Berita

Ilustrasi. (Foto: Dokumentasi RMOL)

Nusantara

Kebijakan Pangan Harus Disusun Proporsional dan Berbasis Ilmiah

SELASA, 17 FEBRUARI 2026 | 05:35 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Badan Gizi Nasional (BGN) bersama Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Mengoreksi Miskonsepsi tentang Sebutan Ultra Processed Food (UPF) dan Dampaknya pada Kebijakan Penyediaan Pangan Olahan dalam Menu MBG” di Yogyakarta beberapa waktu lalu.

Forum ini mempertemukan pakar gizi, ahli teknologi pangan, akademisi, pelaku usaha, serta pemangku kebijakan guna memperkuat pemahaman publik berbasis sains mengenai pangan olahan. Diskusi berlangsung di tengah berkembangnya persepsi publik yang cenderung menyamaratakan pangan ultra olahan sebagai makanan tidak sehat.

Dekan sekaligus Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Prof. Dr. Ir. Eni Harmayani menekankan pentingnya pendekatan ilmiah yang berimbang dalam melihat isu pangan olahan. 


Menurutnya, diskursus mengenai UPF tidak dapat dipandang secara hitam putih karena sistem pangan modern tidak dapat dilepaskan dari peran teknologi pengolahan.

“Kita tidak bisa memilih satu ekstrem. Kebijakan pangan harus disusun secara proporsional dan berbasis ilmiah agar tetap melindungi kesehatan masyarakat sekaligus realistis terhadap kebutuhan sistem pangan nasional,” ujar Eni dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Senin, 16 Februari 2026.

Ia menambahkan bahwa forum diskusi menjadi ruang strategis untuk menyatukan perspektif kesehatan publik, teknologi pangan, serta kebutuhan kebijakan yang kontekstual dan aplikatif bagi masyarakat.

Sementara itu, Plt. Deputi Bidang Promosi dan Kerja Sama BGN, Dr. Gunalan, menegaskan bahwa pelurusan pemahaman mengenai UPF penting agar tidak menimbulkan stigma yang dapat menghambat penyediaan pangan bergizi dalam skala nasional.

“Istilah UPF sering dipahami secara sederhana dan disamaratakan sebagai pangan tidak sehat. Padahal, yang lebih penting adalah mutu gizi, keamanan, dan kesesuaian dengan kebutuhan penerima manfaat. FGD ini menjadi ruang ilmiah untuk meluruskan persepsi sekaligus memperkuat literasi publik,” ujar Gunalan.

Dalam forum tersebut, para pakar juga menegaskan bahwa klasifikasi UPF tidak dirancang untuk menilai kualitas gizi secara langsung. Risiko kesehatan lebih dipengaruhi oleh konsumsi berlebihan, komposisi yang tidak proporsional, serta ketidaksesuaian dengan pedoman gizi seimbang.

Melalui FGD ini, BGN bersama para pemangku kepentingan diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi berbasis sains guna mendukung kebijakan pangan yang tepat, sekaligus memastikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap berfokus pada pemenuhan gizi, keamanan pangan, serta kebermanfaatan bagi anak Indonesia.


Populer

Negara Jangan Kalah dari Mafia, Copot Dirjen Bea Cukai

Selasa, 10 Februari 2026 | 20:36

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

Keppres Pengangkatan Adies Kadir Digugat ke PTUN

Rabu, 11 Februari 2026 | 19:58

Kekayaan Fadjar Donny Tjahjadi yang Kabarnya Jadi Tersangka Korupsi CPO-POME Cuma Rp 6 Miliar, Naik Sedikit dalam 5 Tahun

Selasa, 10 Februari 2026 | 18:12

Kasihan Jokowi Tergopoh-gopoh Datangi Polresta Solo

Kamis, 12 Februari 2026 | 00:45

Rakyat Menjerit, Pajak Kendaraan di Jateng Naik hingga 60 Persen

Kamis, 12 Februari 2026 | 05:21

Relawan Gigit Jari Gegara Jokowi Batal Wantimpres

Senin, 09 Februari 2026 | 02:01

UPDATE

Ini Alasan APKLI Minta Gubernur Pramono Tunda Pergub KTR

Selasa, 17 Februari 2026 | 00:05

Warga Serbu Jakarta Light Festival di Kawasan Kota Tua

Senin, 16 Februari 2026 | 23:54

DJP Perlu Kerja Ekstra Kejar Target Penerimaan Pajak 2026

Senin, 16 Februari 2026 | 23:40

Rocky Gerung Singgung Tukang Kayu jadi Tahanan hingga ‘Tut Wuri Malsuin Ijazah’

Senin, 16 Februari 2026 | 23:23

Harmoni Miniatur Indonesia jadi Kunci Produktivitas PTPN IV Palmco

Senin, 16 Februari 2026 | 22:50

Komisi IV Beri Perhatian Khusus pada Inflasi dan Penguatan UMKM

Senin, 16 Februari 2026 | 22:41

Perusahaan Swedia Tunjuk Putra Batak untuk Minta Keadilan

Senin, 16 Februari 2026 | 22:38

Kapasitas Jokowi Dinilai Gagal Memanggul Idealisme Rakyat

Senin, 16 Februari 2026 | 22:22

Pemprov-Perbakin DKI Berencana Bangun Lapangan Tembak Permanen

Senin, 16 Februari 2026 | 22:18

Pajak Pedagang Olshop Segera Berlaku, DJP Tunggu Restu Purbaya

Senin, 16 Februari 2026 | 21:52

Selengkapnya