Berita

Mata uang Rupiah dan Dolar AS. (Foto: Artificial Inteligence)

Politik

Proyeksi 2026: Rupiah Tertekan, Konsumsi Masyarakat Melemah

MINGGU, 28 DESEMBER 2025 | 20:45 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Tahun 2026 akan menjadi masa yang cukup berat bagi masyarakat Indonesia. Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi melemah dan memengaruhi harga barang sekaligus menurunkan konsumsi masyarakat.

Demikian antara lain disampaikan ekonom Bright Institute, Yanuar Rizky mencermati analisa pakar ekonomi Prof Ferry Latuhihin yang meramal nilai tukar Rupiah bisa tembus 18.000 per Dolar AS akhir tahun 2026.

Ramalan tersebut diperkuat dengan fenomena perjanjian privat atau pasar forward, yakni perjanjian dua pihak untuk membeli dan menjual aset seperti mata uang, komoditas, atau suku bunga di tanggal tertentu di masa depan, dengan harga yang sudah disepakati hari ini.


Yanuar menyebutkan, skema pasar forward adalah NDF (Non-Deliverable Forward), yang berarti kontrak derivatif valuta asing digunakan untuk lindung nilai atau spekulasi nilai tukar mata uang. 

Dengan skema tersebut, Yanuar justru khawatir prediksi Prof Ferry bisa terjadi lebih cepat, bukan terjadi akhir tahun melainkan di awal tahun 2026 dengan perkiraan angka Rp18.000 per Dolar AS.

"Prof Ferry benar enggak? Benar. Tapi mungkin tidak akhir tahun, kenapa? Karena kalau dilihat di NDF-nya, NDF tiga bulan berikutnya gede lagi," ujar Yanuar dikutip redaksi, Minggu, 28 Desember 2025.

Dia mengungkap, pasar forward skema NDF dilakukan oleh para konglomerat di Indonesia, dan membuat pertukaran uang di masyarakat juga semakin sedikit.

"Sekarang misalnya nanti (Rupiah) Rp16 Ribu/Dolar AS, tiga bulan berikutnya mungkin jadi Rp17 (ribu/Dolar AS), Rp18 (ribu/Dolar AS tiga bulan berikutnya), ini soal waktu saja. Bagi orang-orang kaya, ini cuan (menguntungkan)," tutur Yanuar.

"Sekarang pertanyaannya dampak buat masyarakat kebanyakan? Susu naik, barang impor naik, daya beli turun," sambungnya.

Oleh karena itu, Yanuar menduga depresiasi Rupiah terhadap Dolar AS akan benar-benar terjadi tahun 2026. Akibatnya bisa menurunkan konsumsi masyarakat.

"Artinya Rupiah di tahun 2026 dapat tekanan luar biasa akibat dari transaksi forward yang sudah dibentuk dari hari ini, di 3 bulan, 6 bulan, dan 1 tahun ke depan," tutup Yanuar.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Kejagung Diminta Awasi Ekstra Proyek Pembangunan IKN

Selasa, 22 September 2026 | 22:15

Suahasil Beberkan Tiga Jurus Perkuat Pengawasan Bea Cukai, Apa Saja?

Selasa, 22 September 2026 | 21:51

KPK Didesak Periksa Nusron agar Tak Muncul Spekulasi Liar

Selasa, 22 September 2026 | 21:21

Jangan Omon-omon, Pelaksanaan MBG Harus Dipersempit ke Daerah 3T

Selasa, 22 September 2026 | 21:21

Raja Juli Sepi, Muncul Nusron

Selasa, 22 September 2026 | 21:12

Pakai Amine System, SP-ABG Pertamina Turunkan CO2 pada Gas jadi 5%

Selasa, 22 September 2026 | 21:07

Selebgram Jule Hanya Pemakai Etomidate, Bukan Pengedar

Selasa, 22 September 2026 | 20:54

Wacana Pencalonan Presiden-Wapres Cukup Didukung Dua Fraksi Ingkari Putusan MK

Selasa, 22 September 2026 | 20:36

KPK Kembali Sita Mobil Vinna Ledy Anggraheni Hasil Pemberian Pengusaha

Selasa, 22 September 2026 | 20:18

Swing Voters dan Pilkades Bekasi 2026

Selasa, 22 September 2026 | 19:59

Selengkapnya