Berita

Anggota DPD RI Dapil DKI Jakarta Fahira Idris. (Foto: Istimewa)

Publika

Wajah Ideal Desa 2045

JUMAT, 16 JANUARI 2026 | 06:50 WIB

DESA bukan sekadar unit administratif, tetapi fondasi sosial, ekonomi, budaya, dan ekologis bangsa. Karena itu, masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh wajah desa yang dibangun hari ini.

Dua dekade terakhir telah membawa banyak kemajuan bagi desa. Dana Desa mempercepat pembangunan infrastruktur dasar, layanan publik semakin dekat ke warga, serta tumbuhnya berbagai inisiatif ekonomi lokal melalui BUMDes, pariwisata, dan pengolahan hasil pertanian. 

Namun di balik capaian tersebut, masih terdapat tantangan struktural yang perlu dijawab bersama, seperti ketimpangan kualitas sumber daya manusia, tantangan kesejahteraan, keterbatasan akses layanan dasar, minimnya nilai tambah ekonomi desa, hingga kerentanan ekologis dan arus urbanisasi.


Jika Indonesia menargetkan diri sebagai negara maju pada 2045, maka desa harus ditransformasikan secara utuh. Bukan hanya dibangun secara fisik, tetapi diperkuat sebagai ruang hidup yang sejahtera, berdaya, dan berkelanjutan.

Dalam momentum Hari Desa Nasional 2026 ini, penulis menyampaikan lima wajah ideal desa yang perlu diwujudkan menuju Indonesia Maju 2045.

Pertama, desa berdaulat pangan dan ekonomi lokal. Desa 2045 harus menjadi pusat nilai tambah, bukan sekadar produsen bahan mentah. Pertanian, perikanan, kehutanan, dan peternakan perlu terhubung dengan industri pengolahan skala desa, koperasi modern, serta BUMDes yang profesional. Kedaulatan pangan menjadi pilar utama, sehingga desa mampu memenuhi kebutuhan warganya sekaligus berkontribusi pada ketahanan pangan nasional.

Kedua, desa yang inklusif dan berkeadilan. Wajah ideal desa 2045 adalah desa yang memastikan tidak ada warga yang tertinggal. Akses pendidikan berkualitas, layanan kesehatan dasar, air bersih, sanitasi, perumahan layak, dan konektivitas digital harus menjadi hak seluruh warga desa. Selain itu, kelompok rentan seperti perempuan, penyandang disabilitas, lansia, dan masyarakat adat harus dilibatkan secara bermakna dalam pembangunan.

Ketiga, desa cerdas berbasis teknologi dan kearifan lokal. Menurut Fahira Idris, desa masa depan harus melek teknologi melalui layanan administrasi digital, pemasaran produk berbasis daring, serta pemanfaatan data untuk perencanaan pembangunan. Namun modernisasi ini tidak boleh menghilangkan jati diri desa. Nilai gotong royong, musyawarah, dan solidaritas sosial harus tetap menjadi fondasi utama kehidupan desa.

Keempat, desa tangguh ekologis dan bencana. Di tengah krisis iklim, desa 2045 harus mampu berdamai dengan alam. Tata ruang berbasis risiko bencana, perlindungan hutan dan sumber air, pertanian ramah lingkungan, pengelolaan sampah, serta pemanfaatan energi terbarukan perlu menjadi bagian dari keseharian. 

Kelima, desa berdaya dalam tata kelola dan demokrasi lokal. Desa 2045 adalah desa dengan tata kelola yang transparan, akuntabel, dan profesional. Dana Desa dan berbagai program pembangunan harus dikelola berbasis data, partisipasi publik, dan pengawasan sosial yang efektif. Relasi desa dengan pemerintah daerah dan pusat juga harus dibangun dalam semangat kemitraan, sehingga desa tidak lagi menjadi objek kebijakan, melainkan subjek pembangunan.

Indonesia Emas 2045 tidak akan lahir dari kota-kota besar semata, tetapi bertumpu pada desa-desa yang kuat, inklusif, dan berkelanjutan. Hari Desa Nasional adalah pengingat bahwa membangun Indonesia berarti membangun desa dengan visi jangka panjang.

Jika lima wajah ideal desa ini diwujudkan secara konsisten, maka Indonesia Maju bukan lagi sekadar slogan, melainkan realitas yang berakar kuat dari desa, oleh desa, dan untuk seluruh rakyat Indonesia.

Fahira Idris 
Anggota DPD RI Dapil DKI Jakarta 

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Bea Cukai Sita 1.435 Bale Pakaian Bekas Ilegal Senilai Rp11,4 Miliar

Selasa, 22 September 2026 | 12:26

Bea Cukai Gagalkan 30 Kontainer Berisi Beras-Garam hingga Balpres, Nilainya Rp27,3 Miliar

Selasa, 22 September 2026 | 12:14

Lulus Kuliah, Sarjana SGU Ditantang Adaptif Hadapi Perubahan

Selasa, 22 September 2026 | 12:03

KPK Bakal Dalami Keterlibatan Dua Dirjen ATR/BPN yang Belum Jadi Tersangka

Selasa, 22 September 2026 | 11:55

Keselamatan Warga Harus Diprioritaskan di Tengah Banjir Bandang Solok

Selasa, 22 September 2026 | 11:51

Menlu Sugiono Serukan Langkah Nyata Group Eight Hentikan Krisis Gaza

Selasa, 22 September 2026 | 11:49

Harga Bitcoin Melonjak 6,66 Persen ke 86.614 Dolar AS

Selasa, 22 September 2026 | 11:47

Parpol Nonparlemen Bakal Kesulitan Jika Wacana Dua Fraksi untuk Capres Diterapkan

Selasa, 22 September 2026 | 11:37

NPCT1 Pastikan Tidak Ada Korban Pasca-Kebakaran Kontainer

Selasa, 22 September 2026 | 11:32

Sjafrie Apresiasi Jepang, dari Kemitraan Pertahanan hingga Bantuan Chinook

Selasa, 22 September 2026 | 11:05

Selengkapnya