Berita

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto (tengah) berbincang dengan Menteri Investasi Rosan Roeslani (kiri) dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya (kanan) saat menyampaikan keterangan pers terkait perjanjian tarif resiprokal dengan AS di Washington DC, Amerika Serikat. (Foto: Istimewa)

Publika

Wajar Sekelas Seskab Teddy Merajuk

SENIN, 23 FEBRUARI 2026 | 06:22 WIB

TEGA benar Menteri Investasi Rosan Roeslani. Sudah diundang, disuruh duduk depan, tapi tak dikasih ngomong. Wajar kalau orang sekelas Seskab Teddy Indra Wijaya merajuk. 

Jadi begini. Tanggal 20 Februari 2026, di ruang konferensi pers yang lampunya terang benderang, kamera YouTube Sekretariat Presiden menyala, jas-jas pejabat berkilau seperti baru disetrika malaikat protokoler. 

Topiknya serius. Tarif resiprokal Amerika Serikat yang sukses dinegosiasi turun dari 32 persen jadi 19 persen. Angka-angka beterbangan di udara seperti rumus ekonomi yang lagi cari pangkuan.


Di panggung utama ada Airlangga Hartarto sebagai MC rasa menteri senior, lalu Rosan Roeslani ikut nimbrung menjelaskan diplomasi ekonomi. Semua tertata. Semua rapi. Semua serius.

Lalu duduklah seorang tokoh yang sebenarnya bukan figuran, Letkol (eh, sekarang Seskab) Teddy Indra Wijaya. Manusia yang biasanya jadi jantung koordinasi di balik layar kabinet Prabowo Subianto. 

Tugasnya bukan kaleng-kaleng. Ngatur jadwal presiden, mencatat rapat kabinet, memastikan mesin birokrasi berdengung halus seperti generator cadangan Istana.

Beliau duduk manis. Bawa kertas catatan tebal. Gayanya seperti kandidat pidato Nobel Perdamaian yang siap mengutip pasal-pasal sejarah. 

Tapi apa daya, mic tak pernah mampir. Nol kesempatan bicara. Nol interupsi. Nol “baik, saya tambahkan sedikit.” 

Bahkan papan nama di meja? Tidak tampak. Ini bukan sekadar tak dapat mic. Ini sudah level patung wayang golek yang lupa dipegang dalang.

Acara selesai. Tepuk tangan sopan. Kamera masih menangkap gerak-gerik. Lalu terjadilah kalimat legendaris yang kini masuk arsip budaya medsos Indonesia:
“Ngundang saya cuma buat pajangan aja?”
atau versi lain,
“Ini saya hanya jadi pajangan aja.”

Keluar langsung dari mulut beliau. Bukan rekayasa AI. Bukan deepfake. Tertangkap kamera. Boom!

Dalam hitungan menit, dunia maya meledak seperti gorengan dilempar ke minyak panas. 

Ada yang nyeletuk, “Letkol Teddy ngambek nih.” Ada meme “Seskab Mode Merajuk Level Dewa.” Ada sindiran kelas berat, “Bahkan Seskab aja merasa pajangan, apalagi rakyat biasa?” Bahkan ada yang absurd tingkat dewa, “Kabinet ini inklusif, pejabat tinggi pun boleh merajuk kayak anak TK habis rebutan mainan.”

Padahal, kalau kita tarik napas dan buka buku tata kelola pemerintahan, peran Seskab memang koordinator belakang layar. 

Dia bukan jubir utama. Dia bukan MC. Ia ibarat dirigen orkestra yang berdiri di balik cahaya, memastikan semua alat musik tidak fals. Di panggung depan? Biasanya hanya cadangan kalau menteri lupa dialog.

Tapi begitulah era digital, wak. Satu bisik-bisik bisa mengalahkan headline diplomasi ekonomi. Tarik ulur tarif 32 persen jadi 19 persen yang bahkan kemudian dibatalkan Mahkamah Agung AS (itu cerita bab lain) kalah pamor dari satu kalimat merajuk.

Ekspresi Airlangga Hartarto yang tersorot kamera pun ikut jadi korban kolateral. Wajahnya seperti sedang menghitung variabel ekonomi sambil bertanya dalam hati, “Ini kenapa jadi drama begini?”

Akhirnya konferensi pers yang harusnya jadi etalase kemenangan diplomasi malah berubah jadi serial mini episode “Seskab dan Mic yang Tak Datang.” Netizen pun bersorak. Meme banjir. Timeline jadi pasar malam.

Inilah Indonesia. Negeri yang bisa mengubah bisikan jadi badai, dan angka persen jadi figuran. Di zaman medsos, yang turun bukan cuma tarif, tapi juga konsentrasi publik. Yang viral bukan kebijakan, tapi ekspresi.

Kadang dalam politik, yang paling berbahaya bukan lawan debat, tapi kamera yang tak pernah tidur. Kinclong terus.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Enak Jadi Mulyono Bisa Nyambi Komisaris di 12 Perusahaan

Kamis, 12 Februari 2026 | 02:33

Kasihan Jokowi Tergopoh-gopoh Datangi Polresta Solo

Kamis, 12 Februari 2026 | 00:45

Rakyat Menjerit, Pajak Kendaraan di Jateng Naik hingga 60 Persen

Kamis, 12 Februari 2026 | 05:21

Jokowi Layak Digelari Lambe Turah

Senin, 16 Februari 2026 | 12:00

Dua Menteri Prabowo Saling Serang di Ruang Publik

Kamis, 12 Februari 2026 | 04:20

Cara Daftar Mudik Gratis BUMN 2026 Lengkap Beserta Syaratnya

Kamis, 12 Februari 2026 | 20:04

Roy Suryo Cs di Atas Angin terkait Kasus Ijazah Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 12:12

UPDATE

Banjir, Macet, dan Kemiskinan di Jakarta Mendesak Dituntaskan

Senin, 23 Februari 2026 | 06:07

Jokowi Memang sudah Selesai, Tapi Masih Ada Gibran dan Kaesang

Senin, 23 Februari 2026 | 05:39

Tiga Waria Positif HIV Usai Terjaring Razia di Banda Aceh

Senin, 23 Februari 2026 | 05:28

Penakluk Raksasa

Senin, 23 Februari 2026 | 05:13

Kisah Tragis Utsman bin Affan: 40 Hari Pengepungan, Satu Mushaf Berdarah

Senin, 23 Februari 2026 | 04:26

Kebangkitan PPP Dimulai dari Jabar

Senin, 23 Februari 2026 | 04:10

Prabowo Tak Beruntung terkait Tarif Trump

Senin, 23 Februari 2026 | 04:05

Jokowi Lebih Jago dari Shah Ruh Khan soal Main Drama

Senin, 23 Februari 2026 | 03:31

Tembok Ratapan Solo Jadi Potret Wajah Kekuasaan Jokowi yang Memudar

Senin, 23 Februari 2026 | 03:27

Persib Kokoh di Puncak Klasemen Usai Tekuk Persita 1-0

Senin, 23 Februari 2026 | 03:00

Selengkapnya