Berita

Ilustrasi pemilihan umum secara langsung. (Foto: RMOL/Ahmad Satryo)

Publika

Polemik Pilkada, Kedaulatan Rakyat, dan Masa Depan Demokrasi Pancasila

KAMIS, 15 JANUARI 2026 | 16:49 WIB

PERDEBATAN tentang pemilihan kepala daerah —langsung oleh rakyat atau melalui DPRD—sering kali disederhanakan menjadi soal prosedur: mana yang lebih demokratis.

Jika dirujuk pada Sila Ke-4 Pancasila, demokrasi Indonesia sejak awal tidak dirancang sebagai demokrasi angka semata, melainkan demokrasi yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan.

Sila ini lahir dari pemikiran mendalam para pendiri bangsa yang secara sadar mengkritik demokrasi liberal Barat. Demokrasi Indonesia tidak dimaksudkan menjadi arena kompetisi bebas modal dan popularitas, tetapi sarana menghadirkan kedaulatan rakyat yang berkeadilan sosial.


Soekarno pada sidang BPUPKI menegaskan bahwa demokrasi kita bukanlah demokrasi barat, tetapi permusyawaratan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan.”

Dari sini dapat ditafsirkan bahwa musyawarah, mufakat dan perwakilan adalah mekanisme untuk memilih pemimpin yang akan menegakkan kedaulatan rakyat, karena musyawarah itu sendiri tidak mungkin dilakukan dalam jumlah yang besar sehingga keterwakilan adalah keniscayaan untuk memilih pemimpin yang memiliki hikmah dan kebijaksanaan.

Dengan ini para pendiri bangsa telah mensyaratkan bahwa demokrasi Indonesia bukan demokrasi barat yang bertumpu pada voting mayoritas. Demokrasi Indonesia adalah permusyawaratan, sementara pemungutan suara hanyalah jalan terakhir jika musyawarah gagal.

Bagi Soekarno, demokrasi sejati adalah proses mencari kebenaran dan kepentingan bersama, bukan kemenangan kelompok.

Pandangan ini relevan ketika Pilkada langsung sering kali berubah menjadi kontestasi mahal, sarat politik uang, dan mobilisasi emosi massa. Dalam konteks tersebut, mekanisme perwakilan melalui DPRD tidak otomatis bertentangan dengan Pancasila, selama dijalankan sebagai forum musyawarah yang rasional dan beretika, bukan arena transaksi elite.

Mohammad Hatta mengingatkan bahwa demokrasi tidak boleh berhenti pada prosedur politik. Dalam tulisannya Demokrasi Kita (1960), Hatta menegaskan bahwa demokrasi harus menghasilkan keadilan sosial.

Demokrasi politik tanpa keadilan ekonomi, menurutnya, hanya melahirkan kekuasaan segelintir orang. Kritik ini relevan ketika biaya Pilkada langsung justru membuat kandidat bergantung pada pemodal, sehingga kedaulatan rakyat menjadi semu.

Sementara itu Muhammad Yamin juga menegaskan bahwa kerakyatan Indonesia dijalankan melalui badan perwakilan. Dalam negara yang luas dan majemuk seperti Indonesia, demokrasi langsung murni bukanlah pilihan realistis.

Tantangannya bukan pada sistem perwakilan itu sendiri, melainkan pada kualitas moral dan akuntabilitas wakil rakyat.

Pilkada langsung kerap dipromosikan sebagai wujud tertinggi kedaulatan rakyat, namun praktik menunjukkan paradoks: politik uang, konflik horizontal, dan lahirnya pemimpin yang lebih loyal pada sponsor politik daripada rakyat.

Sebaliknya, Pilkada melalui DPRD juga berisiko jika partai politik dan DPRD dikuasai oligarki. Karena itu, persoalan utamanya bukan langsung atau tidak langsung, melainkan bagaimana demokrasi dijalankan dengan hikmah dan keberpihakan pada rakyat.

Selain itu dalam konteks Sila ke-4 Pancasila, yang menjadi problem lainnya yaitu pembenahan partai politik itu sendiri yang duduk di DPRD karena sesungguhnya bukanlah rakyat “kehilangan hak memilih”, melainkan wakil rakyat gagal menjalankan mandat kerakyatan dengan hikmah kebijaksanaan.

Karena itu, pembenahan demokrasi lokal harus diarahkan pada penguatan akuntabilitas partai politik dan DPRD, termasuk mekanisme sanksi politik, keterbukaan proses pemilihan kepala daerah, serta pengawasan publik yang efektif.

Sila ke-4 Pancasila mengajarkan bahwa demokrasi Indonesia harus dinilai dari hasilnya: apakah ia menghadirkan kepemimpinan yang adil, berpihak pada rakyat, dan memperkuat persatuan. Demokrasi yang gagal mewujudkan keadilan sosial, betapapun proseduralnya, telah kehilangan ruh Pancasila.

Pada akhirnya, demokrasi bukan soal cara memilih, melainkan untuk siapa kekuasaan dijalankan dan bagaimana kedaulatan rakyat itu bisa tegak berdiri untuk mencapai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Ferry Malaka
Pusat Studi Sosial dan Advokasi Untuk Penegakan Hukum

Populer

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Prabowo Berpeluang Digeruduk Demo Besar Usai Lebaran

Rabu, 11 Maret 2026 | 06:46

UPDATE

Posko Kesehatan PLBN Skouw Beroperasi Selama Arus Mudik

Selasa, 17 Maret 2026 | 18:03

10 Lokasi Terbaik Nonton Pawai Ogoh-Ogoh Nyepi 2026 di Bali, Catat Tempatnya

Selasa, 17 Maret 2026 | 17:50

Kapolri: 411 Jembatan Dibangun di Indonesia, Polda Riau Paling Banyak

Selasa, 17 Maret 2026 | 17:47

Gibran Salat Id dan Halal Bihalal di Jakarta Bersama Prabowo

Selasa, 17 Maret 2026 | 17:30

Bonus Atlet ASEAN Para Games Cair, Medali Emas Tembus Rp1 Miliar

Selasa, 17 Maret 2026 | 17:05

Gibran Pantau Arus Mudik dari Command Center Jasa Marga

Selasa, 17 Maret 2026 | 16:47

Pengusaha Kapal Minta SKB Lebih Fleksibel Atur Arus Mudik

Selasa, 17 Maret 2026 | 16:38

Pengiriman Pasukan RI ke Gaza Ditunda Imbas Perang Iran

Selasa, 17 Maret 2026 | 16:25

Bias Layar: Serangan Aktivis KontraS Ancaman Demokrasi dan HAM

Selasa, 17 Maret 2026 | 16:10

Istana Sebar Surat Edaran, Larang Menteri Open House Lebaran Mewah

Selasa, 17 Maret 2026 | 16:06

Selengkapnya