Berita

Kolase Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin. (Foto: Kolase RMOL)

Publika

Narasi "SBY Jilid II" Benturkan Prabowo dan Sjafrie, Siapa yang Diuntungkan?

SELASA, 10 FEBRUARI 2026 | 22:59 WIB

NARASI yang mencoba mengaitkan munculnya nama Sjafrie Sjamsoeddin dalam survei bursa calon presiden 2029 dengan potensi pengkhianatan ala "SBY Jilid II" patut diduga sebagai upaya adu domba. 

Sebab, fakta menunjukkan bahwa kemunculan nama Menhan Sjafrie berangkat dari hasil survei dan persepsi publik, bukan deklarasi politik, apalagi manuver terbuka untuk menantang Presiden Prabowo Subianto.

Namun narasi yang dibangun justru menggeser fokus dari dinamika demokrasi menuju spekulasi konflik internal. Ini bukan sekadar analisis politik, melainkan framing yang berpotensi menciptakan kesan bahwa lingkar kekuasaan sedang retak, meskipun tidak ada peristiwa politik nyata menunjukkan hal tersebut.


Justru yang patut dipertanyakan adalah siapa yang diuntungkan dari narasi konflik tersebut?

Ketika publik diarahkan untuk melihat hubungan presiden dan menterinya dalam kacamata kecurigaan, yang terjadi bukan penguatan pemerintahan, melainkan pembelahan persepsi.

Elite politik didorong saling curiga, sementara publik disuguhi drama internal yang belum tentu ada. Politik adu domba bekerja secara halus. Cukup dengan menanamkan kemungkinan konflik, maka konflik itu perlahan hidup dalam imajinasi publik.

Perbandingan dengan dinamika Pilpres 2004 juga problematis. Situasi politik, konfigurasi kekuasaan, dan konteks kepemimpinan hari ini sangat berbeda. Mengulang analogi sejarah tanpa kesamaan kondisi justru berfungsi sebagai alat psikologis untuk menanamkan ancaman, bukan untuk menjelaskan realitas.

Politik Indonesia tidak selalu berjalan dalam pola pengulangan sejarah, dan memaksakan analogi justru mempersempit cara publik membaca dinamika kekuasaan.

Lebih jauh, narasi yang menyebut keterlibatan seorang menteri dalam isu lintas sektor sebagai indikasi ambisi politik juga menyederhanakan kerja pemerintahan modern.

Dalam praktiknya, koordinasi antarsektor adalah hal lumrah, terutama dalam isu strategis seperti pertahanan dan ekonomi yang memang saling terkait. Mengubah koordinasi menjadi tanda manuver politik hanya memperkuat asumsi konflik yang belum tentu nyata.

Yang perlu disadari publik adalah bahwa demokrasi tidak selalu berarti pertarungan internal. Tidak setiap nama yang muncul dalam survei adalah ancaman, dan tidak setiap analisis politik bebas dari kepentingan framing.

Ketika isu suksesi 2029 bahkan belum memasuki fase nyata, membangun narasi persaingan di dalam pemerintahan justru berpotensi melemahkan stabilitas yang sedang berjalan.

Dalam konteks ini, yang lebih terlihat bukanlah pertarungan elite, melainkan upaya membentuk persepsi bahwa pertarungan itu sudah dimulai.

Dan dalam politik, persepsi yang sengaja dibenturkan sering kali lebih berbahaya daripada konflik itu sendiri.

Hamdi Putra
Forum Sipil Bersuara (Forsiber)

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

UPDATE

Mantan Menpora Dito Ariotedjo Hadir Bersama Habib Jindan di Safari Sholawat Lombok

Senin, 12 Oktober 2026 | 22:08

PLN Siapkan Integrasi EBT PLTP Wayang Windu Unit 3 ke Sistem Kelistrikan Jabar

Senin, 12 Oktober 2026 | 21:54

Gaduh Dugaan Aturan Selundupan, Doli Sentil Hasyim: Jabatan Komisaris Hadiah dari Siapa?

Senin, 12 Oktober 2026 | 21:44

Sertijab Menlu, Arrmanatha Tegaskan Arah Polugri Indonesia Tidak Berubah

Senin, 12 Oktober 2026 | 21:28

Kades Ciangsana Bakal Mediasi Polemik Bangunan 480 Meter Persegi di Coatesville

Senin, 12 Oktober 2026 | 21:07

Bank Jakarta dan PAM Jaya akan Melantai di Bursa, Ini Respons Senator Fahira

Senin, 12 Oktober 2026 | 20:37

Berat Langkah IHSG Kembali ke 9.000, Saham Konglo Tak Akan Bangkit?

Senin, 12 Oktober 2026 | 20:28

Danantara Diandalkan Pacu Pertumbuhan Ekonomi 7 Persen

Senin, 12 Oktober 2026 | 20:22

AMDK dan Komoditas Mamin Harus Dikecualikan dalam Pelarangan Truk Sumbu 3

Senin, 12 Oktober 2026 | 20:21

Komisi II Buka Peluang RDP Bahas Putusan MK pada Gibran

Senin, 12 Oktober 2026 | 20:02

Selengkapnya