Berita

Hanif Dakhiri. (Foto: Antara)

Hukum

Pemerasan TKA

Hanif Dhakiri Mangkir Pemeriksaan, KPK Jadwal Ulang

SELASA, 27 JANUARI 2026 | 21:06 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Wakil Ketua Komisi XI DPR RI Hanif Dhakiri bakal kembali dijadwalkan untuk diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dalam kapasitas sebagai mantan Menteri Tenaga Kerja, Hanif diperiksa terkait kasus dugaan pemerasan dalam pengurusan Rencana Penggunaan Tenaga Kerja Asing (RPTKA) di Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker).

Jurubicara KPK Budi Prasetyo membenarkan pada pekan lalu penyidik telah mengagendakan pemeriksaan namun Hanif Dhakiri mangkir.

“Confirm, pekan lalu penyidik menjadwalkan pemeriksaan terhadap saudara HD selaku eks Menteri Ketenagakerjaan dalam lanjutan penyidikan perkara RPTKA,” kata Budi kepada wartawan di Gedung Merah Putih KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa malam (27/1/2026).


Karena mangkir, KPK memastikan akan menjadwalkan ulang pemanggilan terhadap politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tersebut. Hingga kini, KPK mengaku belum menerima konfirmasi maupun alasan ketidakhadiran Hanif.

“Sampai dengan hari kemarin kami belum mendapatkan konfirmasi ketidakhadiran. Jadwal berikutnya masih kami tunggu, dan tentu akan kami sampaikan ke publik,” ujar Budi.

Dalam pemeriksaan nanti, penyidik bakal mendalami peran Hanif terkait praktik dan mekanisme pengurusan RPTKA di era kepemimpinannya. Apalagi, tersangka Heri Sudarmanto diduga menerima aliran uang dalam proses pengurusan RPTKA tersebut.

“Yang akan didalami adalah prosesnya, karena tersangka HS diduga telah menerima sejumlah aliran uang dalam pengurusan RPTKA,” tegas Budi.

Seperti diketahui, KPK pada Rabu, 29 Oktober 2025, menetapkan Heri Sudarmanto sebagai tersangka baru. Heri pernah menjabat Direktur PPTKA periode 2010–2015, Dirjen Binapenta dan PKK 2015–2017, serta Sekjen Kemnaker 2017–2018.

KPK juga telah menggeledah rumah Heri pada Kamis, 30 Oktober 2025. Dari penggeledahan itu, penyidik mengamankan sejumlah dokumen serta satu unit mobil.

Sebelumnya, KPK telah menuntaskan berkas perkara delapan tersangka lain, di antaranya Suhartono, Haryanto, Wisnu Pramono, Devi Angraeni, Gatot Widiartono, Putri Citra Wahyoe, Jamal Shodiqin, dan Alfa Eshad. Mereka merupakan pejabat dan staf di lingkungan Direktorat PPTKA Ditjen Binapenta dan PKK Kemnaker.

Dalam perkara ini, KPK mengungkap praktik pemerasan terhadap agen-agen pengurusan TKA yang berlangsung sepanjang 2019–2024, dengan total uang yang diterima mencapai Rp53,7 miliar. Bahkan, praktik ini diduga sudah berlangsung sejak 2012 hingga 2024, dari era Menaker Muhaimin Iskandar alias Cak Imin sampai Ida Fauziyah.

Haryanto tercatat sebagai penerima uang terbesar, yakni Rp18 miliar. Sementara Suhartono menerima Rp460 juta, Wisnu Rp580 juta, Devi Rp2,3 miliar, Gatot Rp6,3 miliar, Putri Rp13,9 miliar, Jamal Rp1,1 miliar, dan Alfa Rp1,8 miliar.

Sebagian uang haram itu juga dibagikan ke hampir seluruh pegawai Direktorat PPTKA, sekitar 85 orang, dengan total mencapai Rp8,94 miliar, yang disebut sebagai “uang dua mingguan”. Uang tersebut digunakan untuk kepentingan pribadi hingga membeli sejumlah aset atas nama sendiri maupun keluarga.

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

Mantan Kadivhubinter Polri Napoleon Bonaparte Meninggal Dunia

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:30

UPDATE

Sambut Wacana Revisi UU Tipikor, Komisi III DPR: Perlu Dikaji Lebih Mendalam

Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:32

Mahasiswa Bentangkan Poster Raksasa Tolak Karhutla

Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:27

Asta Cita Sulit Berjalan Tanpa Stabilitas Keuangan dan Pemerintahan Bersih

Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:22

Sahroni Minta Polisi Jaga Adik-adik Mahasiswa

Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:11

Mahasiswa Demo Mabes Polri, Jangan Kriminalisasi Pegawai PLN

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:57

Nasdem Bedah Pemikiran Bung Hatta untuk Perkuat Etika Politik

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:51

Koperasi Sawit Didorong Bangun Pabrik CPO hingga Kilang Minyak Goreng

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:45

Massa Tertahan di Depan Gedung UOB, Desak Polisi Buka Jalan

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:41

IHSG Menguat Tipis Usai RUPSLB BEI Setujui Dividen Rp1,56 T

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:24

Massa Berbaju Hitam Lewat Kantor KPU RI Menuju Bundaran HI

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:14

Selengkapnya