Berita

Proses pencarian korban tertimbun longsor di Cisarua, Bandung Barat. (Foto: Humas Pemprov Jabar)

Nusantara

Longsor Bandung Barat Kategori Debris Flow, Badan Geologi Ungkap Tiga Pemicu

SELASA, 27 JANUARI 2026 | 21:53 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkap identifikasi awal penyebab bencana longsor di kawasan Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Penyelidik Bumi Ahli Utama Badan Geologi Kementerian ESDM, Anjar Heri Waseso menegaskan, peristiwa tersebut bukan sekadar longsoran tanah biasa. Berdasarkan karakteristiknya, kejadian itu diklasifikasikan sebagai aliran bahan rombakan atau debris flow.

Hasil penyelidikan lapangan menunjukkan, skala kerusakan yang cukup luas dipicu oleh kombinasi tiga faktor utama.


Faktor pertama berkaitan dengan kondisi morfologi yang tergolong ekstrem. Kemiringan lereng di titik awal longsoran mencapai kisaran 30 hingga 40 derajat, lalu menurun ke kemiringan 20 sampai 30 derajat ke arah bawah.

“Terjadi perbedaan ketinggian morfologi yang sangat signifikan antara daerah landaan dan daerah ancaman. Ini menyebabkan energi gerak material menjadi sangat besar,” ujar Anjar diberitakan Kantor Berita RMOLJabar, Selasa, 27 Januari 2026.

Perbedaan elevasi yang tajam antara bagian atas dan lembah membuat massa tanah meluncur dengan daya dorong tinggi saat kehilangan kestabilan.

Faktor kedua adalah ketebalan lapisan tanah vulkanik. Di lokasi kejadian, ketebalan tanah hasil pelapukan material vulkanik tercatat lebih dari 15 meter. Karakter tanah yang gembur dan mudah menyerap air mempercepat proses kejenuhan.

“Ketika tanah setebal itu jenuh akibat pemicu eksternal, material langsung tertransportasi ke lereng bawah dalam volume besar,” jelasnya.

Sementara faktor ketiga yang paling menentukan adalah sistem drainase alami sebagai jalur akumulasi air. Curah hujan ekstrem di atas 200 milimeter per hari sebagaimana tercatat BMKG, membuat air terkonsentrasi pada satu lintasan sempit.

Kondisi tersebut memicu daya erosi sangat kuat, sehingga material tanah dan batuan terbawa mengikuti jalur aliran sungai hingga mencapai kawasan permukiman di bagian lereng yang lebih landai.

“Ketika mencapai titik landai, material menyambar dan mengikuti jalur sungai yang sudah terbentuk,” tambah Anjar.

Anjar mengakui dugaan alih fungsi lahan turut menjadi faktor berpengaruh dalam peristiwa longsor. Namun demikian, ia menekankan faktor geologi alamiah tetap menjadi pemicu dominan terjadinya bencana.

“Alih fungsi memang ada pengaruhnya, tetapi sumber utamanya tetap morfologi yang sangat curam dan tanah yang gembur. Ukuran butiran tanah yang kecil membuat material bisa mengalir sangat jauh,” pungkasnya.

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

UPDATE

Tragedi Perlintasan Sebidang

Rabu, 29 April 2026 | 05:45

Operasi Intelijen TNI Sukses Gagalkan Penyelundupan Kosmetik Ilegal dari Malaysia

Rabu, 29 April 2026 | 05:26

Dedi Mulyadi Sebut ‘Ratu Laut Kidul’ jadi Komut Independen bank bjb

Rabu, 29 April 2026 | 04:59

Jalan Tengah Lindungi Pelaut Tanpa Matikan Usaha Manning Agency

Rabu, 29 April 2026 | 04:48

Terima Penghargaan BSSN, Panglima TNI Dorong Penguatan Pertahanan Siber

Rabu, 29 April 2026 | 04:25

Banjir Gol Terjadi di Parc des Princes, PSG Pukul Munchen 5-4

Rabu, 29 April 2026 | 03:59

Indonesia Menggebu Kejar Program Gizi Nasional Jepang

Rabu, 29 April 2026 | 03:45

Suasana Ekonomi Politik Mutakhir Kita

Rabu, 29 April 2026 | 03:28

Diplomasi Pancasila Alat Bernavigasi Indonesia di Tengah Badai Geopolitik

Rabu, 29 April 2026 | 02:59

Ekonom Bantah Logika Capaian Swasembada Pangan Mentan Amran

Rabu, 29 April 2026 | 02:42

Selengkapnya