Berita

Operasi modifikasi cuaca (OMC). (Foto: Dokumentasi BMKG)

Nusantara

BMKG Bantah Pindahkan Hujan ke Daerah Tetangga yang Berakibat Banjir

RABU, 28 JANUARI 2026 | 18:15 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) membantah isu miring mengenai operasi modifikasi cuaca (OMC) yang disebut-sebut memindahkan hujan ke daerah lain yang berakibat bencana banjir.

"Terkait narasi ‘memindahkan hujan ke wilayah tetangga dan berpotensi membuat banjir’, BMKG menjelaskan dua metode utama yang digunakan untuk melindungi wilayah strategis," tulis BMKG dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi di Jakarta, Rabu, 28 Januari 2026.

Dijelaskan lebih rinci, narasi tersebut tidak benar dan tidak berdasar karena selama pelaksanaan OMC selalu memperhatikan metode yang harus digunakan BMKG dan berkaitan dengan kondisi-kondisi yang ada.


"(Metode) pertama Jumping Process Method, di mana tim OMC mendeteksi suplai awan dari laut (Laut Jawa/Samudera Hindia) menggunakan radar dan menyemainya sebelum mencapai daratan agar hujan jatuh di perairan," urai BMKG.

Adapun metode kedua adalah Competition Method, yakni awan yang tumbuh langsung di atas daratan (in-situ), dilakukan penyemaian sejak dini, untuk mengganggu pertumbuhan awan (tidak menghilangkan) agar tidak menjadi awan Cumulonimbus yang masif. 

"Hal ini dilakukan untuk meluruhkan intensitas hujan, bukan memindahkannya ke pemukiman lain," sambung BMKG menerangkan.

Meskipun demikian, BMKG menyepakati bahwa kemampuan lingkungan dalam merespons air hujan yang jatuh, menjadi faktor penting terjadi atau tidak terjadinya banjir. 

"Pun, fakta hilangnya sekitar 800 situ di Jabodetabek sejak 1930-an menjadi faktor utama kurangnya daerah resapan dan berpotensi menjadi pemicu banjir," ungkap BMKG.

Oleh karenanya, BMKG mendorong penataan lingkungan menjadi hal utama yang semestinya direspons terhadap penanganan banjir, namun demikian pada saat bersamaan secara paralel juga diperlukan 

"Itu sebagai upaya mengurangi curah hujan seperti OMC agar bisa diterima oleh kondisi lingkungan saat ini," tuturnya.

"Dan penataan lingkungan menjadi hal paling utama yang harus dilakukan, baik oleh pemerintah maupun masyarakat secara keseluruhan," demikian BMKG menutup.


Populer

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Menyorot Nuansa Politis Penetapan Direksi Pelindo

Senin, 02 Maret 2026 | 06:59

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Harga Tiket Pesawat Kembali Tidak Masuk Akal

Selasa, 03 Maret 2026 | 03:51

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Rusia dan China akan Dukung Iran dari Belakang Layar

Minggu, 01 Maret 2026 | 04:20

UPDATE

Mengenal Bupati Rejang Lebong M Fikri yang Baru Terjaring OTT

Selasa, 10 Maret 2026 | 06:15

Keterbukaan Informasi Bagian Penting Pelayanan Publik

Selasa, 10 Maret 2026 | 06:03

Wajah Buruk AS Tak Bisa Lagi Dipoles sebagai Polisi Dunia

Selasa, 10 Maret 2026 | 06:02

Bupati Rejang Lebong M Fikri Thobari Dibawa ke Jakarta Usai OTT Pagi Ini

Selasa, 10 Maret 2026 | 05:55

Seret ke Pengadilan Pelaku Pengeboman Ratusan Anak Perempuan di Iran

Selasa, 10 Maret 2026 | 05:39

Bupati Rejang Lebong M Fikri Thobari Kena OTT KPK

Selasa, 10 Maret 2026 | 05:36

Secara Ekonomi AS Babak Belur Gegara Serang Iran

Selasa, 10 Maret 2026 | 05:28

Iran Tak akan Negosiasi dengan AS-Israel Lewat Diplomasi

Selasa, 10 Maret 2026 | 05:24

Fokus Merawat Stabilitas di Tengah Gejolak Harga Minyak Dunia

Selasa, 10 Maret 2026 | 05:18

APBN di Tepi Jurang, Kinerja Purbaya Mulai Dipertanyakan

Selasa, 10 Maret 2026 | 04:42

Selengkapnya