Berita

Ilustrasi (Artificial Inteligence)

Dunia

Operasi Militer AS di Venezuela Dianggap Peringatan Keras untuk Iran dan Hamas

SENIN, 05 JANUARI 2026 | 10:24 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Operasi militer Amerika Serikat (AS) yang berhasil menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dipandang sebagai sinyal keras Presiden Donald Trump kepada Iran dan Hamas. 

Aksi ini menunjukkan bahwa Trump tidak hanya mengancam, tetapi juga siap menggunakan kekuatan militer untuk menekan lawan-lawannya.

Dikutip dari Times of Israel, Senin 5 Januari 2026, operasi tersebut berlangsung saat Trump baru saja bertemu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Mar-a-Lago, Florida. Meski pertemuan itu berfokus pada Gaza, Iran, dan Lebanon, perhatian Gedung Putih ternyata terbagi dengan persiapan operasi khusus berisiko tinggi di Venezuela.


Langkah berani di Caracas kembali menegaskan karakter kebijakan luar negeri Trump yang agresif namun terukur. Seperti pembunuhan Jenderal Iran Qassem Soleimani pada 2020 dan serangan ke fasilitas nuklir Iran sebelumnya, Trump memperlihatkan kesediaannya melampaui batas-batas lama demi menegakkan ancaman AS.

Bagi Israel, ketegasan ini dinilai menguntungkan karena masih menghadapi kebuntuan di Gaza dan Lebanon, di mana Hamas dan Hizbullah menolak melucuti senjata dan mencoba membangun kembali kekuatan mereka. Sikap keras Washington diyakini dapat memperkuat posisi Israel di kawasan.

Iran menjadi pihak yang paling waspada terhadap dampak operasi tersebut. Berdiri di samping Netanyahu di Florida, Trump secara terbuka menyatakan akan mendukung serangan Israel jika Iran kembali mengembangkan program militernya. 

“Jika Iran tetap melanjutkan program rudalnya, jawabannya jelas: ya. Dan jika mereka terus mengembangkan kemampuan nuklir, kami akan bertindak dengan sangat cepat. Yang satu pasti disetujui, sementara yang lainnya akan langsung kami lakukan," kata Trump.

Beberapa hari kemudian, Trump kembali melontarkan peringatan kepada Teheran di tengah gelombang protes domestik di Iran. Ia menegaskan kesiapan AS untuk bertindak jika pemerintah Iran menindak keras para demonstran.

Meski demikian, para analis menilai langkah ini belum tentu membuat Iran melunak. Penangkapan Maduro justru bisa dipandang Teheran sebagai bukti bahwa Trump mengincar perubahan rezim, sehingga Teheran kemungkinan memilih bersikap lebih keras dan enggan bernegosiasi dengan Washington.

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Jokowi Masih Berperilaku seperti Penguasa RI

Senin, 10 Agustus 2026 | 03:00

UPDATE

Istana Merdeka Menjelma jadi Pusat Pesta Rakyat dan Surga Kuliner UMKM

Jumat, 21 Agustus 2026 | 00:09

Mirza Fakhrul Islam Alamgir Terpilih Jadi Presiden Baru Bangladesh

Kamis, 20 Agustus 2026 | 23:52

Penanganan Bencana NTT Tidak Boleh Ada Kendala Anggaran!

Kamis, 20 Agustus 2026 | 23:38

Penumpang Bus NPM Pembawa Ratusan Vape Etomidate Diringkus Polisi

Kamis, 20 Agustus 2026 | 23:18

PDIP Lepas Kapal RS Apung Laksamana Malahayati ke Lokasi Gempa NTT

Kamis, 20 Agustus 2026 | 22:26

Purbaya Siapkan Rp3 Triliun Insentif untuk Satu Juta Motor Listrik

Kamis, 20 Agustus 2026 | 22:15

DPO Narkoba Club Malam Batam Diringkus saat Mau Kabur ke Malaysia

Kamis, 20 Agustus 2026 | 22:01

Dewan Adat Bamus Betawi Minta Warga Pati Tak Demo di Jakarta

Kamis, 20 Agustus 2026 | 21:30

Gibran Minta Maaf ke Pengungsi Gempa NTT

Kamis, 20 Agustus 2026 | 21:06

Sayembara Ijazah SMA Gibran Tak Mengubah Standar Pembuktian Hukum

Kamis, 20 Agustus 2026 | 21:02

Selengkapnya