Berita

Praktisi Hukum Febri Diansyah (kiri). (Foto: Instagram)

Hukum

Praktisi Hukum:

Perbedaan Tafsir Fakta Sidang Bukan Obstruction of Justice

SELASA, 03 FEBRUARI 2026 | 00:14 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Perbedaan pandangan terhadap fakta-fakta persidangan tidak bisa serta-merta dikategorikan sebagai obstruction of justice atau perintangan penyidikan.

Terkait itu, praktisi hukum Febri Diansyah mengingatkan, Pasal 21 Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi (UU Tipikor) berpotensi menjadi pasal karet apabila ditafsirkan secara subjektif dan digunakan secara berlebihan terhadap pihak-pihak yang memiliki pandangan berbeda.

Menurutnya, setiap rumusan tindak pidana harus disusun secara jelas, tegas, dan tidak multitafsir. Prinsip tersebut merupakan inti dari asas legalitas yang berfungsi melindungi warga negara dari potensi penyalahgunaan kewenangan oleh penguasa.


“Kenapa tindak pidana itu harus dirumuskan secara jelas, tidak multitafsir, dan tidak diterapkan secara karet? Agar warga negara dilindungi dari potensi penyalahgunaan wewenang penguasa. Itulah latar belakang asas legalitas,” kata Febri dalam unggahan Instagram Stories di akun @febridiansyah.id, dikutip Senin malam, 2 Februari 2026.

Mantan Jurubicara KPK itu menguraikan asas legalitas sebagaimana diatur dalam Pasal 1 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Nasional.

Asas tersebut menyatakan, “Tidak ada satu perbuatan pun yang dapat dikenai sanksi pidana dan/atau tindakan, kecuali atas kekuatan peraturan pidana dalam peraturan perundang-undangan yang telah ada sebelum perbuatan dilakukan.”

Febri menjelaskan, asas legalitas lahir dari pengalaman historis ketika penguasa memiliki kewenangan mutlak menentukan perbuatan pidana berdasarkan kepentingan atau ketidaksukaan subjektif. Karena itu, hukum pidana hanya boleh diatur melalui undang-undang atau peraturan daerah (perda) yang disusun dengan melibatkan wakil rakyat di DPR atau DPRD.

Ia menegaskan, selain undang-undang dan perda, peraturan perundang-undangan lain seperti peraturan pemerintah, peraturan presiden, peraturan menteri, hingga standar operasional prosedur (SOP) internal tidak boleh memuat sanksi pidana.

“Prinsipnya hanya berdasarkan persetujuan rakyat, rakyat bisa dipidana. Hanya UU dan perda yang penyusunannya melibatkan rakyat melalui perwakilan di DPR/DPRD,” ujarnya.

Febri menilai, potensi pemidanaan berdasarkan tafsir subjektif saat ini sangat mengkhawatirkan, termasuk dalam penerapan pasal obstruction of justice. Menurutnya, praktik penerapan pasal pidana secara karet harus segera dihentikan.

“Kembalilah ke rumusan pidananya, hentikan penerapan pasal pidana secara karet,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan seluruh pihak agar berhati-hati menggunakan pasal pidana yang bersifat abstrak atau multitafsir, termasuk dalam penerapan Pasal 21 UU Tipikor terhadap pihak yang berbeda pendapat.

Menurut Febri, uji materi Pasal 21 UU Tipikor yang tengah bergulir di Mahkamah Konstitusi (MK) menjadi momentum penting untuk memperjelas batasan perbuatan yang dapat dipidana.

Ia menekankan, dialog di ruang publik mengenai fakta-fakta persidangan sepanjang tidak merekayasa informasi merupakan hal yang wajar dan tidak dapat dipidana.

“Dialog di ruang publik, sepanjang tidak merekayasa fakta dan informasi yang muncul di persidangan, adalah hal yang wajar. Bukan tindak pidana. Meski mungkin pendapat atas fakta-fakta tersebut bisa berbeda,” katanya.

Febri mengibaratkan perbedaan pandangan itu seperti dinamika antara advokat dan jaksa penuntut umum di ruang sidang. Menurutnya, persidangan justru menjadi ruang untuk menguji berbagai pendapat secara terbuka.

“Dan ingat, sidang bersifat terbuka. Jadi semakin diuji, semakin terjadi dialog. Itu semakin baik,” ujar Febri.

Ia mengingatkan, bahaya pasal pidana yang bersifat karet bukan sekadar isu akademik, melainkan ancaman nyata bagi siapa pun.

“Penerapan pasal karet adalah masalah kita semua. Semua bisa menjadi korban kesewenang-wenangan hukum. Belum terlambat untuk memperbaiki. Hukum pidana bertujuan melindungi masyarakat, baik dari perbuatan pelaku pidana maupun dari penyalahgunaan kekuasaan. Keduanya harus ditempatkan secara berimbang,” pungkasnya.


Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

UPDATE

Kalah di PN Jakpus, Penggugat PPP Subadri-Toni Dihukum Bayar Biaya Perkara

Senin, 03 Agustus 2026 | 22:10

Prabowo Terima Medali Kehormatan dari Angkatan Bersenjata Tailan

Senin, 03 Agustus 2026 | 21:34

Buru Aset TPPU Febrie Adriansyah, Tim 9 Geledah Kantor Don Ritto hingga Rumah Nurman Herin

Senin, 03 Agustus 2026 | 21:30

Prabowo dan PM Tailan Bidik Nilai Perdagangan Rp359 Triliun dalam Lima Tahun

Senin, 03 Agustus 2026 | 21:20

Ini Enam Perkara yang Dihentikan KPK

Senin, 03 Agustus 2026 | 21:10

Petingginya Diperiksa Kejati DKI, Peran AFPI Disorot

Senin, 03 Agustus 2026 | 20:52

Indonesia-Tailan Sepakat Kembangkan TRM untuk Perangi Kejahatan Transnasional

Senin, 03 Agustus 2026 | 20:49

Bawaslu Fokus Tingkatkan SDM Hadapi Tantangan Digital

Senin, 03 Agustus 2026 | 20:38

Prabowo Kenang Masa Muda Bersama Raja Tailan Saat Sambut PM Anutin

Senin, 03 Agustus 2026 | 20:30

Prabowo Dukung PPHN Jadi Pedoman Lintas Pemerintahan

Senin, 03 Agustus 2026 | 20:16

Selengkapnya