Wakil Kepala BGN Sony Sonjaya. (Foto: Humas BGN)
Badan Gizi Nasional (BGN) kembali menegaskan bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bertujuan memberikan asupan gizi kepada kelompok rentan, yakni balita, ibu hamil, dan ibu menyusui sebagai prioritas utama sasaran program sebelum menyasar peserta didik.
Penegasan ini dinilai penting karena masih terdapat perbedaan pemahaman di lapangan. Pada tahap awal pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), terdapat mitra yang langsung menjalin kerja sama dengan sekolah.
Padahal, ketika dapur SPPG baru dibangun, sasaran pertama yang harus dipastikan adalah kelompok 3B.
“Harus saya tekankan di sini karena ada perbedaan pemahaman. Pada saat SPPG baru dibangun, bahkan ada mitra yang aktif langsung membuat kerja sama dengan sekolah. Seharusnya, ketika dapur baru dibangun oleh mitra, yang pertama dicari adalah kelompok rentan ini (balita, ibu hamil, dan ibu menyusui). Ini yang diutamakan,” tegas Wakil Kepala BGN Sony Sonjaya saat memberikan pengarahan kepada KaSPPG, mitra, dan yayasan dalam Rapat Konsolidasi bersama Kasatpel, Mitra, dan Yayasan di Lampung, dikutip Minggu, 15 Februari 2026.
Ia juga mengungkapkan bahwa Program MBG memiliki keunggulan dibandingkan praktik di banyak negara lain.
“Lebih dari 77 negara telah melaksanakan school meal atau makan gratis di sekolah. Indonesia bukan sekadar school meal, tetapi school meal plus karena memikirkan yang 3B,” ungkapnya.
Bahkan, Indonesia menjadi salah satu negara yang menghadirkan inovasi berupa pengantaran makanan bergizi ke rumah ibu hamil dan ibu menyusui melalui dukungan kader posyandu. Hal ini didasarkan pada pentingnya 1.000 hari pertama kehidupan, mengingat Program MBG bukan sekadar program pemberian makanan, melainkan investasi jangka panjang untuk menyiapkan Indonesia Emas 2045.
Sony juga menyampaikan bahwa melalui program ini terjadi perubahan pola pikir masyarakat. Anak-anak di seluruh Indonesia, dari Aceh hingga Papua, mulai memahami bahwa makanan bergizi harus mengandung unsur lengkap, yakni karbohidrat, protein, serat, dan vitamin.
“Mindset Indonesia berubah. Yang tadinya tidak memerhatikan apa saja unsurnya, sekarang anak-anak sudah mulai melihat, dari Aceh sampai Papua, dari desa sampai metropolitan, bahwa makan itu isinya empat unsur: karbohidrat, protein, serat, dan vitamin,” pungkasnya.