 16:29

KPU Perlu Keluarkan Surat Gibran Tidak Memenuhi Syarat Wapres

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 16:13

Gumarang Soroti Perubahan Sikap Rocky Gerung Setelah Masuk Lingkaran Istana

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 15:48

10 Saham Paling Tertekan saat IHSG Anjlok 7 Persen

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 15:16

OJK Serahkan Lagi Hasil Penelusuran Aset DSI, Bareskrim Sudah Sita Rp432 Miliar

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 15:04

Eksekusi Suntik Mati Gagal, Christa Pike Akui Alami Trauma dan Rasa Sakit

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:52

Harga Bitcoin Tertekan Setelah Binance Dibobol Hacker

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:44

Pendiri Ayam Goreng Suharti Tutup Usia, Merintis Bisnis Sejak 1956

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:30

Intel Babak Belur, Saham Anjlok 29 Persen

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:19

Kemlu Dalami Informasi WNI Tewas Saat Dinas Militer di Rusia Lewat KBRI Moskow

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:05

Selengkapnya