Berita

Ilustrasi Imlek (Sumber: Gemini)

Nusantara

Sejarah Perayaan Imlek di Indonesia yang Jarang Diketahui

SENIN, 16 FEBRUARI 2026 | 17:14 WIB | OLEH: TIFANI

Perayaan Imlek atau Tahun Baru China 2577 Kongzili akan berlangsung pada 17 Februari 2026. Momen ini menjadi salah satu perayaan penting bagi masyarakat Tionghoa yang identik dengan tradisi berkumpul bersama keluarga, berbagi angpao, hingga menikmati berbagai hidangan khas sebagai simbol keberuntungan dan harapan baru.

Menariknya, sejarah perayaan Imlek di Indonesia tidak lepas dari perjalanan komunitas Tionghoa yang telah hadir sejak ratusan tahun lalu. Dalam perkembangannya, Imlek pernah mengalami masa kejayaan, pembatasan, hingga akhirnya kembali diakui sebagai bagian dari keragaman budaya nasional.

Lantas, bagaimana sejarah perayaan Imlek di Indonesia dari masa ke masa?


Sejarah Perayaan Imlek di Indonesia

Tahun Baru China merupakan sistem penanggalan lunar yang ditetapkan pada masa Dinasti Han di China. Kalender ini menandai awal tahun pada musim semi dan mulai dirayakan sekitar abad ke-5 Masehi sebagai bagian dari tradisi masyarakat agraris China.

Tradisi tersebut masuk ke Asia Tenggara, termasuk nusantara, melalui migrasi orang China sejak abad ke-3 Masehi. Catatan sejarah menyebutkan bahwa wilayah Asia Tenggara telah dikenal dalam naskah-naskah China kuno pada masa itu.

Migrasi tersebut membawa dampak besar terhadap perkembangan ekonomi dan sosial di Indonesia. Kehadiran komunitas Tionghoa turut memperkenalkan sistem kongsi, teknik kemaritiman, sistem moneter, hingga teknik produksi dan budidaya komoditas seperti gula, padi, tiram, dan udang.

Bersamaan dengan itu, tradisi budaya seperti perayaan Imlek ikut tumbuh dalam komunitas Tionghoa yang menetap di nusantara. Komunitas Tionghoa di Indonesia berkembang pesat pada masa penjajahan Belanda, terutama antara akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. 

Namun, pertumbuhan tersebut juga diiringi kebijakan kolonial yang membatasi pergerakan masyarakat Tionghoa. Pemerintah kolonial Belanda bahkan sempat melarang perayaan Imlek karena kekhawatiran bahwa kemeriahan perayaan dapat memicu kerusuhan antaretnis.

Situasi berubah ketika Jepang menduduki Indonesia. Pada masa pendudukan Jepang, perayaan Imlek diperbolehkan dan bahkan dijadikan hari libur resmi. Penetapan itu tercantum dalam Keputusan Osamu Seirei No. 26 tanggal 1 Agustus 1943.

Perubahan kebijakan ini menunjukkan bahwa posisi Imlek dalam ruang publik sangat dipengaruhi oleh kekuasaan politik yang sedang berkuasa.

Sejarah Perayaan Imlek di Indonesia Setelah Kemerdekaan

Setelah Indonesia merdeka, pemerintah mulai menyusun aturan terkait hari raya keagamaan. Pada masa Presiden Soekarno, Penetapan Pemerintah Nomor 2/UM/1946 mengatur hari-hari raya umat beragama.

Dalam Pasal 4 peraturan tersebut, ditetapkan empat hari raya khusus bagi masyarakat Tionghoa, termasuk Hari Raya Imlek. Lewat kebijakan itu, Hari Raya Imlek Kongzili diakui sebagai hari raya agama Tionghoa.

Pada masa ini, masyarakat Tionghoa relatif bebas mengekspresikan identitas budaya dan keagamaannya. Bahasa Mandarin dapat digunakan secara terbuka, surat kabar berbahasa Mandarin beredar, dan papan nama toko atau sekolah dengan aksara China masih terlihat di ruang publik.

Namun, pengakuan tersebut tidak berlangsung lama. Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 1953 tentang Penetapan Aturan Hari-Hari Libur membatalkan pengaturan sebelumnya. 

Sejak saat itu, Imlek tetap dirayakan, tetapi tidak lagi berstatus hari libur resmi. Perubahan paling drastis terjadi pada masa Presiden Soeharto. 

Pada 6 Desember 1967, dikeluarkan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 tentang pembatasan agama, kepercayaan, dan adat istiadat China. Melalui kebijakan tersebut, seluruh upacara keagamaan dan budaya Tionghoa hanya boleh dilakukan dalam lingkungan keluarga dan ruang tertutup. 

Perayaan Imlek tidak boleh dilakukan secara terbuka di ruang publik. Bahasa Mandarin, Hokkien, dan Hakka dilarang digunakan secara bebas. 

Simbol-simbol budaya Tionghoa dibatasi bahkan hubungan diplomatik dengan China juga dibekukan. Selama lebih dari 30 tahun, Imlek dirayakan secara tersembunyi oleh masyarakat Tionghoa.

Runtuhnya rezim Orde Baru pada 1998 menjadi titik balik sejarah perayaan Imlek di Indonesia. Presiden BJ Habibie mengeluarkan Inpres Nomor 26 Tahun 1998 yang menghentikan penggunaan istilah pribumi dan non-pribumi.

Kebijakan ini membawa angin segar bagi masyarakat Tionghoa, meski belum secara langsung mengatur soal Imlek. Perubahan signifikan terjadi pada masa Presiden KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

 Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2000, Inpres Nomor 14 Tahun 1967 resmi dicabut. Pencabutan tersebut membuka kembali ruang bagi masyarakat Tionghoa untuk mengekspresikan agama dan tradisinya di ruang publik.

Pada 2001, Imlek ditetapkan sebagai hari libur nasional fakultatif melalui Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2001. Artinya, hari libur tersebut berlaku khusus bagi masyarakat Tionghoa.

Setahun kemudian, pada era Presiden Megawati Soekarnoputri, Imlek resmi ditetapkan sebagai hari libur nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2002. Sejak saat itu, perayaan Imlek dapat dilakukan secara terbuka dan menjadi bagian dari kalender nasional Indonesia.


Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

Praperadilan Dokter Tifa Ditolak, Ini Pertimbangan Hakim

Jumat, 21 Agustus 2026 | 10:25

UPDATE

8.620 Hektare Lahan Kalsel Terbakar, Pemadaman Terganjal Krisis Air

Minggu, 23 Agustus 2026 | 22:24

BRImo Taiwan Manjakan Diaspora dan PMI Kelola Keuangan

Minggu, 23 Agustus 2026 | 22:15

Temuan Bibit Sawit Bongkar Motif Karhutla Bukan Semata karena El Nino

Minggu, 23 Agustus 2026 | 21:52

ISPA dan Rabies Mulai Mengancam Ribuan Pengungsi Gempa NTT

Minggu, 23 Agustus 2026 | 21:39

Tolak Demo Berbau Provokasi di DPR, Jaga Jakarta!

Minggu, 23 Agustus 2026 | 21:23

Magang Pengurus KDKMP Replikasi Model Bisnis Berbasis Potensi Desa

Minggu, 23 Agustus 2026 | 21:12

Masa Iddah Politik Calon Ketum PBNU: Bolehkah Perkum Menambah Syarat?

Minggu, 23 Agustus 2026 | 21:06

Menuju Muktamar NU, Nahdliyin Berharap Sejarah 2015 Tak Terulang

Minggu, 23 Agustus 2026 | 20:31

Gebu Minang-Hanura Terbangkan 3,6 Ton Rendang Buat Korban Gempa NTT

Minggu, 23 Agustus 2026 | 20:28

Obligasi Sosial Berkelanjutan BRI Raih IDX Channel Anugerah ESG 2026

Minggu, 23 Agustus 2026 | 20:16

Selengkapnya