Berita

Aksi proses di Iran (Foto: AP)

Dunia

Korban Tewas dalam Aksi Protes Iran Tembus 4.000 Orang

SELASA, 20 JANUARI 2026 | 15:13 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Jumlah korban tewas akibat gelombang aksi protes massal di Iran dilaporkan telah melampaui 4.000 orang. 

Human Rights Group Activist News Agency mengumumkan pada Senin, 19 Januari 2026, jumlah kematian yang telah terkonfirmasi mencapai 4.029 orang, sementara lebih dari 9.000 kasus kematian lainnya masih dalam tahap verifikasi.

Lonjakan korban ini terjadi hanya dalam hitungan hari. Pada Sabtu lalu, 17 Januari 2026, jumlah korban tewas baru saja melampaui angka 3.000, menandakan peningkatan ratusan korban dalam waktu singkat.


Selain korban meninggal, kelompok tersebut juga mencatat lebih dari 5.800 orang mengalami luka berat akibat tindakan represif aparat keamanan. Sementara itu, jumlah warga yang ditangkap selama aksi protes dilaporkan telah melebihi 26.000 orang.

Pemerintah Iran hingga kini belum merilis angka resmi korban tewas. Namun, otoritas di Teheran pada Sabtu lalu mengakui bahwa beberapa ribu orang telah meninggal dunia sejak protes meluas.

Aksi protes yang melanda berbagai wilayah Iran dipicu oleh memburuknya kondisi ekonomi nasional. Pemerintah merespons dengan tindakan keras, termasuk pemutusan akses internet secara luas untuk membatasi arus informasi.

Di tengah meningkatnya jumlah korban, sekelompok peretas dilaporkan berhasil mengganggu siaran televisi pemerintah Iran pada Senin. 

Menurut laporan Associated Press, aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk dukungan terhadap putra mahkota Iran di pengasingan, Reza Pahlavi, yang menyerukan perlawanan terhadap rezim.

Salah satu tayangan yang muncul dalam gangguan siaran tersebut menampilkan pesan kepada militer Iran.

"Jangan arahkan senjata kalian kepada rakyat. Bergabunglah dengan bangsa untuk kebebasan Iran," bunyi pesan tersebut.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump turut menanggapi situasi tersebut. Ia menyatakan bahwa sudah saatnya Iran mempertimbangkan kepemimpinan baru, setelah pemimpin Teheran menuding AS sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kekacauan di dalam negeri.

“Untuk menjaga agar negara tetap berfungsi, meskipun pada tingkat yang sangat rendah, pemimpin seharusnya fokus menjalankan negaranya dengan benar, seperti yang saya lakukan di Amerika Serikat, dan tidak membunuh rakyatnya sendiri dalam jumlah ribuan demi mempertahankan kekuasaan,” kata Trump kepada Politico.

Sementara itu, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menegaskan bahwa pemerintah telah berhasil mengendalikan situasi. 

Dalam unggahan di platform X pada Sabtu, ia menyatakan bahwa pihaknya telah memadamkan api hasutan, sembari menuding Amerika Serikat sebagai aktor di balik kerusuhan.

“Kami tidak berniat membawa negara ini menuju perang. Namun, kami juga tidak akan melepaskan para penjahat di dalam negeri. Yang lebih buruk dari penjahat internal adalah penjahat internasional. Mereka juga tidak akan kami lepaskan,” tegas Khamenei.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

Saham-saham AS Bergerak Variatif Pantau Perkembangan Negosiasi

Sabtu, 11 April 2026 | 08:20

Mali Cabut Pengakuan Negara Buatan Polisario, Dukung Otonomi Sahara di Bawah Maroko

Sabtu, 11 April 2026 | 08:10

Dorong Pivot Bisnis, KADIN Sebut MBG Berkah bagi Petani dan Peternak

Sabtu, 11 April 2026 | 08:02

BI Ungkap Konsumen Tetap Pede, Ekonomi Dinilai Baik hingga Akhir Tahun

Sabtu, 11 April 2026 | 07:47

Kenya Dukung Otonomi Sahara di Bawah Kedaulatan Maroko

Sabtu, 11 April 2026 | 07:27

Harapan Damai Picu Penguatan Pasar Eropa di Akhir Pekan

Sabtu, 11 April 2026 | 07:18

Drama Diplomasi Dimulai: Iran-AS Adu Kuat di Islamabad

Sabtu, 11 April 2026 | 07:04

Kepsek SMK jadi Otak Pengoplosan Gas LPG 3 Kg di Brebes

Sabtu, 11 April 2026 | 06:46

Prabowo Tetap Waras soal Demokrasi, Tidak Seperti Jokowi

Sabtu, 11 April 2026 | 06:20

Soemitronomics dan Kedaulatan Ekonomi

Sabtu, 11 April 2026 | 05:59

Selengkapnya