Berita

Ilustrasi. (Foto: Maritimnews.com)

Bisnis

Biaya Logistik Siap-siap Melonjak Imbas Invasi AS ke Venezuela

RABU, 07 JANUARI 2026 | 04:36 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Founder & CEO Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi memprediksi dampak invasi Amerika Serikat (AS) ke Venezuela akan menimbulkan kenaikan biaya logistik terhadap perdagangan global.  

“Kenaikan biaya bunker dan penyesuaian surcharge pelayaran berpotensi meningkatkan biaya freight pada rute lintas Pasifik maupun rute dengan transit di hub utama global,” ujar Setijadi dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Selasa, 6 Januari 2026.

Lanjut dia, kenaikan ongkos logistik ini dinilai dapat menekan daya saing harga produk ekspor Indonesia, terutama untuk komoditas manufaktur dan produk bernilai tambah menengah yang sensitif terhadap biaya pengiriman. 


Selain faktor biaya, eskalasi ketegangan global juga dinilai berpotensi memengaruhi reliabilitas jadwal pengiriman barang. 

“Eskalasi ketegangan global juga berpotensi memengaruhi reliabilitas jadwal pengiriman,” ungkap Setijadi. 

Ia menyebut penyesuaian rute pelayaran, konsolidasi muatan, hingga perubahan port of call oleh perusahaan pelayaran berisiko memperpanjang lead time dan meningkatkan ketidakpastian pasokan ke pasar Amerika Selatan, termasuk ke negara tujuan utama seperti Peru dan Brasil.

Dari sisi permintaan, Setijadi mencermati kecenderungan buyer di kawasan Amerika Selatan untuk bersikap lebih hati-hati dalam mengambil keputusan impor di tengah meningkatnya ketidakpastian global. 

“Importir cenderung memperketat klausul kontrak, meminta fleksibilitas jadwal pengiriman, serta menuntut jaminan kontinuitas pasokan,” jelasnya. 

Dalam kondisi tersebut, Setijadi mengaskan penguatan ketahanan rantai pasok dinilai menjadi kunci bagi eksportir Indonesia. 

Selanjutnya perlu ada diversifikasi rute pengiriman dan mitra logistik disebut sebagai langkah awal untuk mengurangi ketergantungan pada satu jalur atau satu penyedia jasa pelayaran. 

“Diversifikasi rute pengiriman dan mitra logistik menjadi langkah awal untuk mengurangi ketergantungan pada satu jalur atau satu penyedia jasa pelayaran,” ungkapnya lagi. 

Masih kata Setijadi, eksportir juga perlu secara proaktif meninjau dan menyesuaikan klausul kontrak ekspor, khususnya terkait jadwal pengiriman, mekanisme penyesuaian biaya logistik, serta pengaturan force majeure. 

“Langkah ini penting untuk menjaga keberlanjutan hubungan bisnis dengan buyer di tengah dinamika global yang cepat berubah,” pungkasnya.


Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

PT PMM Keberatan 15 Kontainer Mineral Ekspor Dibongkar Aparat

Minggu, 24 Mei 2026 | 16:43

PT DSI Resmi jadi BUMN dan Siap Buka Rekrutmen

Senin, 25 Mei 2026 | 23:14

Pengacara Blueray Cargo Ragu Amplop Suap Kode 1 Diterima Dirjen Bea Cukai

Selasa, 26 Mei 2026 | 23:19

Keputusan Bisnis Dipidanakan, Nicko Widjaja Tulis Surat dari Rumah Tahanan

Jumat, 22 Mei 2026 | 17:34

UPDATE

Keputusan Jokowi Cawe-cawe PSI Kurang Tepat

Selasa, 02 Juni 2026 | 00:11

Ryamizard Ryacudu: Jenderal Tempur yang Memilih Jalan Ketegasan

Selasa, 02 Juni 2026 | 00:03

Daging Kurban Jadi Sumber Pangan Bergizi Keluarga Prasejahtera

Senin, 01 Juni 2026 | 23:48

Empat Jenderal di Pusara Ryamizard Ryacudu

Senin, 01 Juni 2026 | 23:07

Sebelum Ditunjukkan, Rakyat Masih Yakin Ijazah Jokowi Palsu

Senin, 01 Juni 2026 | 23:00

Non-Blok dalam Pusaran AS-China-Rusia-Iran

Senin, 01 Juni 2026 | 22:55

Ketua BKSAP Puji Pelaksanaan Haji 2026, Tapi Tetap Beri Catatan

Senin, 01 Juni 2026 | 22:46

CBA Minta KPK Periksa Semua Pengusaha Rokok Termasuk M Suryo

Senin, 01 Juni 2026 | 22:35

Dewan Komisaris Pertamina Tanamkan Jiwa Nasionalisme Siswa Sekolah Dasar

Senin, 01 Juni 2026 | 22:25

Balinale Hadirkan 94 Film Internasional di Sanur

Senin, 01 Juni 2026 | 22:18

Selengkapnya