Berita

Pengamat politik Rocky Gerung, dalam Public Lecture Series 002. (Foto: Dokumentasi PDIP)

Politik

Rocky Gerung:

Indonesia Surplus Ijazah, Banyak Lulusan S3 Jadi Ojek

SENIN, 16 FEBRUARI 2026 | 19:45 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Tradisi intelektual Yogyakarta harus tetap terjaga agar tidak terseret dalam politik pragmatis.

Demikian disampaikan pengamat politik Rocky Gerung, dalam Public Lecture Series 002 yang digelar di kawasan Embung Giwangan, Yogyakarta, Senin 16 Februari 2025.

Dalam forum tersebut, Rocky menyebut Yogyakarta sebagai ruang diskusi dan perdebatan akademik yang harus tetap dipertahankan. Ia pun mengingatkan agar Yogyakarta tidak menjadi arena kepentingan kekuasaan yang mengabaikan tradisi berpikir kritis.


“Jogja ini adalah tempat di mana orang datang untuk bertengkar secara akademis. Jangan sampai ruang ini dirampas oleh makhluk-makhluk pragmatis dan rakus yang ingin merampas hak generasi,” kata Rocky.

Selain itu, Rocky juga menyinggung kondisi pendidikan tinggi. Ia menilai saat ini terjadi ketimpangan antara gelar akademik dan kualitas nilai yang dihasilkan.

“Kita hari ini mengalami surplus ijazah, tapi defisit value. Banyak lulusan S3 akhirnya hanya jadi sopir ojek karena negara tidak mampu menyediakan ruang bagi pikiran mereka," kata Rocky.

"Kenapa? Karena struktur teknokratis kita lebih banyak dikuasai oleh para dealer (pedagang kekuasaan), bukan leader," sambungnya.

Rocky turut mengingatkan potensi creeping authoritarianism atau otoritarianisme yang merangkak naik. Menurutnya, penguatan komunitas epistemik menjadi salah satu cara menjaga nalar publik tetap rasional.

“Mem-back up negeri ini dengan ide dan pikiran dimaksudkan untuk mengembalikan nalar publik menjadi grammar of the town (bahasa sehari-hari warga). Itu pentingnya oposisi, itu pentingnya Jogja tetap kritis,” tambahnya.

Lebih jauh, Rocky juga menanggapi keresahan pelajar terkait ruang partisipasi. Menurutnya, ketika kanal formal tidak berjalan optimal, demonstrasi menjadi bentuk ekspresi yang muncul secara alamiah.

“Kalau universitas marah, kanalisasinya apa? Pasti demonstrasi. Jadi kalau pemerintah menganggap demonstrasi berbahaya, lho mereka sendiri yang menciptakan kondisi sehingga hanya demonstrasi yang bisa menjadi bentuk partisipasi generasi,” pungkas Rocky.

Populer

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Jangkau Jutaan Rakyat, Pelaksanaan Program Prabowo Harus Terus Dijaga

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:18

PT Timah Amankan Fasilitas Kredit Rp4 Triliun dari Bank Mandiri

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:10

Kadin Dukung Opsi Bahlil Setop Ekspor Gas ke Negara Tetangga

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:00

Natalius Pigai: HAM Terus Lahir dalam Relasi Sosial di Desa dan Kampung

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:45

Api Gunung Lawu Belum Padam, 500 Hektare Lahan Terbakar

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:39

OJK Salurkan Kredit Rp53 Triliun ke 2.100 Penerima dalam 3 Bulan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:29

Kabut Asap Makin Mengkhawatirkan, 333 Ribu Warga Terserang ISPA

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:08

Pengamat: Aksi Korporasi Haji Isam Akuisisi Saham BYAN Sejalan Konstitusi

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:04

KPK Dalami Keterlibatan Pejabat Kementerian PU dalam Kasus BBPJN Sumut

Kamis, 22 Oktober 2026 | 20:47

Semangat Sinergi untuk Keadilan Warnai Rangkaian Hari Bakti ke-2 Kemenko Kumham Imipas

Kamis, 22 Oktober 2026 | 20:41

Selengkapnya