Berita

Pemprov Jawa Barat menyiapkan skema kompensasi bagi pengemudi angkutan lokal sebagai langkah untuk mengurangi potensi kemacetan selama arus mudik dan arus balik Lebaran 2026.(Foto: Istimewa)

Publika

Jabar dan Rakyat Kecil yang Lagi-Lagi Dikorbankan

MINGGU, 22 FEBRUARI 2026 | 05:32 WIB

LEBARAN macet. Ini sudah umum. Terjadi di hampir wilayah Indonesia yang menjadi tujuan mudik. 

Sementara, kota sepi karena ditinggalkan oleh para penghuninya. Hanya sebagian yang tinggal. Entah itu penduduk asli, pekerja yang tidak dapat cuti, atau perantau yang tidak cukup ongkos untuk mudik. 

Kota jadi tempat ratapan bagi mereka yang tidak berkesempatan mudik. Nelongso!


Setiap lebaran, umumnya para perantau mudik. Balik ke kampung halaman. Kampung tempat kelahiran. Kampung dimana banyak cerita pedesaan tentang sawah, pegunungan, keluguan, kesederhanaan hingga kemiskinan. 

Sebelum akhirnya migrasi ke kota dengan semua perubahan, pragmatisme dan segala kontaminasinya. Begitulah dunia modernitas kota dengan segala liquiditasnya (kerentanannya), kata Zygmunt Bauman, sosiolog dan filsuf Polandia abad 20.

Minimal sekali dalam setahun, para perantau itu mudik. Mereka bawa hasil keringatnya selama kerja setahun. Balik kampung untuk berbagi ampau atau membelanjakan uangnya. 

Dari sinilah perputaran ekonomi di kampung bergerak. Selain saat pemilu ketika para politisi mendadak jadi "dermawan" dengan membeli suara mereka.

Ketika lebaran, warung-warung kecil di kampung ramai pembeli. Gojek laku. Angkutan kota-desa penuh. Di desa-desa, panen raya terjadi setiap lebaran. Bagi pedagang dan penjual jasa, inilah masa panen mereka.

Saat lebaran, para pekerja kelas bawah dapat rezeki berlimpah. Biasanya, penghasilan dua-tiga minggu bisa untuk mencukupi kebutuhan mereka beberapa bulan kedepan. Berkah!

Mendadak! Di Jawa Barat, gubernurnya membuat keputusan mengagetkan. Sopir angkot, gojek dan becak, orang-orang kecil ini dilarang bekerja. Dua minggu harus libur. Seperti malaikat, Sang Gubernur memberi kompensasi. 

"Libur saja, aku kasih kompensasi".

Sekilas seperti kebijakan sangat mulia. Bahkan terlalu mulia. Suruh nganggur, lalu dikasih duit. Enak bukan?

Mari kita cermati. Pertama, larangan kerja terhadap gojek dan sopir angkot seolah menegaskan bahwa mereka adalah sumber masalah. 

Karena sumber masalah, maka pekerjaan mereka harus dihentikan. Meski bersifat sementara, tetap saja tidak bisa menghilangkan kesan bahwa para pekerja kelas bawah itu sebagai sumber masalah kemacetan.

Apakah masyarakat Jawa Barat benar-benar tidak butuh angkot dan gojek saat lebaran? Ini pertanyaan fundamental yang mesti dijawab.

Lagi pula, tidak ada aturan di negeri ini yang para pekerja kelas bawah itu langgar. Bukankah negara ini menjamin pekerjaan apa saja bagi warganya selama tidak melanggar aturan. Clear! Kenapa dilarang?

Kedua, apakah kompensasi buat mereka sebesar penghasilan yang mereka dapatkan? Dihitung pendapatan normal harian, atau pendapatan saat lebaran? Sebab, ini dua penghasilan yang berbeda.

Ketiga, Kerja bukan hanya soal uang, tapi juga soal inspirasi, eksistensi, profesi, budaya, semangat dan harapan hidup, juga kesenangan dan networking. Banyak gojek, sopir dan akang becak berubah nasib karena networking ketika bekerja.

Yang pasti, bekerja bukan hanya soal uang. Tapi, bekerja berkaitan dengan pengalaman praktis setiap individu dalam merealisasikan eksistensinya, kata Soren Kierkegaard, filsuf asal Denmark abad 19. 

Keempat, mengurai kemacetan haruskah dengan meliburkan mereka, kaum kecil? Ini kegagalan dalam rekayasa lalu lintas, lalu ambil jalan pintas dengan meliburkan pekerjaan kecil dan diberikan kompensasi. 

Sekilas memang seperti jalan keluar, tapi ini sesungguhnya menjadi cara malas mencari solusi yang produktif.

Umum yang dilakukan pemerintah, baik pusat maupun daerah, lebih suka mengambil jalan pintas dalam menyelesaikan setiap masalah. Karena jalan pintas, hasilnya ya juga sepintas saja. 

Rakyat miskin, kasih Bantuan Langsung Tunai alias BLT. Ngasihnya saat jelang pemilu. Sepintas oke. Tapi strategi ini jika dilakukan sebagai program jangka panjang, dan ini yang terjadi di Indonesia puluhan tahun, justru membuat rakyat malas dan tidak produktif. 

Kenapa pemerintah tidak mengoptimalkan pertumbuhan ekonomi, pembangunan ekonomi pedesaan yang lebih terukur, mendorong usaha manufaktur dan UMKM, meningkatkan SDM dan skill rakyat, memudahkan setiap bisnis dan investasi untuk tumbuh dan menghilangkan segala proses birokratik yang mempersulitnya.

BLT mirip dengan kebijakan Jawa Barat dalam mengurai kemacetan saat lebaran. Seperti sudah putus asa. Gagal mengurai kemacetan, gojek, angkot dan akang becak suruh libur. Praktis!

Apakah setiap lebaran nanti Angkot, gojek dan becak akan diliburkan dan dapat kompensasi?

Siap-siap jadi sopir angkot, gojek dan akang becak jika ingin kompensasi lebaran. Peluang nganggur dapat uang. 

Untuk kepala daerah yang lain, apakah anda tertarik untuk meniru cara ini?


Tony Rosyid
Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Giliran ASN dan Pejabat Bea Cukai Diperiksa KPK

Rabu, 19 Agustus 2026 | 12:56

Usulan ATM MBG Bakal Dibahas di Komisi IX DPR

Rabu, 19 Agustus 2026 | 10:40

UPDATE

8.620 Hektare Lahan Kalsel Terbakar, Pemadaman Terganjal Krisis Air

Minggu, 23 Agustus 2026 | 22:24

BRImo Taiwan Manjakan Diaspora dan PMI Kelola Keuangan

Minggu, 23 Agustus 2026 | 22:15

Temuan Bibit Sawit Bongkar Motif Karhutla Bukan Semata karena El Nino

Minggu, 23 Agustus 2026 | 21:52

ISPA dan Rabies Mulai Mengancam Ribuan Pengungsi Gempa NTT

Minggu, 23 Agustus 2026 | 21:39

Tolak Demo Berbau Provokasi di DPR, Jaga Jakarta!

Minggu, 23 Agustus 2026 | 21:23

Magang Pengurus KDKMP Replikasi Model Bisnis Berbasis Potensi Desa

Minggu, 23 Agustus 2026 | 21:12

Masa Iddah Politik Calon Ketum PBNU: Bolehkah Perkum Menambah Syarat?

Minggu, 23 Agustus 2026 | 21:06

Menuju Muktamar NU, Nahdliyin Berharap Sejarah 2015 Tak Terulang

Minggu, 23 Agustus 2026 | 20:31

Gebu Minang-Hanura Terbangkan 3,6 Ton Rendang Buat Korban Gempa NTT

Minggu, 23 Agustus 2026 | 20:28

Obligasi Sosial Berkelanjutan BRI Raih IDX Channel Anugerah ESG 2026

Minggu, 23 Agustus 2026 | 20:16

Selengkapnya