Berita

BPJS Kesehatan.(Foto: Istimewa)

Publika

Jaminan dan Pelayanan Kesehatan Indonesia 2025: Angka Tinggi, Rasa Aman Masih Rendah

SABTU, 27 DESEMBER 2025 | 00:01 WIB | OLEH: AGUNG NUGROHO*

INDONESIA menutup tahun 2025 dengan narasi kemenangan statistik: kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) per Juli 2025 telah mencapai 280,7 juta jiwa atau 98,7 persen penduduk. 

Angka itu digembar-gemborkan sebagai bukti negara hadir melindungi kesehatan warganya. Namun di ruang IGD, kartu peserta bukan jaminan pertolongan. 

Hak kesehatan diuji bukan melalui presentasi angka, tetapi oleh ketersediaan dokter, obat, ruang rawat, dan keputusan klinis yang tidak boleh menolak pasien.


Dari jumlah peserta tersebut, yang benar-benar berstatus aktif hanya sekitar 225,3 juta jiwa. Artinya, sekitar seperlima penduduk berada dalam status “terdaftar tetapi tidak terlindungi”. 

Banyak warga baru menyadari mereka tidak aktif ketika terbaring dan butuh tindakan medis. Negara sibuk mendata, tetapi gagal memastikan bahwa setiap kartu yang dicetak berarti akses yang nyata.

Potret pelayanan kesehatan semakin menegaskan paradoks itu. Indonesia hanya memiliki sekitar 216.132 dokter dengan rasio 0,76 per 1.000 penduduk. 

Angka ini masih di bawah target nasional 0,8, dan timpang secara geografis: DKI Jakarta memiliki 2,53 dokter per 1.000 penduduk, sementara Papua Barat hanya 0,02. Tempat tinggal masih menjadi penentu peluang hidup. 

Jika lahir di ibu kota, peluang sembuh lebih besar dibanding mereka yang hidup di ujung Nusantara.

Di fasilitas layanan, persoalan klasik masih menghantui: antrean poli yang mengular, radiologi tanpa petugas jaga, dan puskesmas yang kehabisan obat esensial. 

Tingginya beban layanan JKN -- sekitar 673,9 juta kunjungan pada 2024 -- memperlihatkan kebutuhan besar di lapangan. Tetapi sistem pelayanan kesehatan primer jelas belum siap menjadi pintu depan yang menyelesaikan masalah kesehatan masyarakat tanpa rujukan berlapis.

Sisi pembiayaan menambah daftar kegelisahan. BPJS Kesehatan masih mencatat defisit dalam beberapa tahun terakhir karena beban klaim lebih besar dari iuran. 

Di ruang publik, keluarga miskin masih harus membayar biaya non-medis, transportasi, dan obat yang tidak ditanggung. Sakit, bagi jutaan rakyat, masih berarti pilihan sulit antara sembuh atau kehilangan penghasilan.

Kasus-kasus yang terjadi sepanjang tahun adalah alarm yang seharusnya mengguncang nurani negara. 

Di Batam, seorang anak peserta BPJS dibawa pulang karena keluarga tak sanggup menanggung biaya tambahan -- ia meninggal beberapa jam kemudian. 

Di Jayapura, pasien gawat darurat diduga ditolak beberapa rumah sakit sebelum kehilangan nyawanya. 

Ombudsman menegaskan praktik penolakan pasien sebagai bentuk maladministrasi. Namun bagi keluarga korban, istilah itu terlalu dingin untuk menggambarkan kehilangan.

Jika outcome kesehatan adalah indikator final, bangsa ini belum layak merayakan keberhasilan. 

Stunting memang menurun, tetapi tetap meninggalkan jutaan balita tumbuh dalam kekurangan. 

Angka kematian ibu tidak menggambarkan rasa aman. Kartu jaminan kesehatan belum otomatis menjamin seorang ibu pulang selamat dari ruang bersalin.

Refleksi akhir tahun seharusnya bukan perayaan presentase, tetapi keberanian menatap kekurangan. 

Indonesia berhasil mendata penduduk sebagai peserta jaminan. Tetapi belum berhasil memastikan pelayanan yang merata, manusiawi, dan cepat. 

Universal Health Coverage tidak boleh berhenti sebagai proyek statistik di kantor-kantor kementerian. Ia harus menjadi proyek rasa aman yang dirasakan sampai pelosok desa dan ruang IGD.

Tahun 2026, pertanyaan negara harus bergeser: bukan lagi “berapa banyak peserta JKN?”, tetapi “berapa banyak nyawa yang berhasil diselamatkan?”. 

Bukan lagi “berapa besar anggaran?”, tetapi “berapa kecil ketakutan rakyat ketika jatuh sakit?”.

Selama seorang warga masih menggigil sebelum masuk rumah sakit karena takut ditolak atau takut tidak mampu membayar ongkos pulang, republik ini belum hadir sepenuhnya.

Bangsa ini belum sehat selama rakyatnya masih takut untuk sakit.


Ketua Umum Rekan Indonesia

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

KPK Periksa Pejabat Pemprov Jatim di Kasus Dana Hibah

Senin, 13 Juli 2026 | 14:40

Panen Raya TNI, Presiden Prabowo: Saya Bahagia Hari Ini

Jumat, 17 Juli 2026 | 22:57

UPDATE

Perjalanan Karier Nanik S Deyang dari Jurnalis hingga Pimpin Dewan Pengawas BGN

Rabu, 22 Juli 2026 | 10:23

Deklarasi Gus Kikin Maju Ketum PBNU Tuai Protes Sejumlah PCNU Jatim

Rabu, 22 Juli 2026 | 10:13

Pesan Menag di FABC: Sinodalitas Gereja Cermin Musyawarah dan Gotong Royong

Rabu, 22 Juli 2026 | 10:08

Prabowo Restui Pengunduran Diri Nanik dari BGN, Siapkan Dewan Pengawas Baru

Rabu, 22 Juli 2026 | 10:06

Emas Antam Mulai Naik, Harga Buyback Tembus Rp2,38 Juta per Gram

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:51

Prabowo Puji Keterlibatan Perwira TNI-Polri dalam Penanganan Bencana Sumatera

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:51

Saat Jakarta jadi Jembatan Persaudaraan Asia

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:45

IHSG Menguat, Rupiah Tertekan Rp17.913 per Dolar AS Jelang Rilis Suku Bunga BI

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:34

KPK Bongkar Dugaan Penyamaran Aset Bupati Lombok Barat, Pasal TPPU Disiapkan

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:29

Ancaman Houthi Guncang Pasar, Harga Minyak Sentuh Level Tertinggi

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:24

Selengkapnya