Berita

Pengamat Politik Politika Research & Consulting (PRC), Nurul Fatta. (Foto: Dok Pribadi)

Politik

Dorongan Ubah Sistem Pilkada Sarat Kepentingan Elite

RABU, 14 JANUARI 2026 | 10:01 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Wacana perubahan sistem pemilihan kepala daerah dari langsung oleh rakyat menjadi melalui DPRD menuai kecurigaan kuat di kalangan masyarakat. 

Dorongan tersebut dinilai bukan semata demi perbaikan demokrasi, melainkan sarat kepentingan pragmatis oligarki dan elite partai politik.

Pengamat Politik Politika Research & Consulting (PRC), Nurul Fatta menilai, Pilkada langsung selama ini membuat kemenangan tidak bisa sepenuhnya dikendalikan oleh kekuatan modal semata. Meski biaya politik besar dikeluarkan, hasil akhir tetap bergantung pada kehendak rakyat.


“Muncul kecurigaan kuat bahwa jangan-jangan dorongan mengubah sistem Pilkada ini hanyalah upaya pragmatis para oligarki dan elite parpol. Sebab dalam Pilkada langsung, modal finansial yang besar tidak menjamin kemenangan jika rakyat tidak berkehendak,” ujarnya kepada RMOL, Rabu, 14 Januari 2026.

Ia menduga, para elite kini mulai menyadari risiko dan kerugian dari investasi politik yang mereka tanamkan dalam Pilkada langsung, termasuk praktik pendanaan gelap yang tidak selalu berbanding lurus dengan kemenangan.

Dalam konteks tersebut, Pilkada melalui DPRD dinilai memberikan kepastian politik yang lebih besar bagi elite. Menurut Nurul, mekanisme ini membuat hasil pemilihan jauh lebih mudah diprediksi dan dikendalikan sejak awal.

“Melalui Pilkada di DPRD, kemenangan menjadi jauh lebih mudah diprediksi dan dikontrol melalui lobi-lobi elite sebelum pemilihan dimulai,” tegasnya.

Ia meyakini, skema tersebut dipandang sebagai jalan pintas untuk mengamankan kekuasaan di tingkat lokal dengan biaya politik yang lebih rendah dan hasil yang lebih pasti.

“Cara ini yang saya yakini mereka menganggapnya sebagai cara mudah untuk mengamankan kekuasaan di tingkat lokal dengan biaya dan kemenangan yang lebih ‘terukur’ di tingkat elite,” pungkas Nurul.


Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Jutaan Orang Tak Sadar Terkena Diabetes

Rabu, 14 Januari 2026 | 06:17

Kejati Sumut Lepaskan Tersangka Penadahan Laptop

Rabu, 14 Januari 2026 | 06:00

Sektor Energi Indonesia Siap Menggebrak Melalui Biodisel 50 Persen dan PLTN

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:35

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

Bukti cuma Sarjana Muda, Kok Jokowi Bergelar Sarjana Penuh

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:00

Pasal Pembuka, Pasal Pengunci

Rabu, 14 Januari 2026 | 04:21

Eggi Sudjana Perburuk Citra Aktivis Islam

Rabu, 14 Januari 2026 | 04:19

Pratikno dan Jokowi Harus Dihadirkan di Sidang Sengketa Ijazah KIP

Rabu, 14 Januari 2026 | 04:03

Dugaan Pengeluaran Barang Ilegal di Cileungsi Rugikan Negara

Rabu, 14 Januari 2026 | 03:45

Eggi Sudjana Konsisten Meyakini Jokowi Tak Punya Ijazah Asli

Rabu, 14 Januari 2026 | 03:15

Selengkapnya