Berita

Ilustrasi bendera partai poitik peserta Pemilu. (Foto: RMOL)

Politik

Pembentukan Koalisi Permanen Sangat Mungkin Terjadi

MINGGU, 04 JANUARI 2026 | 07:01 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Wacana pembentukan koalisi permanen antarpartai politik kembali mencuat, menyusul pertemuan sejumlah elite partai politik yang belakangan digelar di rumah dinas Ketua Umum Golkar Bahlil Lahadalia. 

Hadir dalam pertemuan tersebut Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan (Zulhas), Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar (Cak Imin) dan serta Ketua Harian DPP Partai Gerindra, Sufmi Dasco.

Pengamat politik dari Politika Research & Consulting (PRC), Nurul Fatta, memandang, kalaupun pertemuan tersebut membahas wacana koalisi permanen, hal itu sangat mungkin terjadi. 


"Terlebih, partai-partai yang hadir tampak jelas belakangan ini memiliki kesamaan pandangan terkait wacana pemilihan kepala daerah melalui DPRD," katanya kepada RMOL, Minggu, 4 Januari 2026. 

Jika koalisi permanen kelak diatur dalam undang-undang pemilu, Nurul Fatta melihat implikasinya bukan hanya pada tingkat nasional, tetapi juga pada konfigurasi kekuasaan di daerah, termasuk pembagian basis politik dan kepemimpinan kepala daerah di antara partai-partai koalisi.

"Apakah koalisi permanen memungkinkan? Saya pikir sangat memungkinkan. Argumen yang menyebut koalisi permanen mustahil karena perbedaan ideologi partai justru lemah dalam konteks Indonesia," jelasnya. 

Menurutnya, hampir seluruh partai politik hari ini berkarakter sebagai catch-all party, tanpa diferensiasi ideologis yang benar-benar tegas dan operasional. Di sisi lain, party identification pemilih juga relatif lemah dan cair.

Dalam realitas politik Indonesia, koalisi lebih banyak dibangun atas dasar kepentingan kekuasaan ketimbang konsistensi ideologi. Karena itu, koalisi permanen justru lebih realistis dibandingkan koalisi cair yang selama ini dipraktikkan.

Pada akhirnya, gagasan koalisi permanen tidak lahir dari ambisi ideologis tertentu, melainkan dari kebutuhan mengelola konflik elite dan menjaga stabilitas pemerintahan. 

"Dalam sistem presidensial yang koalisinya terlalu cair pasca-pemilu, pembatasan partai pemerintah justru diperlukan agar konflik internal tidak terus dipertontonkan ke publik dan oposisi memiliki posisi yang jelas dalam sistem demokrasi," pungkasnya.


Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Ketika Gerakan Sosial Baru Menggugat Tatanan Politik

Selasa, 20 Oktober 2026 | 00:15

Ada Demo Mahasiswa, Masyarakat Diimbau Hindari Kawasan Monas

Selasa, 20 Oktober 2026 | 00:00

Cegah Perpecahan, Bagusnya Gibran Mundur

Senin, 19 Oktober 2026 | 23:38

Ada Indikasi Dendam Politik di Balik Wacana Pelengseran Gibran

Senin, 19 Oktober 2026 | 23:24

Legislator PKB Serahkan Bantuan bagi Korban Kebakaran di Majalengka

Senin, 19 Oktober 2026 | 23:01

Realisasi Investasi Hingga Kuartal III Sentuh Rp1.539 T

Senin, 19 Oktober 2026 | 22:58

Dua Tahun Pemerintahan Prabowo, Investasi Tembus Rp3.923 Triliun

Senin, 19 Oktober 2026 | 22:58

Ferry Juliantono Terpilih Jadi Presiden Syarikat Islam

Senin, 19 Oktober 2026 | 22:53

Masyarakat Adat Wanam Merauke Butuh Pelatihan Pertanian Berkelanjutan

Senin, 19 Oktober 2026 | 22:45

BEM-KSI Gelar Silaturahmi ke PBNU dan Beri Apresiasi ke Gus Gudfan

Senin, 19 Oktober 2026 | 22:29

Selengkapnya