Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (Foto: AP)
DONALD TRUMP dilaporkan selamat dari upaya pembunuhan. Liut sekali nyawanya.
Kalau hidup ini novel Camanewak 1.000 halaman, maka Donald Trump itu tokoh yang kontraknya tak boleh mati sebelum seasonterakhir.
Februari 2026, episode baru tayang. Lokasi tetap setia, Mar-a-Lago. Istana tropis yang dijaga bukan cuma pagar, tapi refleks sepersekian detik dan peluru presisi.
Tokoh antagonisnya kali ini, Austin Tucker Martin, 21 tahun, asal Cameron, North Carolina.
Fresh graduate SMA. Baru merintis bisnis kecil gambar seni
handmade, spesialisasi gambar lapangan golf. Iya, golf, wak. Dunia
fairway dan
green yang biasanya tenang, bukan dunia manifesto dan makar.
Keluarganya bilang dia pendiam, minim pengalaman senjata, dan, ini yang bikin plot makin absurd, keluarganya pendukung garis keras Trump. Kalau ini sinetron, penonton sudah teriak, “Penulisnya merampot!”
Tanggal 21 Februari 2026 pukul 19.51 waktu setempat, keluarga panik lapor hilang. Anak yang biasa coret-coret
green tiba-tiba hilang dari radar.
Ternyata dia
road trip ke Florida. Bukan bawa kamera vlog atau cemal-cemil, tapi
shotgundan jeriken bensin. Kombinasi yang bikin otak publik langsung bikin teori, mau barbeque dini hari atau mau bikin headline?
Pukul 01.30 dini hari, 22 Februari 2026 waktu Florida, ia mendekati gerbang utara Mar-a-Lago. Kebetulan ada kendaraan keluar. Pintu terbuka. Dalam fisika, ini momentum. Dalam keamanan, ini celah sepersekian detik yang nilainya lebih mahal dari saham teknologi. Austin masuk perimeter.
Dua agen
Secret Service dan satu deputy sheriff Palm Beach County langsung bergerak. Teriakan klasik film aksi terdengar:
“Drop your items!” Jeriken bensin ditaruh.
Shotgun? Diangkat ke posisi siap tembak.
Di sinilah hukum alam bekerja tanpa basa-basi. Tidak ada dialog Shakespeare. Tidak ada negosiasi panjang. Tembakan dilepaskan. Austin tewas di tempat. Tidak ada tembakan balik. Semua selesai dalam detik-detik yang bahkan belum cukup untuk
upload satu
story.Trump? Tidak ada di lokasi. Ia berada di White House, Washington DC. Secara teknis, ini bukan percobaan pembunuhan langsung terhadapnya. Tapi publik tak peduli teknis. Narasinya tetap, “Upaya habisi Trump gagal lagi.” Plot armor tetap aktif.
FBI kini menyelidiki motif. Masih misteri. Ada yang bisik-bisik soal kesehatan mental. Ada yang tarik ke pusaran politik.
Ada pula yang bilang ini krisis eksistensial generasi muda yang salah kanal,
midlife crisis versi 21 tahun, tapi pakai senjata api.
Teori konspirasi pun tumbuh subur. Apakah ini sekadar aksi tunggal? Apakah ada tangan tak terlihat? Atau cuma drama tragis yang lahir dari
impuls sesaat?
Ini bukan yang pertama. Juli 2024 di Butler, Thomas Matthew Crooks, 20 tahun, menembak dari atap. Trump luka di telinga, satu orang tewas.
Dalam 12 detik,
sniper Secret Service mengakhiri pelaku. September 2024, di lapangan golf dekat Mar-a-Lago, Ryan Wesley Routh ditangkap hidup-hidup dan pada Februari 2026 divonis seumur hidup. Statistiknya konsisten: perimeter + senjata = tamat.
Mau jadi legenda dengan cara kilat? Hasilnya sering cuma jadi notifikasi singkat. Mar-a-Lago bukan taman kota. Ia lebih mirip benteng dengan algoritma refleks. Setiap orang yang mencoba menembusnya seperti menantang hukum sebab-akibat.
Dunia boleh panas, politik boleh gaduh, teori konspirasi boleh tumbuh macam jamur musim hujan. Tapi satu hal konsisten, siapa pun yang masuk perimeter bersenjata, peluang hidupnya tipis macam kertas nota.
Trump selamat lagi. Episode selesai. Rating naik. Publik geleng-geleng. Kita tinggal menunggu, apakah ini benar-benar akhir musim, atau cuma teaser untuk episode berikutnya? Dunia ini kadang terasa seperti serial tanpa tamat.
Rosadi JamaniKetua Satupena Kalbar