Berita

Ilustrasi modifikasi cuaca. (Foto: Dokumentasi INews)

Nusantara

Modifikasi Cuaca Tetap Penting Meski Siklon Tropis Terjadi Rutin

RABU, 28 JANUARI 2026 | 15:54 WIB | LAPORAN: SARAH ALIFIA SURYADI

Operasi modifikasi cuaca masih relevan dilakukan untuk menekan risiko bencana hidrometeorologi, meski siklon tropis merupakan fenomena yang terjadi hampir setiap tahun.

Menurut Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani, modifikasi cuaca bukan ditujukan untuk mengendalikan siklon, melainkan mengurangi dampak lanjutan berupa hujan ekstrem di wilayah terdampak.

Lanjut dia, BMKG tidak memiliki kemampuan untuk memodifikasi pusat atau bibit siklon. Namun, peningkatan curah hujan akibat efek siklon di daratan masih bisa diantisipasi melalui operasi modifikasi cuaca. 


"Tidak ada satu negara pun yang mampu melakukan modifikasi cuaca pada bibit siklon atau pusat siklonnya," ujar Faisal saat ditemui di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu, 28 Januari 2026.

BMKG mencatat modifikasi cuaca mampu menurunkan intensitas hujan hingga sekitar 30 persen.

"Modifikasi cuaca ini dapat mengurangi intensitas hujan kurang lebih 30 persen. Apakah itu signifikan? Ya, sangat signifikan," jelasnya. 

Angka tersebut dinilai penting, mengingat perubahan tata guna lahan dan tekanan lingkungan membuat curah hujan dengan volume yang sama kini lebih mudah memicu banjir dan longsor.

Teuku Faisal menuturkan, wilayah yang terdampak tidak langsung oleh siklon, seperti Lampung, Bengkulu, hingga Banten, menjadi sasaran utama operasi modifikasi cuaca untuk mencegah lonjakan hujan di atas kondisi normal. Langkah ini dilakukan agar daerah tangkapan air tidak menerima beban berlebihan yang berpotensi memicu bencana.

Dalam mendukung operasi tersebut, BMKG saat ini mengoperasikan 44 radar cuaca, terdiri dari radar C-band, X-band, dan S-band, meski lebih dari 20 unit di antaranya berusia di atas 15 tahun. Untuk memperkuat sistem pemantauan cuaca nasional, BMKG mengusulkan pengadaan tambahan radar secara bertahap hingga mencapai 75 unit dengan kebutuhan anggaran sekitar Rp2 triliun.


Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

2.241 ASN Resmi jadi Komcad Usai Latsarmil Gelombang Kedua Ditutup

Rabu, 30 September 2026 | 00:13

Sabar Tobing: AI Ubah Dunia Perpajakan, Talenta Digital Makin Dibutuhkan

Selasa, 29 September 2026 | 23:50

DPR Minta Pemerintah dan ASDP Tangani Kemacetan Horor Ketapang

Selasa, 29 September 2026 | 23:46

KPK Tegaskan Penyitaan Aset Silmy Karim Sah Usai Praperadilan Ditolak

Selasa, 29 September 2026 | 23:19

KPK Harus Transparan soal Kasus CSR BI-OJK yang Libatkan Dua Anggota DPR

Selasa, 29 September 2026 | 22:39

Kuasa Hukum Faizal Assegaf Apresiasi Polda Metro Periksa Jubir KPK

Selasa, 29 September 2026 | 22:32

Kantor PT Bela Parahiyangan Digeledah Buntut Dugaan Suap HGB ATR/BPN

Selasa, 29 September 2026 | 22:17

Apartemen Vinna Ledy yang Disita KPK Diduga Pemberian Pengusaha

Selasa, 29 September 2026 | 22:09

Membangun Ekosistem Keselamatan dan Perlindungan Korban

Selasa, 29 September 2026 | 22:08

Jokowi Masuk PSI Bisa Mengubah Konfigurasi Politik 2029

Selasa, 29 September 2026 | 22:04

Selengkapnya