Berita

Ilustrasi (RMOL/Reni Erina)

Bisnis

Harga Minyak Masih Tinggi Dipicu Gejolak Hubungan AS-Iran

KAMIS, 12 FEBRUARI 2026 | 09:59 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Harga minyak dunia menguat pada Kamis pagi, 12 Februari 2026, seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap memanasnya hubungan antara Amerika Serikat dan Iran.

Dikutip dari Reuters, harga minyak mentah Brent naik 34 sen atau 0,49 persen menjadi 69,74 Dolar AS per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 37 sen atau 0,57 persen ke level 65 Dolar AS per barel. 

Kenaikan ini melanjutkan penguatan sehari sebelumnya. Pada Rabu, Brent naik 0,87 persen dan WTI melonjak lebih dari 1 persen. Sentimen pasar didorong oleh ketegangan geopolitik AS-Iran, meski data menunjukkan persediaan minyak AS justru meningkat.


Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan belum ada kesepakatan “final” terkait langkah menghadapi Iran setelah bertemu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Namun, ia menegaskan dialog dengan Teheran tetap berlanjut. Bahkan, ia menyebut sedang mempertimbangkan pengiriman kapal induk kedua ke Timur Tengah jika negosiasi tidak membuahkan hasil.

Pekan lalu, diplomat AS dan Iran menggelar pembicaraan tidak langsung di Oman. Hingga kini, waktu dan lokasi perundingan berikutnya masih belum diumumkan.

Menurut analis IG Tony Sycamore, harga WTI berpotensi menembus kisaran 65-66 Dolar AS jika konflik di Timur Tengah semakin memanas. Sebaliknya, jika ketegangan mereda, harga bisa kembali terkoreksi ke area 60-61 Dolar AS akibat aksi ambil untung.

Dari sisi ekonomi, data menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja AS pada Januari meningkat di luar perkiraan, dengan tingkat pengangguran turun menjadi 4,3 persen. Kondisi ini memberi sinyal ekonomi AS masih kuat dan turut menopang prospek permintaan minyak.

“Ketahanan ekonomi AS ikut mendukung ekspektasi permintaan minyak,” ujar Mingyu Gao, kepala peneliti energi dan kimia di China Futures.

Gao menilai harga minyak masih cenderung bergerak naik, didukung situasi AS–Iran, pengetatan sanksi terhadap Rusia, serta harapan penurunan ekspor minyak dari sejumlah negara.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

Suap ke Pejabat ATR/BPN Berawal PT Summarecon Agung Tbk Caplok Lahan Warga

Selasa, 29 September 2026 | 14:21

Prabowo Panggil Mendikti Saintek hingga Kepala BNN, Bahas Pengentasan Narkoba

Selasa, 29 September 2026 | 14:18

BI Ungkap Biang Kerok Rupiah Jeblok ke Rp18.000 per Dolar AS

Selasa, 29 September 2026 | 14:11

Pimpinan DPR Setuju Komisi XIII Periksa Lapas Cibinong

Selasa, 29 September 2026 | 14:00

Tangis Mahathir Mohamad Pecah Saat Mengantar Istri ke Peristirahatan Terakhir

Selasa, 29 September 2026 | 13:52

Prabowo-Megawati Bakal Bertemu Lagi, Dasco: Nasi Gorengnya Belum Keluar

Selasa, 29 September 2026 | 13:51

Sistem Pemungutan Pajak Digital Luar Negeri sudah Beroperasi

Selasa, 29 September 2026 | 13:48

Bitcoin Masih Stabil Meski Harga Minyak Naik Tajam

Selasa, 29 September 2026 | 13:45

Pekan Ini DPR Bertemu Parpol Non-Parlemen Bahas RUU Pemilu

Selasa, 29 September 2026 | 13:36

KRI Sriwijaya-100 Bakal Dimodifikasi Dukung Penanganan Bencana

Selasa, 29 September 2026 | 13:36

Selengkapnya