Berita

Ilustrasi

Politik

Rais Aam Didorong Segera Gelar Muktamar ke-35 NU

RABU, 21 JANUARI 2026 | 21:11 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Forum Bahtsul Masail yang diikuti para kiai se-Jawa Barat dan DKI Jakarta mendorong percepatan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU). Forum tersebut digelar di Pondok Pesantren Kempek, Cirebon, dan dihadiri puluhan kiai muda.

Sejumlah kiai yang hadir antara lain KH Muhammad Shofy, KH Ahmad Ashif Shofiyullah, KH Nanang Umar Faruq, KH Ghufron, KH Abdul Muiz Syaerozi, KH Jamaluddin Muhammad, KH Ahmad Baiquni, hingga KH Khozinatul Asror.

Forum ini membahas situasi internal PBNU yang dinilai kian serius, termasuk polemik kepemimpinan, dugaan keterlibatan oknum pengurus dalam kasus korupsi kuota haji, serta desakan agar NU segera keluar dari konflik berkepanjangan.


Pengasuh Pesantren Kempek, KH Muhammad Shofy bin Mustofa Aqiel, mengatakan para kiai sepakat bahwa percepatan muktamar memiliki landasan keagamaan yang kuat.

“Para kiai menyuarakan percepatan Muktamar, tujuannya agar NU lepas dari jaringan zionisme dan keluar dari lingkaran setan korupsi yang sedang ditangani KPK dari beberapa oknum petinggi PBNU dan nama baik NU segera pulih kembali dengan cepat,” ujar Kiai Shofy dikutip Rabu, 21 Januari 2026.

Menurutnya, percepatan muktamar berpegang pada kaidah fikih yang menyebutkan menolak kerusakan harus didahulukan daripada mengambil kemaslahatan.

Kiai Shofy menjelaskan, terdapat sejumlah mafsadat atau kerusakan yang harus segera dihentikan. Pertama, kepemimpinan PBNU dinilai tidak lagi efektif pasca pemecatan Gus Yahya oleh Rais Aam dan Syuriyah PBNU, yang menurut forum, berkaitan dengan persoalan tata kelola organisasi dan dugaan afiliasi tertentu.

“Saat ini ada dua Ketum yaitu KH. Zulfa Musthofa PJ Ketum PBNU menggantikan Gus Yahya dan Gus Yahya sendiri yang masih mengkalim dirinya sebagai Ketum PBNU. Kalau ini terus dibiarkan, maka ini tidak sehat bagi keberlangsungan organisasi,” ujar Kiai Shofy.

Ketiga, konflik internal tersebut telah memicu polarisasi di akar rumput warga NU, yang terlihat jelas di media sosial dan kehidupan sosial sehari-hari. Keempat, legitimasi kepengurusan PBNU dinilai melemah, baik secara moral, spiritual, sosial, maupun politik.

Kelima, forum menilai NU membutuhkan reset organisasi secara menyeluruh, termasuk evaluasi total terhadap kepemimpinan struktural PBNU.

“Intinya, PBNU sebagai sebuah organisasi perlu direset ulang, dengan diisi oleh orang-orang yang memiliki kredibilitas, kapabilitas, integritas, moralitas, dan kapasitas keulamaan,” ungkap Kiai Shofy.

Ia menambahkan, percepatan muktamar juga merupakan jalan keluar dari konflik berkepanjangan, terutama akibat ambisi mempertahankan jabatan. Forum mengutip kaidah fikih yang menyebutkan keluar dari perselisihan itu dianjurkan.

Karena itu, para kiai merekomendasikan Rais Aam dan jajaran Syuriyah PBNU segera menggelar Muktamar PBNU, serta menegaskan bahwa Gus Yahya yang telah dinyatakan dipecat tidak boleh lagi mencalonkan diri atau dicalonkan.

Forum juga merumuskan kriteria pemimpin PBNU ke depan, yakni ulama yang memiliki otoritas keilmuan dan spiritual, berakhlak mulia, zuhud, tidak ambisi jabatan, serta menjadikan diri sebagai pelayan organisasi.

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

UPDATE

Status Hukum dan Akuntansi Danantara Alami Kebingungan

Minggu, 26 Juli 2026 | 03:23

Koops TNI Habema Berhasil Evakuasi Dua Korban Aksi Kekerasan di Yahukimo

Minggu, 26 Juli 2026 | 02:57

Pembangunan Papua Harus Dimulai dari Pendidikan Anak

Minggu, 26 Juli 2026 | 02:42

Pengusutan Diskriminasi WNI di Bali Penting Buat Jaga Wibawa Hukum

Minggu, 26 Juli 2026 | 02:24

Dari Ekopol Kolonial Menuju Berdaulat

Minggu, 26 Juli 2026 | 01:57

Generasi Emas Institute jadi Harapan Baru Anak Muda Menatap 2045

Minggu, 26 Juli 2026 | 01:33

Lahirnya Generasi Hebat OAP Tolok Ukur Keberhasilan PSN Papua

Minggu, 26 Juli 2026 | 01:10

Polda Jabar Selidiki Penemuan Jenazah Seorang Satpam di Waduk Jatiluhur

Minggu, 26 Juli 2026 | 00:53

Cegah Bad Mining Lewat Koperasi

Minggu, 26 Juli 2026 | 00:35

Dana Keistimewaan Yogyakarta Sukses Berdayakan Masyarakat

Minggu, 26 Juli 2026 | 00:12

Selengkapnya