Berita

Ilustrasi pendidikan belum maju. (Foto: Artificial Inteligence)

Publika

Arsitektur Nalar, Menata Ulang Nurani Pendidikan

KAMIS, 25 DESEMBER 2025 | 14:13 WIB | OLEH: YUDHI HERTANTO

BERADAB! Kerangka penting pendidikan adalah membangun peradaban bangsa. Tentu saja tidak akan cukup hanya dengan mencetak jumlah lulusan dalam aspek kuantitas. Dibutuhkan juga kualitas, dan yang terpenting adalah mendesain integritas etika dan moralitas.

Deretan gelar akademis, menjadi faktor pendukung dari substansi nilai-nilai dasar individu. Fenomena yang terjadi saat ini menunjukkan jurang mengkhawatirkan, banyak orang "pintar" menguasai angka, namun seringkali gagal dalam penalaran kritis dan problematika moral.

Banyak lulusan perguruan tinggi yang secara intelektual mumpuni, justru terjebak dalam tindakan seperti korupsi atau ketidakjujuran akademik. Perlu navigasi sistem pendidikan agar tidak hanya menghasilkan penguasaan kemahiran teknis tetapi juga tentang yang etis.


Logika: Bukan Rumus

Salah satu fundamental penting dalam pendidikan adalah mengasah logika. Hal itu tentu saja bukan sekedar perkara matematika dalam perihal silogisme. Sejatinya, logika adalah pintu utama dalam mendapatkan pengetahuan yang benar.

Tanpa upaya menguasai logika,, pendidikan hanya menghasilkan hafalan tanpa pemahaman mendalam. Dengan begitu, logika berfungsi sebagai instrumen pengatur nalar agar kita tidak terjebak dalam kesesatan berpikir (fallacy) yang sering berujung pada perilaku keliru.

Terlebih dalam kehidupan yang terdigitalisasi. Di era dimana informasi meluap, kemampuan untuk membedakan antara fakta dan opini menjadi keterampilan bertahan hidup (survival skill) yang krusial. Pendidikan harus mampu membimbing penalaran sistematis dan dapat dipertanggungjawabkan.

Tiga Pilar Filosofi

Dunia pendidikan perlu ditinjau dari kerangka filosofi, sehingga dapat secara utuh dipahami atas posisi saat ini dan arah ke depan. Pada kajian ontologi -substansi, maka hakikat pendidikan, bukan sekadar kurikulum, melainkan tentang manusia sebagai subjek yang belajar.

Sementara itu, di tingkat epistemologi -bagaimana, pendidikan yang semakin berkembang dalam abad dan kehidupan digital menempatkan sumber pengetahuan bukan lagi hanya buku teks, menjadi kombinasi antara data empiris, nalar rasional, hingga intuisi.

Pada ranah aksiologi -nilai, pendidikan diterjemahkan sebagai sebuah kegagalan jika yang terjadi hanyalah transfer kognitif, namun mengabaikan pembentukan karakter, etika, dan tanggung jawab sosial. Di setiap pilar itu, pendidikan perlu direposisi dan dibenahi.

Masa Depan, Pintar Tak Cukup

Salah satu hal yang vital dan signifikan adalah pemenuhan sisi spiritualitas. Perspektif pendidikan agama melengkapi narasi tersebut. Berbeda dengan teori tabula rasa yang menganggap anak lahir sebagai kertas putih, khususnya pada pendidikan Islam mendasarkan teori Fitrah, sebagai potensi manusia untuk menerima kebenaran dan perilaku suci.

Dengan demikian, terbentuk dimensi manusia paripurna yang memiliki keseimbangan antara kecerdasan intelektual serta kekuatan spiritual. Dalam konteks itu, ilmu pengetahuan menjadi sarana untuk mewujudkan kesejahteraan bagi sesama manusia melalui etika profetik.

Dunia pendidikan berada di titik kritis. Tantangan digitalisasi dan kecerdasan buatan (AI) menuntut kurikulum adaptif, sekaligus berakar pada nilai kemanusiaan. Perlu kesadaran penuh bahwa teknologi hanya perangkat, sementara nilai spiritual dan etika menjadi kunci utama, agar kemajuan modernitas tidak menyebabkan dehumanisasi.

Pendidikan masa depan, harus merevisi pola lama yang hanya mementingkan angka ujian. Dibutuhkan sistem yang menghargai proses, khususnya dalam mendorong keberanian berpikir kritis, dan menjunjung tinggi nilai kejujuran serta kebermanfaatan sosial.

Perlu arsitektur strategis bernalar serta berlogika filosofis, agar pendidikan tidak hanya melahirkan robot pintar yang miskin nurani. Sehingga, melahirkan pemimpin bangsa yang bijaksana serta mampu menjawab kompleksitas zaman dengan keteguhan integritas moral. Semoga saja!

Doktoral Ilmu Pendidikan Universitas Indraprasta PGRI

Populer

Jokowi Layak Digelari Lambe Turah

Senin, 16 Februari 2026 | 12:00

Roy Suryo Cs di Atas Angin terkait Kasus Ijazah Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 12:12

Keputusan KIP Kuatkan Keyakinan Ijazah Jokowi Palsu

Minggu, 22 Februari 2026 | 06:18

Jokowi Makin Terpojok secara Politik

Minggu, 15 Februari 2026 | 06:59

Lima BPD Berebut Jadi Tuan Rumah Munas BPP HIPMI XVIII

Minggu, 15 Februari 2026 | 12:17

Kasihan Banyak Tokoh Senior Ditipu Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 14:19

Partai Politik Mulai Meninggalkan Jokowi

Selasa, 17 Februari 2026 | 13:05

UPDATE

Kemenkop Akselerasi Penerima PKH Jadi Anggota Kopdes Merah Putih

Selasa, 24 Februari 2026 | 21:44

DPR Wajib Awasi Partisipasi Indonesia di BoP dan ISF

Selasa, 24 Februari 2026 | 21:42

Polisi Gadungan Penganiaya Pegawai SPBU Dibekuk

Selasa, 24 Februari 2026 | 21:18

BPC HIPMI Rembang Dukung Program MBG Lewat Pembangunan SPPG

Selasa, 24 Februari 2026 | 20:56

Posisi Strategis RI di Tengah Percaturan Geopolitik

Selasa, 24 Februari 2026 | 20:55

Pertamina Harus Apresiasi Petugas SPBU Disiplin SOP Hingga Dapat Ancaman

Selasa, 24 Februari 2026 | 20:21

Menkop Ajak Seluruh Pihak Kolaborasikan KDKMP dan PKH

Selasa, 24 Februari 2026 | 20:19

Setop Alfamart dan Indomaret Demi Bangkitnya Kopdes

Selasa, 24 Februari 2026 | 19:52

PDIP soal Ambang Batas Parlemen: Idealnya Cukup 5-6 Fraksi di DPR

Selasa, 24 Februari 2026 | 19:29

BNI Ingatkan Bahaya Modus Phishing Jelang Lebaran

Selasa, 24 Februari 2026 | 19:25

Selengkapnya