Berita

Logo PDIP. (Foto: Dokumentasi RMOL)

Politik

Kritisi Board of Peace

PDIP Ingatkan Ajaran Politik Luar Negeri Bung Karno

SABTU, 07 FEBRUARI 2026 | 01:41 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menegaskan bahwa politik luar negeri Indonesia berlandaskan prinsip bebas aktif dengan pijakan ideologis Pancasila. Hal itu sebagai respons terhadap keputusan Indonesia bergabung dalam Board of Peace.

“Ya tentu saja politik luar negeri kita kan bebas aktif. Kita punya Pancasila sebagai jawaban atas sistem internasional yang anarkis,” kata Hasto menjawab pertanyaan wartawan di GBK, Senayan, Jakarta, Jumat, 6 Februari 2026.

Menurut dia, Indonesia seharusnya digerakkan oleh prinsip kemanusiaan, keadilan, serta demokratisasi dalam sistem Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), termasuk perjuangan menghapus hak veto yang dinilainya menjadi penghambat utama penyelesaian konflik global, khususnya di Timur Tengah.


Ia juga mempertanyakan kredibilitas dan moral kepemimpinan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dengan menyinggung berbagai intervensi militer dan politik luar negeri AS.

“Kita melihat aksi terhadap Irak yang dilakukan sebelumnya, kemudian berbagai persoalan dengan mengatasnamakan perang terhadap terorisme di Suriah, kemudian berbagai persoalan-persoalan intervensi kedaulatan suatu negara seperti Venezuela itu tidak terlepas dari posisi superpower dari Amerika Serikat,” ungkapnya.

Sebagai bangsa merdeka yang menentang segala bentuk penjajahan, Hasto menilai Indonesia perlu bersikap kritis terhadap kepemimpinan global semacam itu.

“Sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat dan menentang berbagai bentuk penjajahan, kita harus mempertanyakan kredibilitas bahkan moral dari Presiden Donald Trump tersebut,” tegasnya.

Hasto kemudian membandingkan kondisi saat ini dengan pendekatan politik luar negeri Presiden pertama RI, Soekarno. Ia menilai, jika Bung Karno masih hidup, Indonesia tidak akan mengambil langkah seperti bergabung dalam Board of Peace.

“Sekiranya Bung Karno masih ada, maka tidak seperti ini. Yang dilakukan oleh Bung Karno adalah yang pertama kita gelorakan spirit Asia Afrika, bahkan mengadakan istilahnya Bu Mega Konferensi Asia Afrika 2.0. Kemudian menggalang kembali Gerakan Non-Blok. Presiden kemudian menetapkan Special Envoy untuk melakukan pendekatan-pendekatan di antara negara-negara yang tidak terlibat konflik di Timur Tengah itu sebagai skala prioritas yang pertama,” jelas dia.

Hasto lantas menjelaskan, pendekatan Bung Karno dimulai dengan menggalang negara-negara Asia dan Afrika, kemudian Amerika Latin, sebelum melibatkan pihak-pihak yang berkonflik seperti Palestina dan Israel di bawah kepemimpinan Indonesia.

“Jadi prakarsa itu harus diambil oleh Indonesia,” tegasnya lagi.

Masih kata Hasto, model diplomasi ala Bung Karno sejatinya bertumpu pada penguatan multilateralisme melalui PBB, reformasi serta penghapusan hak veto agar semua negara setara.

“Itu kalau menggunakan pemikiran-pemikiran geopolitik dari Bung Karno,” tuturnya.

Menanggapi pertanyaan apakah Indonesia sebaiknya keluar dari Board of Peace, Hasto mengatakan PDIP masih melakukan kajian mendalam.

“Ya tentu saja kami melakukan kajian ya secara mendalam, isi dari Board of Peace kami pelajari secara mendalam. Kemudian juga resolusi konflik tanpa melibatkan Palestina itu juga akan sia-sia,” ungkapnya lagi.

Hasto menegaskan, konflik Palestina-Israel bisa didorong untuk diselesaikan melalui dialog langsung dengan kepemimpinan Indonesia, dengan dukungan negara-negara Asia, Afrika, dan Amerika Latin.

“Itu kalau saya menggunakan teori dari pemikiran geopolitik Soekarno,” tandas Hasto.


Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

Ketua KPK Bakal Babak Belur Gara-gara Nusron

Senin, 26 Oktober 2026 | 13:02

Hak Angket Ijazah Gibran Sudah Masuk Angin

Senin, 26 Oktober 2026 | 10:04

UPDATE

AMMN Cetak Laba Bersih Rp15,9 Triliun hingga September 2026

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 06:24

Hasto Ingatkan Kader PDIP Tak Boleh Takut Bela Rakyat

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 06:01

Kapolres Jakbar Obrak-abrik Kampung Boncos, Tiga Orang Dicokok

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 05:16

Respons Ijazah Gibran, PDIP: Tidak Ada Kebohongan yang Abadi

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 05:01

Fahira Idris Apresiasi Kepastian Ujian Ulang Siswa

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 04:36

Prajurit Marinir Perbaiki Jembatan di Distrik Aradide

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 04:11

Diduga Terjerat Kasus Korupsi, AKBP Edy Songkel Dicopot

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 04:00

Prabowo Didorong Percepat Reformasi Energi Nasional

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 03:31

Komunitas Pengawas WNA Desak Dirjen Pajak Telaah Dumas PT BCI

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 03:14

Jogja Cultural Wellness Festival 2026 Usung Wisata Kebugaran

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 03:00

Selengkapnya