Berita

Putra Mahkota Iran, Reza Pahlavi. (Foto: Avalon)

Global

Reza Pahlavi, Simbol Harapan Baru Oposisi Iran

SENIN, 12 JANUARI 2026 | 21:16 WIB | LAPORAN: SARAH ALIFIA SURYADI

Ketidakpastian politik di Iran belum menunjukkan tanda mereda. Di tengah krisis ekonomi, tekanan sosial, dan kebuntuan reformasi, nama Reza Pahlavi menguat dan dielu-elukan sebagian warga Iran sebagai figur yang dianggap mampu memimpin perubahan.

Reza Pahlavi adalah putra sulung Mohammad Reza Pahlavi, Shah terakhir Iran yang digulingkan dalam revolusi lebih dari empat dekade lalu. 

Lahir pada 31 Oktober 1960, ia dikenal di kalangan pendukungnya sebagai Putra Mahkota Iran. 


Sejak kejatuhan monarki, Pahlavi menetap di luar negeri, terutama di Amerika Serikat, dan secara terbuka memposisikan diri sebagai tokoh oposisi terhadap Republik Islam Iran.

Memasuki awal 2026, dukungan terhadap Pahlavi kembali mencuat, baik dari diaspora Iran maupun sebagian warga di dalam negeri.

Fenomena ini muncul seiring memburuknya kondisi ekonomi Iran, mulai dari inflasi tinggi, melemahnya mata uang, hingga terbatasnya ruang kebebasan sipil.

Bagi sebagian masyarakat, terutama generasi muda yang tidak mengalami era pra-1979, masa kekuasaan ayah Pahlavi dipersepsikan sebagai periode stabilitas dan modernisasi, meski narasi ini juga menuai perdebatan.

Pahlavi dinilai memiliki keunggulan berupa pengenalan publik yang kuat, baik di tingkat nasional maupun internasional. 

Ia juga kerap menegaskan tidak berniat mengembalikan monarki absolut, melainkan mendorong transisi menuju demokrasi sekuler melalui pembangkangan sipil tanpa kekerasan dan referendum nasional untuk menentukan bentuk negara di masa depan.

Seruan politiknya semakin intens dalam beberapa bulan terakhir. Melalui berbagai pernyataan dan video, Pahlavi mengajak masyarakat melakukan pemogokan nasional serta mendesak aparat keamanan berpihak kepada rakyat.

Putra Mahkota mendiang Shah terakhir Iran itu bahkan secara terbuka meminta warga Iran melanjutkan tekanan terhadap pemerintah.

"Saya menyerukan warga Iran melanjutkan unjuk rasa besar-besaran dan merebut pusat kota-kota di negara itu," ujarnya, dikutip dari CNN, Senin, 12 Januari 2026.

Meski demikian, dukungan terhadap Reza Pahlavi tidak bersifat mutlak. Sejumlah kelompok kiri dan aktivis hak asasi manusia tetap mengingat sisi otoriter rezim Shah, termasuk peran polisi rahasia SAVAK, dan khawatir kembalinya nama Pahlavi hanya akan menghadirkan bentuk kekuasaan lama dengan wajah baru.

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Dua Tahun Cukup bagi Prabowo Mengasuh Geng Solo

Selasa, 13 Oktober 2026 | 13:43

UPDATE

Bursa Asia Tertekan, Kospi Anjlok Lebih 2 Persen

Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:33

Ekonom Sentil Menteri Prabowo: Jangan Jadi Beban Presiden!

Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:21

Wall Street Tertekan Aksi Jual Saham Teknologi

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:56

Lonjakan Minyak Tekan Logam Dunia: Emas Anjlok ke Level Terendah

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:45

Saham BYAN Tancap Gas, Naik 3,16 Persen ke Rp10.600

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:22

Penguatan IHSG Sinyal Kepercayaan ke Pemerintah Mulai Pulih

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:10

Pasar Eropa Merah Gara-gara Minyak

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:06

Terbuka Peluang Bangun Museum Haji Indonesia

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:58

Pujian Prabowo Jangan Jadi Obat Tidur Menteri

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:57

Pemerintah Harus Berlakukan Wajib Halal pada Oktober 2026

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:19

Selengkapnya