Berita

Srikandi Angudi Jemparing. (Foto: Dok. Jaya Suprana)

Publika

Srikandi Angudi Jemparing

MINGGU, 22 FEBRUARI 2026 | 17:28 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

SATU di antara sekian banyak lelakon wayang yang paling romantis adalah “Srikandi Angudi Jemparing” atau dalam bahasa Indonesia “Srikandi Belajar Memanah” serta dalam bahasa Inggris “Srikandi Learns Archery”.

Saya memperoleh petunjuk bahasa Jawa Kromo Inggil kelas alusan dari mahaguru pewayangan saya yang alumni ISI Yogyakarta serta pendiri Yayasan Drama Wayang Swargaloka, Sri Begawan Suryandoro Cokro Suwanto.

Di dalam perbendaharaan lelakon wayang orang, “Srikandi Angudi Jemparing” sangat ikonik terutama pada adegan Srikandi dan Arjuna bercumbu dengan alasan Srikandi sedang belajar memanah dan Arjuna sedang mengajar memanah.


Proses asyik belajar-mengajar memanah itu memberi kesempatan bagi tangan Srikandi untuk disentuh bahkan mesra dipegang Arjuna di mana kedua belah pihak tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan saling menjalin asmara tersebut.

Adegan Srikandi belajar memanah hanya ada di pewayangan yang sama sekali tidak ada di Mahabharata. Sebab di Mahabharata, Srikandi memang mahir memanah namun hermafrodit maka tidak pernah berpacaran dengan Arjuna. Sementara Srikandi di pewayangan adalah perempuan sejati yang malah kemudian sudi dimadu sebagai istri kedua Arjuna, setelah Subadra telah menjadi istri pertama Arjuna.

Drupadi juga tampil beda di Mahabharata dan pewayangan. Sementara di pewayangan Drupadi adalah istri setia Yudhistira; agak lain di Mahabharata, Drupadi adalah istri sekaligus Pandawa Lima.

Memang poliandri lazim di masa Mahabharata ditulis oleh Viyasa maka wajar jika seorang perempuan India termasuk Drupadi untuk menikah dengan banyak suami yang bersaudara kandung.

Sementara di Indonesia hadir ketimpangan genderisme di mana lelaki boleh resmi poligini sementara perempuan tidak boleh poliandri kecuali secara diam-diam demi tidak terpaksa diresmikan sebagai pernikahan.

Di masa Mahabharata ditulis, senjata api belum ditemukan maka panah berfungsi sebagai senjata perang utama manusia. Maka adalah wajar tampil para tokoh Mahabharata yang mahir memanah semisal Srikandi berjaya merobohkan Bisma Dewabrata dengan puluhan panah menancap di tubuh Bisma mirip landak.

Kemudian ada Dorna sebagai guru pemanahan Kurawa sekaligus Pandawa. Para murid Dorna yang berjaya sebagai pemanah unggul adalah Arjuna dan Karna meski Arjuna diungguli oleh Bambang Ekalaya yang belajar memanah pada patung Dorna setelah ditipu oleh Dorna untuk memotong kedua ibu jarinya agar tidak bisa mengalahkan Arjuna.

Bambang Ekalaya adalah teladan semangat belajar tanpa putus asa karena otodidak gigih belajar memanah tanpa dua ibu jari tangannya sehingga berhasil mengalahkan Arjuna sedang dimabuk asmara mengejar-ejar Dewi Anggraini yang notabene adalah permaisuri Bambang Ekalaya.

Di luar Mahabharata dan pewayangan, tampil cukup banyak tokoh yang mahir memanah semisal pahlawan nasional legendaris Swiss, William Tell yang berhasil memanah buah apel yang diletakkan di atas kepala anaknya.

Ada pula pemanah unggul di Inggris, Robin Hood yang bersama grup pemanah “The Merry Men” berontak terhadap sherif korup yang berkuasa di Notthingham. Dalam mitologi Yunani kuno, Paris dari Troya bukan cuma piawai merebut Helena sebagai permaisuri Melenaus, Raja Sparta.

Paris juga mahir memanah atas arahan Dewa Apollo sehingga berhasil menewaskan Achilles dengan memanah urat tumit Achilles yang kebal  di seluruh tubuhnya kecuali di urat tumit yang secara medis kerap disebut sebagai Tendon Achilles.

Di dalam serial komik Marvel hadir seorang anggota Avengers bernama Hawkeye yang sakti-mandraguna dalam keterampilan memanah.

Sementara komik DC menampilkan Wonder Woman yang mahir memanah kemudian bersama Aquaman, Flash, Cyborg bergabung dengan Superman dan Batman ke dalam Liga Keadilan. Konon Jengis Khan mahir memanah sambil menunggang kuda.

Di Olimpiade masa kini, pemanahan yang mereka sebut sebagai archery diangkat menjadi cabang olahraga resmi seru dipertandingkan. Bukan senjata untuk saling membunuh tetapi sebagai alat untuk saling adu kecermatan dan konsentrasi.

Di kebudayaan Jepang, kemahiran memanah alias kyudo dianggap sebagai bagian penting dari meditasi Zen.

Budayawan dan Pendiri Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI)

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

UPDATE

Menteri Ekraf: Kreativitas Tak Bisa Dihargai Nol atau Dipatok

Jumat, 03 April 2026 | 20:06

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

Harga Plastik Dalam Negeri Meroket, Ini Kronologinya

Jumat, 03 April 2026 | 19:42

Kapolda Riau Perketat Penanganan Karhutla Hadapi Ancaman Super El Nino

Jumat, 03 April 2026 | 19:18

Upacara Penghormatan UNIFIL untuk Tiga Prajurit TNI di Lebanon

Jumat, 03 April 2026 | 19:01

Labirin Informasi pada Perang Simbolik

Jumat, 03 April 2026 | 18:52

KPK Siapkan Pemeriksaan Ono Surono Usai Penggeledahan

Jumat, 03 April 2026 | 18:35

BNPB: Tidak Ada Tambahan Korban Gempa Magnitudo 7,6 Sulut dan Malut

Jumat, 03 April 2026 | 18:31

Resiliensi Bangsa: Dari Mosi Integral 1950 hingga Geopolitik Kontemporer 2026

Jumat, 03 April 2026 | 18:03

FWP Polda Metro Hibur Anak Yatim ke Wahana Bermain

Jumat, 03 April 2026 | 17:45

Selengkapnya