Berita

Ilustrasi. (Foto: AI)

Publika

Reset dalam Tinjauan Hukum Ilahi

RABU, 04 FEBRUARI 2026 | 05:30 WIB

DALAM dunia komputer, istilah "reset" memiliki dua tingkatan yang fundamental berbeda. Soft reset adalah proses memulai ulang sistem tanpa menghapus data atau konfigurasi dasar -- seperti menekan tombol restart pada komputer yang mengalami gangguan ringan. Sementara hard reset atau factory reset adalah pengembalian sistem ke kondisi awal pabrik, menghapus seluruh data, pengaturan, dan jejak aktivitas sebelumnya. Semuanya kembali seperti baru, seperti hari pertama keluar dari pabrik.

Kini, di bulan-bulan ini, istilah "reset" bergulir dalam perbincangan publik. Dari refleksi tokoh seperti Pak Dharma Pongrekun dan Mbah Setu, hingga narasi-narasi fiksi ilmiah yang menggambarkan peradaban yang dirombak total. Ada kegelisahan kolektif: apakah peradaban kita sudah sampai pada titik di mana hanya "reset total" yang tersisa sebagai solusi?

Ketika Langit dan Bumi Menanti Pergantian


Allah berfirman dalam Surah Ibrahim ayat 19-20:
"Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah menciptakan langit dan bumi dengan hak? Jika Dia menghendaki, niscaya Dia membinasakan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (khalqan jad?d). Dan yang demikian itu sekali-kali tidak berat bagi Allah."

Ayat ini bukan sekadar peringatan teologis, melainkan sunnatullah -- hukum alam yang berlaku dalam sejarah peradaban. "Khalqan jadid" (makhluk baru) dalam ayat ini menggambarkan kemampuan mutlak Allah untuk mengganti satu generasi dengan generasi lain, satu peradaban dengan peradaban baru, ketika yang lama sudah melampaui batas kerusakan. Ini adalah hard reset versi Ilahi.

Manusia sebagai Mikrokosmos yang Merusak Makrokosmos

Manusia, dalam tradisi pemikiran Islam, adalah al-insan al-kamil -- makhluk yang merangkum semesta dalam dirinya (mikrokosmos). Namun ketika mikrokosmos ini rusak -- ketika fitrah dinodai, akal diselewengkan, hati dikunci, maka kerusakan itu merembet ke makrokosmos: alam semesta di sekitarnya.

Dan kini, anomali-anomali itu bukan lagi prediksi, melainkan realitas yang kasat mata. Lihatlah: Iklim yang kacau balau; ketimpangan ekonomi yang mencekik; dekadensi moral yang dinormalisasi; kebenaran yang ditertawakan, kebatilan yang diagungkan.

Ketika amar ma'ruf (menyeru kebaikan) dibalas dengan amar munkar (penyeruan pada kemunkaran), ketika para penyeru kebenaran justru ditekan, dilecehkan, bahkan dilenyapkan -- maka sistem sudah corrupt, file peradaban sudah rusak parah. "Sumun, Bukmun, Umyun, Fahum La Yarji'un"

Allah menggambarkan kondisi manusia yang sudah melewati titik balik dalam Al-Baqarah ayat 18: "(Mereka) tuli, bisu, buta, maka mereka tidak akan kembali (ke jalan yang benar)."

Ini adalah kondisi system failure total. Tidak ada lagi kemungkinan perbaikan internal. Input kebenaran tidak lagi diproses. Sensor moral sudah mati. Ketika mayoritas sudah sampai pada tahap ini, maka reset bukan lagi pilihan -- ia menjadi keniscayaan.
 
Reset sebagai Rahmat bagi Orang-Orang Saleh yang Tertekan

Inilah yang sering terlupakan -- reset dalam sunnatullah Allah bukanlah murka semata. Ia juga rahmah (rahmat) bagi mereka yang tetap istiqamah di tengah tekanan zaman.

Sejarah mencatat: kaum Nuh yang sedikit diselamatkan ketika banjir besar menyapu peradaban lama. Nabi Ibrahim yang dilindungi dari kobaran api. Kaum Musa yang dibebaskan dari perbudakan Firaun yang zalim. Setiap reset adalah penghancuran sekaligus pembebasan.

Bagi orang-orang saleh yang tertindas, yang lelah berdakwah tanpa respons, yang letih bersabar menghadapi kezaliman -- reset adalah kabar gembira. Ia adalah janji bahwa ketidakadilan tidak akan abadi. Bahwa Allah tidak tidur. Bahwa hard reset Ilahi akan mengembalikan tatanan kepada yang seharusnya.

Anomali di Depan Mata, Kesadaran di Ujung Waktu

Maka ketika di bulan ini kita mendengar bisikan tentang "reset" dari berbagai penjuru --baik dari para sesepuh, para pemikir, maupun narasi-narasi fiksi -- jangan abaikan. Bisa jadi itu adalah bisikan kolektif dari fitrah yang masih tersisa, alarm dari alam bawah sadar peradaban yang merasakan kedekatan dengan titik kritis.

Anomali sudah tampak. Pertanyaannya: apakah kita bagian dari sistem yang rusak dan akan di-reset, atau bagian dari "generasi baru" yang akan Allah hadirkan setelahnya?

Penutup

Reset dalam teknologi membutuhkan tombol. Reset dalam sejarah peradaban membutuhkan kehendak Ilahi. Dan kehendak Ilahi itu berjalan melalui sunnatullah -- hukum sebab-akibat yang telah Dia tetapkan.

Ketika kerusakan sudah sistemik, ketika mayoritas sudah sumun bukmun umyun, ketika orang baik sudah terpojok -- maka bersiaplah. Karena seperti kata-Nya sendiri: "wa m? dzalika 'alallahi bi 'aziz" -- dan yang demikian itu tidaklah berat bagi Allah.
 
Dedi Waryidi
Pemerhati Sosial tinggal di Bandung


Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

KPK Amankan Dokumen dan BBE saat Geledah Kantor Dinas Perkim Pemkot Madiun

Rabu, 28 Januari 2026 | 11:15

UPDATE

TNI AU Bersama RCAF Kupas Konsep Keselamatan Penerbang

Rabu, 04 Februari 2026 | 02:04

Jokowi Dianggap Justru Bikin Pengaruh Buruk Bagi PSI

Rabu, 04 Februari 2026 | 01:45

Besok Jumat Pandji Diperiksa Polisi soal Materi Mens Rea

Rabu, 04 Februari 2026 | 01:28

Penguatan Bawaslu dan KPU Mendesak untuk Pemilu 2029

Rabu, 04 Februari 2026 | 01:17

Musorprov Ke-XIII KONI DKI Diharapkan Berjalan Tertib dan Lancar

Rabu, 04 Februari 2026 | 00:56

Polisi Tetapkan Empat Tersangka Penganiaya Banser, Termasuk Habib Bahar

Rabu, 04 Februari 2026 | 00:41

DPR Minta KKP Bantu VMS ke Nelayan Demi Genjot PNBP

Rabu, 04 Februari 2026 | 00:17

Kejagung Harus Usut Tuntas Tipihut Era Siti Nurbaya

Selasa, 03 Februari 2026 | 23:49

Begini Alur Terbitnya Red Notice Riza Chalid dari Interpol

Selasa, 03 Februari 2026 | 23:25

Penerapan Notaris Siber Tak Optimal Gegara Terganjal Regulasi

Selasa, 03 Februari 2026 | 23:11

Selengkapnya