Berita

Partai politik peserta Pemilu 2024. (Foto: rumah pemilu)

Politik

Koalisi Permanen Belum Cocok di Indonesia yang Belum Mapan Berpolitik

MINGGU, 04 JANUARI 2026 | 09:51 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Bentuk koalisi permanen di Indonesia belum bisa diterapkan, mengingat iklim politik di Indonesia masih belum mapan.

Pengamat politik Citra Institute, Efriza memandang, peta politik Indonesia kerap kali berubah, dengan mengacu beberapa hal.

"Hal yang mempersulit membangun koalisi permanen adalah perbedaan kepentingan elite," ujar Efriza kepada Kantor Berita Politik dan Ekonomi RMOL, Minggu, 4 Januari 2025.


"Agenda ideologis partai politik yang tidak selalu sejalan, serta kalkulasi kekuasaan menjelang pemilu sering kali mengubah peta koalisi secara cepat," sambungnya memaparkan.

Menurutnya, wacana koalisi permanen dibangun karena ingin mengusung kembali Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka sebagai calon presiden dan calon wakil presiden (capres-cawapres) di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 mendatang.

"Karena koalisi pemerintahan sekarang dilihat mayoritas. Namun diyakini kenyataannya belum tentu partai-partai koalisi pemerintahan Prabowo-Gibran akan bersikap sama, bisa jadi membelot," tuturnya.

Asumsi tersebut, Efriza perkirakan karena contoh nyata pada Pilpres 2024 lalu. Dimana terjadi kesepakatan bersama antara Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dengan Partai Golkar yang membentuk Koalisi Indonesia Bersatu (KIB).

"Tapi menuju Pilpres 2024, koalisi Gerindra-PKB tak jadi. Akhirnya PKB memilih berkoalisi dengan PKS, dan KIB malah bubar jalan, padahal inisiasinya juga Golkar dalam kasus KIB ini," ucapnya.

Oleh karena itu, Efriza memandang koalisi permanen akan menuntut kejelasan dasar berpartai, tingkat kepercayaan, konsistensi, dan mekanisme pembagian peran yang jelas antarpartai.

"Ke semua ini sesuatu yang belum menjadi budaya mapan dalam politik Indonesia," demikian Efriza menambahkan.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Kasus Bansos, Kabulog Jateng hingga Pejabat Pemkab Brebes dan Jember Diperiksa KPK

Rabu, 09 September 2026 | 14:28

Purbaya Bakal Tarik Dana Daerah yang Mengendap Rp100 Triliun di Bank

Rabu, 09 September 2026 | 14:26

Rumah Digeledah, Direktur PT CMC Diperiksa KPK Hari Ini

Rabu, 09 September 2026 | 14:06

Rugikan Negara Rp35,7 Miliar, KPK Panggil Direktur PT Brantas Abipraya

Rabu, 09 September 2026 | 13:49

Kata Bonjopi, Persib si Raja Comeback

Rabu, 09 September 2026 | 13:39

Punya 12 Pabrik Sawit, Legislator Nilai Sintang Cocok Jadi Basis Produksi B50

Rabu, 09 September 2026 | 13:29

Pakistan: Serangan Houthi ke Saudi Bisa Aktifkan Pakta Pertahanan Mekkah

Rabu, 09 September 2026 | 13:27

PISA 2025 Tak Banyak Bergerak, Indonesia Sedang Menormalisasi Krisis Pembelajaran

Rabu, 09 September 2026 | 13:02

Penyaluran B50 Tembus 3,4 Juta KL, 94 Persen SPBU Sudah Salurkan Biodiesel

Rabu, 09 September 2026 | 12:47

Tim SAR Diminta Maksimalkan Pencarian Lima Jurnalis Hilang Kontak di Anak Krakatau

Rabu, 09 September 2026 | 12:38

Selengkapnya