Berita

Bendera Kamboja. (Foto: Istimewa)

Publika

Kamboja dan Piala Dunia Penipuan

SENIN, 16 FEBRUARI 2026 | 12:54 WIB

APA yang terbayang di benak kalian bila dengar Kamboja? Negeri miskin, jauh terbelakang dari negeri ini. 

Itu dulu. Sekarang negeri yang dipimpin Hun Maret itu justru menjadi destinasi kerja warga kita. Ada ribuan warga kita menggantungkan nasib di sana. 

Tak peduli Kamboja surganya scam dunia, negeri penipu, tetap tak menyurutkan warga ingin menjajal hidup dengan apa pun risikona.


Mari kita buka lembar paling gelap sekaligus paling absurd dari industri digital abad ini. Ini bukan sekadar cerita “kerja luar negeri gagal”. Ini opera kriminal global dengan latar apartemen mewah. Server berdengung 24 jam, dan pagar kawat berduri setinggi ambisi manusia. 

Kamboja yang di brosur lowongan kerja tampak seperti surga karier, berubah menjadi episentrum scam dunia. Ribuan orang tetap berangkat, seolah berita duka hanyalah gangguan sinyal.

Iklan-iklannya manis seperti janji kampanye.“Admin IT Kamboja! Gaji Rp7-15 juta! Bonus 15%! Kerja 9 jam! Makan 3 kali! Akomodasi mewah! Tiket gratis!” Timeline penuh. Logika kosong. 

Tahun 2020, WNI di Kamboja tercatat 2.330 orang. Tahun 2024? Meledak jadi 19.365. Kedatangan sepanjang 2024 mencapai 166.795. Tahun 2025-2026, arus tetap deras. 

Bahkan pada Januari-15 Februari 2026 saja, KBRI mencatat 4.150 WNI melapor. Dalam empat hari (16-19 Januari) ada 911 laporan. Lalu 1.440 (20 Januari), 1.726 (21 Januari), 2.277 (24 Januari), 2.493 (26 Januari), 3.100+ awal Februari, hingga 4.150 per 15 Februari. 

Sebanyak 225 pulang mandiri sejak 30 Januari, dan 743 dijadwalkan pulang 15 Februari-4 Maret. Angka-angka ini bukan statistik dingin. Ini manusia dengan ibu yang menunggu di beranda.

Mayoritas dari 3.595 yang sudah diasesmen tak terindikasi TPPO. Artinya banyak yang secara formal dianggap “sukarela”. Tapi realitasnya tidak sesederhana label. Ini campuran antara rekrutmen palsu (trafficking) dan keberangkatan sadar risiko. 

Ada yang tertipu, ada yang nekat, ada yang tak punya pilihan ekonomi. Semua masuk mesin raksasa bernama industri scam global.

Karena ini bukan hanya soal Indonesia. Sindikat di Kamboja memang mengumpulkan ahli IT dan hacker dari seluruh dunia. 

Mayoritas dari Cina, sebagai bos dan operator utama, tapi juga Indonesia (diperkirakan 3.000-5.000 WNI terlibat pada 2026), Vietnam, India, Korea Selatan, Uganda, Pakistan, Bangladesh, bahkan Eropa dan Amerika Latin. Korea Selatan sampai mengekstradisi 73 warganya untuk diadili atas kasus scam. 

Uganda merepatriasi 500 warganya. Ini Piala Dunia penipuan, dengan tim lintas benua dan wasit yang sering terlambat datang.

Skalanya mencengangkan. PBB menyebut lebih dari 100.000 pekerja berada di compounds Kamboja. Total 2020-2025 tercatat 7.027 kasus scam global, 4.300 di Kamboja. 

Kerugian global miliaran dolar. Ada dugaan aliran pencucian uang hingga 4 miliar dolar lewat Huione Group yang dikaitkan jaringan kriminal lintas negara. 

Tahun 2026 dilakukan crackdown besar-besaran. Nama seperti Chen Zhi mencuat. Razia di Svay Rieng, Mondulkiri, Prey Veng. Ribuan kabur bawa koper, CPU, bahkan hewan peliharaan. Adegan seperti film laga, tapi ini bukan Netflix, ini berita.

Di balik angka dan geopolitik, ada tragedi yang tak bisa ditertawakan. Argo Prasetyo (25) dari Langkat meninggal 30 September 2025, jenazahnya tertahan 46 hari sebelum dipulangkan November. 

Ihwan Sahab (28) dan Rizal Sampurna tewas awal 2025. Azwar jatuh dari gedung Juni 2025. Dua WNI lain meninggal akibat pecah pembuluh darah otak atau dugaan pemukulan. 

Amnesty mencatat kesaksian kematian akibat penyiksaan, kurang obat, bunuh diri, bahkan upaya kabur yang berujung maut. Ini bukan sekadar risiko kerja. Ini medan perang tanpa seragam.

Kita hidup di zaman ketika anak muda belajar coding untuk masa depan cerah, tapi sebagian berakhir jadi operator love scam yang menipu sesama anak bangsa. Korban dan pelaku bercampur dalam satu tubuh. 

OJK menyebut sebagian bukan korban, melainkan pelaku. Netizen berdebat. Moralitas jadi abu-abu. Sementara itu, uang miliaran dolar berputar seperti galaksi, elite lokal, sindikat internasional, perekrut kampung, semua seperti roda gigi mesin raksasa.

Konspirasi atau bukan, satu hal jela, industri ini terlalu terstruktur untuk sekadar kebetulan. Rekrutmen terus berjalan meski larangan sudah ada sejak 2025. 

Iklan tetap berseliweran. Permintaan global terhadap scam digital tetap tinggi. Selama mimpi instan lebih menggoda dari proses panjang, mesin itu akan terus berputar.

So, kalau nuan melihat iklan “Kerja Kamboja Gaji Fantastis”, ingatlah 2.330 yang jadi 19.365. Ingat 166.795 kedatangan. Ingat 4.150 laporan dalam hitungan minggu. 

Ingat 3.000-5.000 WNI yang diduga terlibat di 2026 di tengah jaringan 100.000+ pekerja lintas negara. Ini bukan sekadar peluang kerja. Ini arena gladiator digital global.

Statistik selalu butuh angka baru. Jangan sampai nama sampeyan yang melengkapi grafik berikutnya.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Negara Jangan Kalah dari Mafia, Copot Dirjen Bea Cukai

Selasa, 10 Februari 2026 | 20:36

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

Keppres Pengangkatan Adies Kadir Digugat ke PTUN

Rabu, 11 Februari 2026 | 19:58

Kekayaan Fadjar Donny Tjahjadi yang Kabarnya Jadi Tersangka Korupsi CPO-POME Cuma Rp 6 Miliar, Naik Sedikit dalam 5 Tahun

Selasa, 10 Februari 2026 | 18:12

Kasihan Jokowi Tergopoh-gopoh Datangi Polresta Solo

Kamis, 12 Februari 2026 | 00:45

Rakyat Menjerit, Pajak Kendaraan di Jateng Naik hingga 60 Persen

Kamis, 12 Februari 2026 | 05:21

Relawan Gigit Jari Gegara Jokowi Batal Wantimpres

Senin, 09 Februari 2026 | 02:01

UPDATE

Menteri PPPA Teladani Nilai-Nilai Rahmi Hatta dalam Pemberdayaan Perempuan

Senin, 16 Februari 2026 | 14:10

Kemenkeu Harus Periksa Etik Mulyono

Senin, 16 Februari 2026 | 14:07

Taliban Siap Bantu Iran Jika Diserang AS

Senin, 16 Februari 2026 | 14:00

Pendukung Jokowi dan Putusan MK 90/2023

Senin, 16 Februari 2026 | 13:57

Kota London Nyalakan 30 Ribu Lampu Hias Sambut Ramadan

Senin, 16 Februari 2026 | 13:51

Israel Bakal Daftarkan Tepi Barat Jadi Milik Negara, Palestina Sebut Eskalasi Serius

Senin, 16 Februari 2026 | 13:43

Perjalanan KA Memutar Imbas Rel Kebanjiran di Grobogan

Senin, 16 Februari 2026 | 13:41

Purbaya atau Teddy Indra Wijaya Tak Otomatis Gantikan Gibran pada 2029

Senin, 16 Februari 2026 | 13:30

Investor Makin Hati-hati, Harga Bitcoin Berpotensi Makin Anjlok

Senin, 16 Februari 2026 | 13:28

KA Putri Deli Seruduk Minibus, Dua Bocah Meninggal

Senin, 16 Februari 2026 | 13:22

Selengkapnya