Berita

Penandatanganan perjanjian kerja sama penyelenggaraan sistem penyediaan air minum antara PAM Jaya dengan PT Moya Indonesia di Balaikota Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, 14 Oktober 2022. (Foto: PAM Jaya)

Nusantara

Kontrak Rp25 Triliun PAM Jaya–Moya Disorot, Air Bersih Warga Miskin Masih Mandek

SELASA, 06 JANUARI 2026 | 17:56 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Kerja sama Perusahaan Umum Daerah Air Minum Jaya (Perumda PAM Jaya) dengan PT Moya Indonesia senilai Rp25 triliun kembali disorot. Kontrak jumbo yang diteken sejak 2022 melalui skema pembiayaan bundling itu dinilai gagal menjawab persoalan mendasar pemenuhan air bersih, khususnya bagi warga miskin Jakarta.

"Kehadiran PAM Jaya dengan menggandeng PT Moya Indonesia semestinya sukses menyediakan air minum untuk warga Jakarta, namun fakta di lapangan gagal. Nilai kontrak besar tapi pelayanan biasa-biasa saja. Warga tidak merasakan perubahan berarti," kata Direktur Eksekutif Studi Demokrasi Rakyat (SDR) Hari Purwanto kepada RMOL, Selasa, 6 Januari 2026. 

Hari menyebut hingga kini masih banyak wilayah di Jakarta Utara seperti Warakas, Tanjung Priok, Papanggo, dan Sungai Bambu yang air PAM-nya belum layak diminum langsung. Alasan klasik seperti pipa tua dan jaringan perpipaan yang belum merata terus berulang.


Akibatnya warga miskin justru menanggung beban lebih berat. Mereka terpaksa membeli air galon atau jeriken setiap hari dengan harga yang tidak murah.

"Yang punya uang tinggal beli alat penyaring. Tapi yang miskin harus keluar uang setiap hari hanya untuk air minum," ujarnya.

Ia juga menyoroti ironi bisnis air bersih yang justru berputar besar di kalangan masyarakat mampu. Sementara rakyat kecil tidak punya banyak pilihan selain membeli air atau menggunakan air tanah.

"Seratus rumah elit beli alat penyaring Rp10 juta saja sudah ada perputaran Rp1 miliar. Lalu di mana keberpihakan pada rakyat kecil?" sindirnya.

Atas kondisi tersebut, Hari mempertanyakan komitmen PAM Jaya dan PT Moya Indonesia dalam menjamin hak dasar warga atas air bersih.

"Rakyat miskin masih kesulitan air bersih. Jadi kontrak Rp25 triliun itu sesungguhnya untuk siapa?" tegasnya.

Sebagai informasi, PAM Jaya merupakan BUMD penyedia air minum di DKI Jakarta. Sementara PT Moya Indonesia merupakan anak usaha Moya Asia Limited, bagian dari grup investasi internasional yang dikaitkan dengan Salim Group. 

Keduanya menandatangani kerja sama pada 14 Oktober 2022. Kerja sama ditujukan untuk mempercepat cakupan layanan air perpipaan hingga 100 persen di Jakarta pada 2030. Skema yang digunakan adalah pembiayaan bundling, di mana PT Moya Indonesia mengoperasikan instalasi pengolahan air sebagai unit produksi dalam sistem penyediaan air minum (SPAM).

Saat kontrak diteken, cakupan layanan air bersih di Jakarta baru sekitar 66 persen. Kerja sama ini juga diarahkan untuk optimalisasi aset eksisting serta penyediaan aset baru melalui keterlibatan operator teknis swasta.

Namun menurut Hari, pelibatan swasta dalam pengelolaan air seperti yang dilakukan BUMD DKI justru makin menjauh dari amanat Pasal 33 Ayat 3 UUD 1945. Padahal konstitusi menegaskan air harus dikuasai negara dan digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

"Swastanisasi pengelolaan air seperti tak pernah selesai. Yang diuntungkan tetap swasta sementara rakyat kecil terus kesulitan," pungkas Hari Purwanto.

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

PT PMM Keberatan 15 Kontainer Mineral Ekspor Dibongkar Aparat

Minggu, 24 Mei 2026 | 16:43

PT DSI Resmi jadi BUMN dan Siap Buka Rekrutmen

Senin, 25 Mei 2026 | 23:14

Pengacara Blueray Cargo Ragu Amplop Suap Kode 1 Diterima Dirjen Bea Cukai

Selasa, 26 Mei 2026 | 23:19

Blusukan Jokowi Sulit Naikkan Suara PSI, Apalagi Goyang PDIP

Senin, 01 Juni 2026 | 04:00

UPDATE

13 Langkah Komprehensif Kuatkan Rupiah

Rabu, 03 Juni 2026 | 06:11

Dua Guru Magelang Didakwa Korupsi Modus Pungli Peserta PPG

Rabu, 03 Juni 2026 | 06:00

Bukan Dapur Asal Ngebul

Rabu, 03 Juni 2026 | 05:26

Pakai Jaket Gojek Mulyono di Sidang Pledoi, Nadiem Ingin Seret Jokowi?

Rabu, 03 Juni 2026 | 05:18

Putusan MK soal Keterwakilan Kuota Perempuan Berikan Keadilan Gender

Rabu, 03 Juni 2026 | 05:14

Syafrin Liputo Dituntut Bawa Jaksel Lebih Maju, Inklusif, dan Sejahtera

Rabu, 03 Juni 2026 | 05:01

2.081 Polisi Kawal Ketat Piala AFF U-19 2026

Rabu, 03 Juni 2026 | 04:22

Korban Kebakaran Kemayoran

Rabu, 03 Juni 2026 | 04:19

Multipolaritas Harus Jadi Jalan Kerja Sama, Bukan Konfrontasi

Rabu, 03 Juni 2026 | 04:09

KDM Sikat PKL Usai 30 Tahun Berkuasa di Bandung

Rabu, 03 Juni 2026 | 03:45

Selengkapnya