Berita

Ilustrasi (RMOL/Reni Erina)

Bisnis

Bursa Asia Variatif di Bawah Bayang-bayang Tarif Trump

SELASA, 24 FEBRUARI 2026 | 09:09 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pasar saham di kawasan Asia Pasifik menunjukkan pergerakan yang beragam pada pembukaan perdagangan pagi ini. Meski sempat dibuka di zona hijau dan mencoba melawan tren pelemahan di Wall Street serta bursa Eropa, mayoritas indeks kemudian bergerak fluktuatif cenderung melemah.

Sentimen pasar saat ini terjepit di antara kekhawatiran atas kebijakan proteksionisme AS dan ekspektasi stimulus domestik di Asia. 

Investor kembali bersikap waspada setelah Presiden AS Donald Trump melalui platform Truth Social melempar ancaman tarif yang lebih tinggi bagi negara-negara yang dianggap tidak sejalan dengan putusan Mahkamah Agung AS. Di sisi lain, sektor teknologi global juga tertekan oleh kekhawatiran bahwa perkembangan kecerdasan buatan (AI) dapat mengganggu model bisnis perusahaan perangkat lunak konvensional.


Pasar saham China daratan resmi dibuka kembali hari ini usai libur panjang Tahun Baru Imlek. Fokus utama pelaku pasar tertuju pada pengumuman Loan Prime Rate (LPR) oleh bank sentral China. Keputusan suku bunga satu tahun (acuan pinjaman komersial) dan lima tahun (acuan kredit properti) ini sangat dinantikan sebagai sinyal arah pemulihan ekonomi Negeri Tirai Bambu tersebut.

Indeks Nikkei 225 tampil solid dengan kenaikan 0,66 persen ke level 57.200,47. Sementara itu, indeks Topix cenderung bergerak stagnan.

Indeks Kospi berbalik arah ke zona merah dengan koreksi 0,26 persen ke level 5.831,09.

Indeks ASX 200 dibuka tipis di zona hijau, namun segera meluruh 0,13 persen menjadi 9.014.

Kontrak berjangka Hang Seng berada di posisi 26.869, menunjukkan tren penurunan dibanding penutupan sebelumnya.

Di dalam negeri, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi masih memiliki tenaga untuk melanjutkan penguatan setelah melonjak 1,5 persen ke posisi 8.396 pada perdagangan kemarin.

Arus modal asing diperkirakan masih akan mengalir, khususnya ke saham-saham perbankan big cap seiring membaiknya persepsi risiko investasi di Indonesia.

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

KPK Benaran Sakit Jiwa, Gedung Merah Putih Mending untuk Merawat ODGJ

Kamis, 16 Juli 2026 | 19:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

UPDATE

Harga Minyak Dunia Menetap di Level 84 Dolar AS

Jumat, 17 Juli 2026 | 10:17

Kejaksaan Agung Casablanca Bebaskan A.M. demi Jaga Objektivitas Proses Hukum

Jumat, 17 Juli 2026 | 10:16

Usulan Nasdem Naikkan Ambang Batas Diduga untuk Jegal PSI

Jumat, 17 Juli 2026 | 10:14

Komisi XII DPR: Kelangkaan BBM di Sumut Bukan Persoalan Biasa

Jumat, 17 Juli 2026 | 09:58

IHSG Balik Arah ke Zona Merah, Dolar AS Melemah ke Rp17.943

Jumat, 17 Juli 2026 | 09:45

Pertarungan Bisnis Adidas-Nike dan Pundi Pundi FIFA di Piala Dunia 2026

Jumat, 17 Juli 2026 | 09:44

Pulau Baai Butuh Solusi Permanen, Bukan Pengerukan Berulang

Jumat, 17 Juli 2026 | 09:39

Emas Antam Anjlok Rp27.000, Satu Gram Jadi Rp2,6 Juta

Jumat, 17 Juli 2026 | 09:31

Bobby Adhityo Dicecar KPK soal Pengaturan Temuan Audit BPK

Jumat, 17 Juli 2026 | 09:26

Terungkap, 307 Ribu QR Code BBM Subsidi Bermasalah Diblokir

Jumat, 17 Juli 2026 | 09:17

Selengkapnya