Berita

Kaligrafi Aisyah RA. (Foto: Istimewa)

Publika

Mengenal Aisyah RA, Ummul Mukminin yang Paling Dicintai Rasulullah

SELASA, 24 FEBRUARI 2026 | 05:20 WIB

KALAU hari ini ada yang masih meremehkan peran perempuan dalam ilmu, sejarah, bahkan politik, mungkin dia perlu duduk tenang, lalu membaca ulang riwayat Siti Aisyah binti Abu Bakar RA. 

Beliau bukan sekadar istri Rasulullah. Beliau Ummul Mukminin. Putri dari Abu Bakar as-Shiddiq RA. Perempuan paling berilmu dalam sejarah Islam. Hidupnya bukan dongeng tanpa badai. 

Aisyah RA lahir di Mekah sekitar 613–614 M, tahun ke-4 atau ke-5 kenabian. Sejak kecil tak pernah kenal bau jahiliyah. Rumahnya rumah iman. Ayahnya sahabat paling setia Nabi, ibunya Ummu Ruman RA termasuk generasi awal yang masuk Islam. 


Nuan bayangkan, sebagian anak zaman sekarang hafalnya password WiFi, Aisyah kecil sudah hafal syair, sejarah, bahkan diskusi agama. 

Umur lima tahun, ketika Nabi melihatnya bermain kuda bersayap, ia menjawab dengan kisah Nabi Sulaiman AS. Ingatan tajam, wawasan luas. Otaknya encer sebelum istilah “gifted” jadi tren parenting.

Rasulullah melihat Aisyah dalam mimpi, dibawa malaikat dalam kain sutra. Tanda takdir. Bertunangan di Mekah, lalu menikah dan mulai hidup berumah tangga di Madinah pada Syawal tahun 2 H (623 M). Usianya 9 tahun menurut riwayat sahih Bukhari-Muslim. 

Di zaman itu, itu normal. Jangan pakai kacamata abad 21 untuk menghakimi abad ke-7. Pernikahan ini juga mempererat ikatan Rasulullah dengan Abu Bakar RA. 

Di bagian pernikahan ini, banyak orang yang tak suka Islam dijadikan argumentasi untuk menyerang. Ya, wes lah, wak!

Rumah Aisyah berdampingan dengan Masjid Nabawi. Pintu rumahnya langsung ke masjid. Wahyu sering turun di pangkuannya. Nabi wafat di pangkuannya pada 11 H/632 M, usia 63 tahun. 

Bahkan siwak Nabi dibersihkan oleh Aisyah dengan mulutnya sendiri. Cinta mereka bukan slogan, tapi hidup sehari-hari. Bercanda, mandi dari satu bejana, berdiskusi. Hadis terkenal menyebut cinta terbesar Nabi di dunia adalah kepada Aisyah.

Soal ilmu? Jangan main-main. Ia meriwayatkan 2.210 hadis. Seperempat hukum Islam bersumber dari riwayatnya. 

Setelah Nabi wafat, ia jadi rujukan utama fikih, terutama masalah perempuan. Sahabat senior pun bertanya kepadanya. 

Imam az-Zuhri sampai berkata ilmu Aisyah lebih luas dibanding perempuan lain. Kalau hari ini ada yang alergi pada perempuan cerdas, mungkin itu bukan masalah agama, tapi ego.

Lalu datang ujian besar: Peristiwa Ifk (afaka–ya’fiku) tahun 5 H, saat pulang dari Bani Mustaliq. Kalungnya jatuh, ia tertinggal. Safwan bin Muattal RA mengantarnya kembali. 

Fitnah zina disebar kaum munafik, dipimpin Abdullah bin Ubay. Sebulan ia sakit, Rasulullah pun gelisah. Hingga turun QS An-Nur 11–20 yang membersihkan namanya. Kesabarannya luar biasa. Ia berkata, “Kesabaranku seperti kesabaran Yusuf.” 

Di era sekarang, satu gosip di media sosial saja orang sudah bikin klarifikasi 12 slide. Aisyah? Diam, sabar, menunggu keputusan Allah.

Tentang hijab, beliau dan para Ummul Mukminin menjaga aurat dengan ketat. Hadis riwayat Abu Dawud tentang Asma’ binti Abu Bakar yang menunjukkan wajah dan telapak tangan boleh tampak, serta riwayat Bukhari-Muslim tentang istri-istri Nabi yang menurunkan jilbab ke wajah saat ada lelaki asing lewat ketika ihram, menjadi rujukan penting. 

Sebagian ulama mewajibkan atau menganjurkan cadar dengan meneladani praktik Aisyah. Jumhur membolehkan wajah dan telapak tangan tampak. Perbedaan ini rahmat, bukan bahan bakar debat tak berujung. Yang jelas, Aisyah RA adalah simbol kesopanan dan kehormatan.

Babak paling dramatis? Perang Jamal tahun 36 H/656 M. Setelah Utsman bin Affan RA dibunuh, Aisyah RA menuntut qisas. 

Bersama Thalhah bin Ubaidillah RA dan Zubair bin Awwam RA, ia menuju Basrah. Tujuannya keadilan, bukan takhta. 

Namun negosiasi dengan pihak Ali bin Abi Thalib RA gagal. Pecah perang saudara pertama dalam sejarah Islam. 

Ia berada di atas unta, memberi semangat. Thalhah dan Zubair gugur. Ali menang, tetapi memperlakukan Aisyah dengan hormat, mengantarnya pulang ke Madinah dengan aman. 

Aisyah kemudian menyesal dan berkata, “Andai aku mati sebelum ini.” Sejak itu ia fokus mengajar, menjauh dari politik.

Di sini pelajarannya menohok politisi zaman sekarang, berbeda ijtihad tidak menghapus kemuliaan. Salah langkah bukan alasan saling mencaci. 

Ali menghormatinya, Aisyah mengakui kekhilafan. Kelas. Elegan. Tidak seperti politik hari ini yang ributnya melebihi substansi.

Aisyah RA wafat 17 Ramadhan 58 H (16 Juli 678 M) di Madinah, usia 66-67 tahun. Ia berwasiat tidak dimakamkan di kamar Nabi, tapi di Jannatul Baqi’. 

Merasa tak pantas bersanding dengan Rasulullah, Abu Bakar, dan Umar. Tawadhu’ tingkat dewa. Hartanya habis untuk sedekah.

Empat puluh empat tahun setelah Nabi wafat, ia hidup untuk ilmu. Mengajar, memberi fatwa, mendidik generasi. Perempuan, ulama, bahkan pernah berada di pusaran politik. Teladan lengkap. 

Kalau bangsa ini mau belajar, belajarlah dari Aisyah. Cerdas tanpa sombong, berani tanpa ambisi, salah tapi mau mengakui, berilmu dan tetap rendah hati.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Ijazah Gibran Jadi Bom Waktu

Rabu, 07 Oktober 2026 | 02:03

Danantara Gelontorkan Rp4,4 Triliun untuk Masuk Bisnis Migas AS

Rabu, 07 Oktober 2026 | 01:31

PIP dan KIP Kuliah Tak Boleh Lagi Salah Sasaran

Rabu, 07 Oktober 2026 | 01:21

Jangan Korbankan Konektivitas Antar Pulau Gegara Kebijakan Panik

Rabu, 07 Oktober 2026 | 01:09

Inilah Beda FIFA ASEAN Cup dan Piala AFF

Rabu, 07 Oktober 2026 | 00:34

Ahmad Doli Soroti Dugaan Bullying Bocah SD di Pemalang: Mukanya Lucu-lucu, tapi Berstatus Pembunuh

Rabu, 07 Oktober 2026 | 00:21

Gibran Tak Punya Ijazah SMA, Said Didu: Pemakzulan Bisa Lewat Proses Politik

Rabu, 07 Oktober 2026 | 00:04

Danantara Penetrasi ke Ekosistem Aviasi Timur Tengah

Selasa, 06 Oktober 2026 | 23:43

34 JPU Disiapkan Hadapi Sidang TPPU Febrie Adriansyah

Selasa, 06 Oktober 2026 | 23:20

Juara Setelah 35 Tahun Menunggu

Selasa, 06 Oktober 2026 | 23:01

Selengkapnya