Berita

Ilustrasi Dolar AS dan Yen (Foto: Penggabungan dengan Artificial Inteligence)

Bisnis

Dolar AS Tancap Gas di Awal 2026

SENIN, 05 JANUARI 2026 | 09:51 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Memasuki pekan perdagangan penuh pertama di tahun baru, Dolar AS langsung menunjukkan dominasinya. Greenback terpantau bergerak agresif, mencetak reli tajam dan membuat mata uang utama lainnya melemah. 

Dolar AS mengawali Senin 5 Januari 2026 dengan catatan impresif. Tidak hanya sekadar menguat, Dolar berhasil menembus benteng pertahanan Euro dan Yen sekaligus.

Dolar melesat ke level tertinggi dalam 3,5 pekan terhadap Euro di angka 1,170025 Dolar AS.


Melawan Yen, Dolar melonjak ke posisi 157,255, level terkuatnya sejak 22 Desember lalu.

Tekanan Dolar juga dirasakan oleh Poundsterling dan Dolar Kanada yang melemah 0,1 persen, sementara Dolar Australia harus terkoreksi hingga 0,2 persen.

Fenomena menarik terjadi ketika pasar cenderung mengesampingkan sentimen geopolitik panas terkait operasi militer AS di Venezuela. Alih-alih mencari perlindungan pada aset aman (safe haven) tradisional lainnya, investor justru berbondong-bondong memburu Dolar.

Fokus utama pasar kini tertuju pada daya tahan ekonomi AS. Analis dari Capital.com, Kyle Rodda, menyebutkan bahwa data ekonomi AS yang tetap solid belakangan ini telah mengubah ekspektasi publik. Pasar kini mulai ragu bahwa The Fed akan agresif memangkas suku bunga di tahun 2026. "Selama ekonomi AS masih tangguh, Dolar akan tetap menjadi primadona," ungkapnya.

Reli Dolar AS pekan ini akan diuji oleh serangkaian data ekonomi krusial yang diprediksi akan menjadi bahan bakar baru bagi pergerakannya. 

Indeks Manufaktur ISM, sebagai pembuka arah sentimen di awal pekan. Sementara data Non-Farm Payrolls (NFP) atau laporan ketenagakerjaan, yang akan dirilis Jumat pekan ini, akan menentukan apakah Dolar akan melanjutkan terbang tinggi atau terkoreksi.

Ketangguhan Dolar saat ini juga dibayangi oleh teka-teki kursi Ketua Federal Reserve. Dengan masa jabatan Jerome Powell yang akan berakhir Mei mendatang, pernyataan Presiden Donald Trump yang menginginkan sosok "pro-penurunan bunga" menciptakan ketegangan unik di pasar valuta asing.

Meskipun Trump menginginkan bunga rendah, kuatnya fundamental ekonomi AS saat ini justru membuat Dolar tetap berdiri kokoh sebagai raja di papan perdagangan global.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

Demokrasi Matang dan Tonggak Sejarah Baru di Maroko Pasca-Pemilu 2026

Rabu, 30 September 2026 | 10:27

Komisi IX DPR Dorong Pekerja Platform Digital Masuk RUU Perlindungan Ketenagakerjaan

Rabu, 30 September 2026 | 10:18

Rupiah Menguat, Intip Proyeksinya Hari Ini

Rabu, 30 September 2026 | 10:07

Prabowo Dorong Rehabilitasi Pengguna Narkoba Berbasis Pendidikan dan Teknologi

Rabu, 30 September 2026 | 10:04

Trump Ganti Istilah AI jadi Super Intelligence

Rabu, 30 September 2026 | 09:50

Dugaan Suap Bela Parahiyangan Investindo Mirip Perkara Summarecon

Rabu, 30 September 2026 | 09:39

Jokowi Sengaja Tunjukkan KTA PSI di Kandang Prabowo

Rabu, 30 September 2026 | 09:36

Jokowi Menyadari Dirinya dan Gibran Sedang Diserang

Rabu, 30 September 2026 | 09:27

Indonesia Usulkan Mekanisme Koordinasi Lintas Negara Berantas Penipuan Daring

Rabu, 30 September 2026 | 09:27

IHSG Pagi Ini Dibuka Hijau

Rabu, 30 September 2026 | 09:27

Selengkapnya