Berita

Ilustrasi. (Foto: Republika)

Publika

Mungkinkah Berhaji Pakai Kapal?

RABU, 04 FEBRUARI 2026 | 06:20 WIB

PELAKSANAAN ibadah haji 2026 terus menjadi sorotan publik di tengah masih banyaknya permasalahan yang dihadapi. Mulai dari panjangnya antrean, pelayanan jamaah hingga masalah moda transportasi yang kerap menimbulkan biaya tinggi. 
 
Sudah bukan rahasia umum jika pesawat terbang yang menjadi moda satu-satunya dalam pelaksanaan haji menyedot tingginya pembiayaan. Biaya tinggi ini sangat sulit dikurangi, terlebih kapasitas pesawat hanya terisi penuh saat berangkat menuju Makkah, namun hampir dipastikan kosong saat balik ke tanah air untuk kembali menjemput keberangkatan kloter jamaah berikutnya. Hal yang sama juga terjadi saat momen kepulangan.
 
Saat ini saja, pelayanan transportasi jamaah haji ke tanah suci harus melibatkan tiga maskapai besar, yaitu Garuda Indonesia, Saudia, dan Lion Air. Ketersediaan maskapai yang siap mengangkut, siap dengan standar halal, siap dengan awak yang mampu menyesuaikan diri dengan budaya Indonesia, sedikit sulit diperoleh.
 

 
Untuk itulah, pemerintah harus memikirkan terobosan baru sesegera mungkin. Mengingat potensi penambahan kuota haji secara signifikan kita sangatlah besar terkabul. Melihat Visi Arab Saudi 2030, antrean masa tunggu yang harus segera dipangkas, serta tanggungan biaya haji yang juga berpotensi tiba-tiba meningkat karena tergantung kurs valuta asing, perlu hadirnya terobosan dalam waktu dekat.

Wacana Berhaji Pakai Kapal
 
Salah satu terobosan yang bisa dipertimbangkan pemerintah ialah pemberangkatan jamaah kembali menggunakan kapal laut penumpang atau kalau perlu kapal pesiar. Kita sebut saja Haji Cruise atau mungkin Haji Maritim. Konsep pemberangkatan jamaah haji yang ini sangat sesuai untuk bangsa yang pernah bercita-cita menjadi “Poros Maritim Dunia”.
 
Ada banyak manfaat yang bisa dipetik bila moda ini kembali dijalankan pemerintah. Mulai kapasitas pemberangkatan yang bisa sangat besar, keleluasan waktu berangkat yang fleksibel, dan yang paling penting ialah potensi menekan Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) sampai titik terendah, di mana salah satu komponen terbesarnya ialah transportasi menuju dan kembali dari tanah suci. 

Meski bukan perbandingan yang setara, salah satu alasan logis yang bisa mulai dikaji ialah dengan meninjau tarif distribusi barang dunia saat menggunakan kapal laut dibanding menggunakan pesawat kargo. Tetapi sekali lagi ini bukan perbandingan yang setara, namun layak untuk dipertimbangkan menjadi kajian.
 
Sebagai negara kepulauan, dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia, angkutan kapal laut bukanlah moda transportasi yang asing bagi sebagian besar masyarakat yang beberapa wilayah perairannya menjadi jalur utama pelayaran dunia. Bahkan, beberapa puluh tahun yang lalu, bangsa ini masih berlayar untuk berhaji.
 
Dari sisi keamanan, moda Haji Maritim ini seharusnya lebih siap mengatasi ancaman terorisme. Seperti musim haji 2025 lau, saat kondisi Timur Tengah mulai memanas, terjadi dua kali ancaman ledakan bom yang menyasar dua pesawat Saudia pembawa pulang jamaah haji kita. Dengan berbagai keterbatasan yang ada pada moda jalur udara ini, sangat sulit bagi kita untuk melakukan tidak preventif di awal.
 
Kondisi sebaliknya justru ada pada moda jalur laut. Kita sangat mungkin menempatkan banyak personel TNI  dan Polri di atas kapal. Angkatan laut kita sudah barang tentu bisa melakukan pengawalan sampai tahap tertentu yang mungkin dijalankan. Bukan berarti jalur laut minim ancaman terorisme, tetapi setidaknya bila ancaman tersebut terjadi di udara, tentulah sebisa dan sesegera mungkin pilot melakukan pendaratan darurat, yang  belum tentu ada bandara yang dekat serta aman untuk hal ini.
 
Kita mungkin masih ingat salah satu dari dua pesawat Malaysia Airlines yang terkena musibah, yaitu insiden pesawat MH17 yang disinyalir tertembak rudal akibat salah identifikasi pesawat malang itu. Kondisi ini pun sejatinya juga berpotensi terjadi pada kita. Minimal terkena ancaman-ancaman yang terjadi pada musim haji lalu. Kondisi jalur penerbangan kita ke tanah suci yang melalui wilayah konflik Timur Tengah saat ini, sedikit banyak membuat tentu harus sebisa mungkin menghindarinya. 

Terbukti dengan memanasnya konflik saat masa kepulangan haji tahun lalu, terjadi dua ancaman yang cukup membuat geger negeri kita. Imbasnya, pesawat-pesawat pengakut jamaah haji kita harus mencari jalur terbang lain yang menambah waktu penerbangan. Di masa mendatang, bila situasi belum juga mereda, pihak maskapai pastilah menghitung ulang biaya pengangkutan jamaah yang sekali lagi akan menambah beban BPIH kita.
 
Saudi sendiri di Timur Tengah bukanlah negara tidak memiliki musuh. Meski saat ini mengemban amanah sebagai penjaga dua kota suci Umat Islam, perangai negara kaya minyak ini yang seringkali berkonflik dengan negara di sekitarnya terasa cukup mengkhawatirkan. Bukan tanpa alasan, tetapi sebagian angkutan haji kita menggunakan maskapai berbendera negara tersebut. Efek domino invasi Amerika Serikat (AS) terhadap Venezuela, yang dilanjutkan dengan ancaman aneksasi terhadap Greenland, serta dengan semakin panasnya konflik dengan Iran, tentu juga harus menjadi pertimbangan keamanan udara jamaah haji kita.

Potensi Haji Maritim
 
Dengan melihat kondisi sekarang, serta melihat sejarah Arab Spring, risiko konflik makin memanas, meluas, dan berimbas pada lalu lintas udara perjalanan haji sangat mungkin terganggu. Meski di tanah suci sendiri, selama ini relatif aman.
 
Di sisi lain, kepentingan maupun kesenangan personal jamaah juga bisa dihadirkan lebih maksimal dengan moda Haji Maritim ini. Seperti kita tahu, salah satu kesenangan sekaligus beban berat jamaah haji saat pulang ke tanah air ialah terkait oleh-oleh atau buah tangan yang ingin semaksimal mungkin dipenuhi oleh para jamaah untuk keluarga maupun kerabat yang dicintainya. 

Dengan terbatasnya kapasitas bagasi serta pembatasan jenis barang yang boleh diangkut ke dalam pesawat, membuat jamaah kita sering merasa kecewa karena berat kopernya sudah melebihi ambang batas maksimal bagasi penumpang. Salah yang satu jadi masalah ialah “kenekatan” jamaah membawa Air Zam-zam ke dalam pesawat yang pada akhirnya malah terkena razia dan cukup merepotkan banyak orang bila harus membongkar ulang koper saat di bandara.
 
Berbagai masalah dan batasan tersebut, seharusnya bisa diatasi ketika menggunakan kapal laut. Berat, dimensi, hingga jenis barang yang dibatasi, bisa diperluas atau ditambahkan kapasitasnya. Ini bisa seharusnya justru bisa memperkuat daya tawar kita kepada Arab Saudi untuk menambah secara signifikan kuota haji kita. Sudah rahasia umum di tanah suci, jamaah haji kita terkenal ramah, dermawan, serta royal berbelanja. Ini bisa jadi penguat posisi tawar kita, karena ada potensi besar perputaran ekonomi di negara yang saat ini sedang berusaha keluar dari bayang-bayang ketergantungan dari berjualan minyak ini.
 
Lebih dari itu, kondisi edukasi jamaah haji kita yang belum maksimal bisa menjadi alasan penguat mengapa Haji Maritim ini sangat relevan untuk kita jalan sesegera mungkin. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak jemaah yang belum memiliki pengetahuan haji secara maksimal ketika berangkat. Hal ini tidak terlepas dari seringkali terbatasnya waktu untuk manasik, baik disebabkan oleh jadwal manasik yang tak jarang semakin singkat, manasik yang mulai banyak melalui daring, hingga kesesuaian waktu pembekalan dengan jam kerja para calon haji. Ini cukup riskan karena terkait dengan sah atau tidaknya jamaah haji kita.
 
Dengan Haji Maritim, kondisi perjalanan yang jauh lebih lama bisa menjadi sebuah keuntungan spiritual. Selama perjalanan, para calon haji ini bisa mengulang materi, praktek, hingga berbagai hal positif lainnya. Situasi yang seakan bersifat semi karantina, membuat  para calon haji ini bisa fokus memperdalam berbagai syarat, rukun, ataupun materi haji semakin mendalam. Hal yang sulit terjadi bila perjalanan dengan pesawat. Saat tiba di Madinah sudah mulai sibuk mengejar Arbain dan belanja, serta ketika di Makkah sibuk dengan umrah dan juga tentu saja belanja.
 
Untuk itu, relevankah pemerintah mulai serius menggarap potensi Haji Maritim ini? Melihat berbagai potensi nilai positif di atas, tentu saja sangat relevan! Sebagai catatan, kita punya banyak operator angkutan laut yang sudah berpengalaman puluhan tahun berlayar. Pemerintah sendiri memiliki dua operator yang sudah puluhan tahun dan masih eksis saat ini yaitu ASDP dan Pelni. Belum lagi perusahaan milik pemerintah yang saat ini tengah vakum, namun pernah menjadi representasi merah putih dengan berlayar keliling dunia pada masa lalu, yaitu Djakarta Lloyd, yang mungkin saja bisa dihidupkan lagi.
 
Jadi, sebagai bangsa yang mengaku bernenek moyang pelaut, menganut agama yang disebarkan juga oleh apra pelaut, serta pernah bercita-cita menjadi “Poros Maritim Dunia”, sudah sepantasnya kita tidak asing berangkat haji dengan berlayar!

Anugrah P. Sulistyawan
Peneliti National Maritime Institute (Namarin), Ketua Ikatan Jamaah Haji 2025 Jagakarsa


Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

KPK Amankan Dokumen dan BBE saat Geledah Kantor Dinas Perkim Pemkot Madiun

Rabu, 28 Januari 2026 | 11:15

UPDATE

TNI AU Bersama RCAF Kupas Konsep Keselamatan Penerbang

Rabu, 04 Februari 2026 | 02:04

Jokowi Dianggap Justru Bikin Pengaruh Buruk Bagi PSI

Rabu, 04 Februari 2026 | 01:45

Besok Jumat Pandji Diperiksa Polisi soal Materi Mens Rea

Rabu, 04 Februari 2026 | 01:28

Penguatan Bawaslu dan KPU Mendesak untuk Pemilu 2029

Rabu, 04 Februari 2026 | 01:17

Musorprov Ke-XIII KONI DKI Diharapkan Berjalan Tertib dan Lancar

Rabu, 04 Februari 2026 | 00:56

Polisi Tetapkan Empat Tersangka Penganiaya Banser, Termasuk Habib Bahar

Rabu, 04 Februari 2026 | 00:41

DPR Minta KKP Bantu VMS ke Nelayan Demi Genjot PNBP

Rabu, 04 Februari 2026 | 00:17

Kejagung Harus Usut Tuntas Tipihut Era Siti Nurbaya

Selasa, 03 Februari 2026 | 23:49

Begini Alur Terbitnya Red Notice Riza Chalid dari Interpol

Selasa, 03 Februari 2026 | 23:25

Penerapan Notaris Siber Tak Optimal Gegara Terganjal Regulasi

Selasa, 03 Februari 2026 | 23:11

Selengkapnya