Berita

Permukiman warga di Jakarta terendam banjir akibat luapan Kali Ciliwung. (Foto: Istimewa)

Nusantara

BMKG:

Banjir Jabodetabek Akibat Serapan Alami Terbatas

SENIN, 26 JANUARI 2026 | 01:12 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Banjir yang masih terjadi di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek), dinyatakan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisikan (BMKG) bukan karena anomali cuaca Siklon Tropis 91S.

Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto menjelaskan,  fenomena banjir tahunan di Jabodetabek yang juga terjadi pada awal tahun ini, harus dilihat dari dua kacamata utama.

"(Yaitu) kapasitas daya dukung lingkungan dan dinamika cuaca ekstrem," ujar Tri dalam wawancara dengan RMOL, Minggu 25 Januari 2026.


Sebagai satu kesatuan megapolitan, Tri menjelaskan, Jabodetabek berada dalam lingkup Daerah Aliran Sungai (DAS) yang besar, terutama sistem Ciliwung-Cisadane. 

"Saat ini, kapasitas wilayah dalam menampung air aliran permukaan (surface runoff) sudah sangat terbatas dibandingkan wilayah yang masih memiliki serapan alami yang baik," sambungnya.

Akibat dari hal tersebut, Tri menegaskan bahwa peningkatan koefisien limpasan akibat masifnya tutupan lahan beton, membuat wilayah Jabodetabek sangat rentan dari banjir.

"Artinya, kita tidak selalu membutuhkan pemicu besar seperti siklon tropis untuk melihat genangan. Cukup dengan intensitas hujan tinggi pada puncak musim hujan, volume air sudah melampaui daya tampung infrastruktur yang ada," urainya.

Mengenai Siklon Tropis 91S, Tri memastikan dampaknya tidak selalu bersentuhan langsung secara geografis dengan Jabodetabek. Namun yang perlu dipahami adalah, siklon atau bibit siklon di sekitar wilayah Indonesia sering kali berfungsi sebagai 'penarik' massa uap air.

"Atau pembentuk pola konvergensi (pertemuan angin) yang memperkuat intensitas hujan di Jawa bagian barat. Meski demikian, tanpa siklon sekalipun, puncak musim hujan sudah membawa risiko hidrometeorologi yang nyata," kata Tri. 

Hal inilah, menurut Tri, membuat banjir sering terjadi di wilayah Jabodetabek bahkan sebelum langkah intervensi seperti? Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dilakukan.

"OMC hadir sebagai langkah mitigasi preventif, bukan solusi instan untuk menghilangkan hujan," demikian Tri.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

UPDATE

Dua Nama Hilang dari Daftar Calon BPK

Kamis, 10 September 2026 | 00:17

UAG Perkuat Sekolah Rakyat dan Talenta Halal Nasional

Kamis, 10 September 2026 | 00:06

Langkah Berani Gubernur Sultra Tertibkan Aset Usik Zona Nyaman Oknum Tertentu

Rabu, 09 September 2026 | 23:52

DPRD DKI Dukung Perluas Program Pendidikan bagi Santri Perkotaan

Rabu, 09 September 2026 | 23:32

Salat Istisqa Digelar di Lahat, Bursah Zarnubi Mohon Hujan segera Turun Merata

Rabu, 09 September 2026 | 23:22

DPR Dorong Pembangunan dari Desa Lewat Rakernas AKSI

Rabu, 09 September 2026 | 23:20

Rosan Roeslani Masuk Dua Besar Menteri Berkinerja Terbaik

Rabu, 09 September 2026 | 23:00

DPR: Kalau Ada Laporan Masyarakat, Polri Tak Perlu Ragu

Rabu, 09 September 2026 | 22:59

Jangan Sampai Indonesia jadi Sasaran Empuk Jaringan Narkoba Internasional

Rabu, 09 September 2026 | 22:45

Mantan Napi KDRT Diduga Kriminalisasi Istri Lewat Kesaksian Palsu ART

Rabu, 09 September 2026 | 22:31

Selengkapnya