Berita

Ilustrasi

Publika

Koperasi Merah Putih dalam Pelukan Etatisme

SABTU, 17 JANUARI 2026 | 18:42 WIB

KOPERASI tidak pernah kekurangan perhatian di Indonesia. Negara bahkan membentuk kementerian khusus yang menangani koperasi, memisahkannya dari urusan UMKM yang sebelumnya berada dalam satu atap. 

Namun yang sering kurang hanyalah jarak. Koperasi dipeluk—bahkan terlalu erat oleh negara yang berniat baik, tetapi enggan melepaskan kendali. Dalam pelukan inilah koperasi hidup, bergerak, dan tampak bertumbuh, tetapi sulit benar-benar berdaulat dan mandiri.

Situasi ini lazim terjadi di negara-negara yang menganut etatisme, di mana negara memiliki posisi sentral dalam mengatur dan mengendalikan organisasi ekonomi warga. 


Negara memegang kendali langsung atas sektor strategis melalui BUMN, menetapkan kebijakan ekonomi, dan menentukan arah organisasi ekonomi, termasuk koperasi. Fokus utama bukan pada kemandirian pelaku ekonomi, tetapi pada penguasaan dan kontrol struktural.

Etatisme bukan liberalisme yang menyerahkan segala keputusan ekonomi kepada pasar, dan bukan sosialisme total yang menasionalisasi seluruh ekonomi. 

Di Indonesia, etatisme muncul sebagai campur tangan selektif: negara mengelola sektor strategis, sambil memanfaatkan koperasi dan BUMN sebagai instrumen untuk menyalurkan pembangunan dan kebijakan ekonomi.

Dalam kerangka ini, koperasi berada pada posisi yang rawan. Secara formal, koperasi adalah organisasi demokratis yang dimiliki dan dikendalikan anggota. 

Namun praktik etatisme sering memposisikan koperasi sebagai perpanjangan tangan negara penyalur distribusi, penggerak logistik, dan pelaksana program pemerintah di tingkat lokal. Beban kebijakan ini membuat koperasi tidak bergerak sebagai organisasi bisnis anggota, melainkan sebagai pelaksana mandat negara.

Yang menarik, perlakuan semacam ini jarang dikenakan pada korporasi. Perusahaan diberi ruang untuk memilih model bisnis, membaca pasar, dan menanggung risiko sendiri. Negara mengatur dari luar melalui hukum, pajak, dan insentif bukan dari dalam dengan menentukan fungsi. 

Sebaliknya, dalam kasus Koperasi Merah Putih, koperasi justru datang dengan paket lengkap: nama ditetapkan, skema usaha diarahkan, target dipasang, dan peran ditentukan. 

Seolah-olah koperasi direduksi menjadi sekadar badan hukum bukan organisasi hidup yang berisi anggota-anggota berdaulat untuk menentukan arah hidup ekonominya sendiri.

Konsekuensi dari pendekatan ini segera terasa. Sejak awal, Koperasi Merah Putih digagas untuk memikul beban yang jauh melampaui fase pertumbuhan wajar sebuah organisasi ekonomi warga. Dengan niat mulia memperkuat ekonomi desa dan memotong rantai tengkulak koperasi ini diminta sekaligus menjadi simpul distribusi, penggerak logistik, dan wajah ekonomi nasional di tingkat desa.

Secara satir, koperasi seolah diminta lahir langsung dewasa: belum sempat tumbuh dari kebutuhan anggotanya sendiri, tetapi sudah dibebani fungsi-fungsi strategis negara.

Dalam etatisme, keberhasilan koperasi diukur dari kepatuhan pada mandat dan kecepatan menjalankan program, bukan dari kuatnya kepemilikan anggota, kualitas tata kelola demokratis, atau keberlanjutan usaha. 

Koperasi memang tampak aktif rapat ada, papan nama berdiri, kegiatan berjalan—namun denyut ekonominya sering bergantung pada kebijakan, bukan pada keputusan kolektif anggota.

Pengalaman di banyak negara menunjukkan bahwa koperasi justru kuat ketika negara menahan diri dari pengendalian langsung, tetapi tegas menjalankan tanggung jawabnya menjamin kesejahteraan dasar, menegakkan hukum persaingan, menyediakan infrastruktur netral, dan melindungi hak anggota.

Dalam kondisi seperti itu, koperasi tumbuh sebagai penyeimbang pasar dan kapitalisme korporasi—bukan sebagai pelaksana kebijakan.

Selama koperasi terus berada dalam pelukan etatisme seperti di Indonesia, ia sulit berdaulat. 

Alih-alih mengatur fungsi koperasi secara rinci, negara sebaiknya fokus pada pendidikan gratis, jaminan sosial memadai, dan kesehatan berkualitas, sambil membiarkan koperasi tumbuh mandiri sebagai kekuatan ekonomi akar rumput.

Alip Purnomo
Direktur Eksekutif IndexPolitica

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

IHSG Terkoreksi 1,97 Persen, Mayoritas Saham Berakhir di Zona Merah

Jumat, 06 November 2026 | 12:31

Ekonom Soroti Potensi Konflik Kepentingan CIO Danantara

Jumat, 06 November 2026 | 12:22

Menperin Ungkap Strategi Hadapi Tekanan Industri Tembakau

Jumat, 06 November 2026 | 12:11

Ketum Partai dan Pejabat yang Terlibat Penyadapan Presiden Harus Jadi Tersangka

Jumat, 06 November 2026 | 12:01

Di Tengah Polemik Ijazah, Pengaruh Politik Jokowi Masih Jadi Perhatian

Jumat, 06 November 2026 | 11:51

Bantah Narasi Deindustrialisasi, Menperin: Industri RI Tidak Gelap

Jumat, 06 November 2026 | 11:40

Indonesia-Somalia Bahas Peluang Kerja Sama Perikanan hingga Keamanan Maritim

Jumat, 06 November 2026 | 11:34

Cokbang Buka Peluang Ekonomi Baru dari Kakao Sabang

Jumat, 06 November 2026 | 11:30

KPK Periksa Komisaris PT Murakabi Media Indonesia di Kasus Asuransi Pelni

Jumat, 06 November 2026 | 11:29

Utang Paylater Masyarakat di Bank Tembus Rp31,5 Triliun hingga September 2026

Jumat, 06 November 2026 | 11:16

Selengkapnya