Berita

Ilustrasi Roblox. (Foto: Istimewa)

Publika

I Hate Roblox

RABU, 18 FEBRUARI 2026 | 13:01 WIB

DULU sebelum ada gawai dengan teknologinya yang serba canggih seperti saat ini, anak-anak sering memainkan permainan tradisional. Sekarang, permainan itu nyaris tidak bisa dilihat lagi. Anak-anak kini sudah beralih ke gawai. Pun dengan permainan. 

?Dan ini yang benar-benar menyesakkan batin. Dari sekian banyak aplikasi game, aplikasi yang satu ini membuat tantrum para orangtua dan anak-anak. Namanya Roblox. <>I hate Roblox. 

Mainan anak-anak berbentuk piksel di layar ponsel ini telah banyak membuat susah para orang tua, guru, dokter hingga pendakwah agama. Bagaimana tidak, Roblox telah mengambil jiwa anak-anak.  


Ya, Roblox bukan sekadar "game". Ia telah berubah menjadi pemicu stres, sumber ledakan emosi, dan perusak kedamaian rumah tangga.

?Mengapa para orangtua membenci aplikasi ini, bukan karena grafisnya yang kotak-kotak, melainkan karena cara ia memanipulasi psikologis anak. 

Roblox dirancang dengan sistem instant gratification (kepuasan instan). Setiap detiknya dirancang untuk memicu dopamin. 

Namun, ketika dopamin itu terputus karena masalah teknis seperti buffering atau internet lemot, atau ponsel low battery atau ketika dalam permainan si anak kalah, yang terjadi adalah "sakau" digital.

?Anak-anak tidak hanya kesal. Mereka mengalami tantrum hebat. Dunia seolah-olah runtuh. Yang terjadi selanjutnya bisa ditebak. 

Ketantruman yang sangat parah, membuat mereka menangis tiada henti, seperti orang kesetanan. Ponsel dibanting dan teriakan histeris membuat bulu kudu berdiri. 

Ini bukan sekadar kenakalan biasa. Parahnya, mereka kemudian mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas. Misuh-misuh. Kondisi yang tidak pernah dialami anak-anak era 90an. 

Ini adalah tanda bahwa kontrol diri mereka telah dirampas oleh algoritma yang lebih kuat dari pertahanan mental mereka yang belum matang.

?Mengapa kekalahan di Roblox terasa begitu menyakitkan bagi anak? Saya bukan ahli psikolog, tetapi yang saya lihat di sana identitas anak seperti dipertaruhkan.

?Ketika anak kalah dalam dunia Roblox, itu bukan sekadar akhir permainan, tapi kegagalan sosial.

?Ketika koneksi internet melambat, anak merasa "dikhianati" oleh alat yang seharusnya memberi mereka kesenangan. 

Dalam kondisi ini, mereka merasa sendiri dalam menyelesaikan permasalahannya. Berbeda ketika permainan tradisional dilakukan anak-anak jaman dulu. 

Ketika mereka kalah, mereka kalah dengan terhormat. Mereka belajar kalah dan menang secara beramai-ramai. Dan, kalah bagi mereka tetap menyenangkan dalam permainan. 

Sebaliknya, permainan Roblox membuat ketidakmampuan otak anak untuk memproses frustrasi yang berujung pada perilaku destruktif. 

?Aplikasi Roblox telah menciptakan ekosistem predator. Ini bentuk perundungan (bullying) terstruktur yang dilegalkan oleh sistem game. 

Dan negara sedang membiarkan anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan bahwa nilai diri mereka ditentukan oleh aset digital, bukan karakter.

?Negara harus peduli. Negara tidak boleh diam dengan tumbuh kembang anak-anak. Jangan biarkan aplikasi Roblox merusak generasi emas. Kalau bisa blokir untuk selama-lamanya. 

Memang ada yang salah dengan cara kita membiarkan teknologi mengasuh anak-anak. Kita tidak sedang melawan sebuah aplikasi, melainkan sedang berjuang menyelamatkan kesehatan mental dan stabilitas emosi generasi masa depan dari jeratan algoritma yang eksploitatif.

?Sudah saatnya kita meletakkan ponsel, menghadapi ledakan amarahnya, dan mulai membangun kembali dunia nyata yang jauh lebih sehat ketimbang sekadar simulasi kotak-kotak yang merusak.

?Saya berani menyatakan "I Hate Roblox" bukanlah bentuk ketertinggalan zaman, tetapi sebuah alarm. Saya yakin semua orangtua mengalami hal yang sama dengan anak-anak mereka. 

Di sini kita tidak sedang membenci teknologi. Yang kita benci bagaimana teknologi tersebut mengeksploitasi kerentanan emosional anak-anak. 

Ketika sebuah permainan video mulai merusak perabotan rumah dan menghancurkan ketenangan jiwa seorang anak, itu bukan lagi hiburan. Itu adalah gangguan.

?Sebagai orang tua, tugas kita bukan hanya menyediakan fasilitas, tapi juga menjadi benteng terakhir bagi kesehatan mental mereka. 

Kita harus berani melindungi otak anak-anak yang sedang "dibajak" oleh hormon stres. Alih-alih hanya membalas dengan amarah, kita perlu menarik mereka keluar dari dunia digital tersebut dan membantu mereka bernapas di dunia nyata.

?Jika negara tetap abai dan tidak bisa diajak kompromi, setidaknya kita bisa mulai dari diri kita. 

Ajak anak kembali ke permainan fisik di mana "buffering" tidak ada, dan di mana interaksi manusia jauh lebih berharga daripada sekadar skin virtual.

?Roblox mungkin memiliki algoritma yang canggih untuk mengikat perhatian anak kita, tetapi mereka tidak memiliki ikatan batin yang kita miliki. 

Mari kita rebut kembali perhatian, emosi, dan tawa anak-anak kita dari layar kotak-kotak itu. 

Karena pada akhirnya, tidak ada jumlah Roblox di dunia ini yang sebanding dengan kedamaian mental seorang anak.

Noviyanto Aji
Wartawan RMOLJatim

Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

Prabowo Tegaskan Indonesia Tidak Takut Ancaman MSCI

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:32

Buruh Usul UMP 2027 Naik 9,5 Persen, Ini Respons Menaker

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:20

Ombudsman Ungkap Titik Rawan Korupsi di Layanan Pertanahan dan Kebencanaan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:19

Kasus CSR BI Jalan di Tempat, MAKI dan ARUKKI Bersiap Ajukan Praperadilan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:12

Pembenahan MBG hingga Program 3 Juta Rumah jadi PR Besar Prabowo

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:59

Begini Jurus BI Stabilkan Rupiah Hadapi Ancaman MSCI hingga Konflik Geopolitik

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:58

Nusron Hadiri Sidang Kabinet Paripurna setelah Dua Kali Absen Pemeriksaan KPK

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:53

PJJ dan WFH Bisa Jadi Opsi Antisipasi Asap Karhutla

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:53

UU Pelindungan Ketenagakerjaan Masih Diproses Setneg, Yassierli Minta Publik Bersabar

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:50

Event Konser hingga Festival Belanja Jadi Mesin Uang Jakarta

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:48

Selengkapnya