Berita

Prabowo Subianto (kanan) bersama Joko Widodo (kiri). (Foto: Fraksigerindra.id)

Bisnis

Ekonomi 2026, Prabowo Tak Bisa Lagi Berlindung di Balik Jokowi

SELASA, 09 DESEMBER 2025 | 08:59 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Tahun 2026 disebut bakal menjadi tahun penentuan bagi pemerintahan Presiden terpilih Prabowo Subianto. Alasan warisan kebijakan era Presiden Joko Widodo tidak bisa dijadikan tameng sebab semua sudah sepenuhnya berada dalam kendali Prabowo.

Hal itu ditegaskan Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, dalam diskusi publik “Outlook Politik Ekonomi” di Universitas Paramadina, Jakarta, Senin 8 Desember 2025.

"Tahun 2026 teramat penting bagi semuanya. Menjadi penting karena Prabowo tidak lagi bisa menarasikan bahwa dia mewarisi kebijakan-kebijakan Jokowi karena sudah satu tahun semua di bawah control Prabowo," kata Wijayanto.


Menurut dia, arti penting 2026 juga terletak pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang benar-benar disusun berdasarkan visi, program, dan arahan presiden. Dengan demikian, persoalan kekurangan anggaran tidak lagi bisa menjadi alasan.

"Jadi masalah anggaran, potensi penerimaan dan alokasi telah disusun dan dijalankan. Tidak ada alasan lagi bahwa program-program tidak mendapatkan pendanaan yang memadai," ujarnya lagi

Tahun depan, kata Wijayanto, publik akan mulai menguliti hasil kerja pemerintahan Prabowo secara lebih keras. Beda dengan saat ini dimana publik masih memaklumi karena situasi transisi.

"Pada 2025 publik masih memahami karena situasi mendesak, waktu mepet, fiskal tidak mendukung. Tapi pada 2026  publik akan menuntut lebih dari program-program unggulan tersebut," urai dia.

Tak kalah penting, pertumbuhan ekonomi 2026 akan menjadi tolok ukur utama untuk membuktikan ambisi pertumbuhan 8 persen yang selama ini digaungkan Prabowo. Jika tercapai maka pemerintahan akan dianggap sangat kredibel oleh masyarakat.

"Tetapi jika angkanya tidak sesuai diharapkan, kredibiltas akan berkurang karena banyak janji yang ternyata tidak sesuai dengan apa yang disampaikan," tambahnya. 

Dari sisi global, pertumbuhan ekonomi dunia memang diprediksi sedikit membaik dari 3 persen pada 2025 menjadi 3,1 persen pada 2026. Namun, kondisi itu belum tentu menguntungkan Indonesia.

"Masalahnya, partner dagang Indonesia mayoritas mengalami pertumbuhan yang justru melambat pada 2025 ini. China, Filipina, Malaysia, India, Jepang, semua melambat. Amerika Serikat stagnan. Korea Selatan naik tapi transaksi ekonomi dengan Indonesia tidak begitu signifikan," urainya.  

Ia menambahkan prediksi bahwa ekspor akan menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi perlu dikaji ulang sebab struktur ekspor Indonesia masih sangat bergantung pada komoditas.

"Terlebih 60 persen tren ekspor kita adalah komoditas dan enam komoditas utama mewakili 42 persen ekspor total. Dari enam komoditas utama tiga diantaranya cenderung turun. Batubara, CPO, nikel. Sedangkan tembaga, LNG, timah masih naik," jelasnya.

Dari sisi domestik, Wijayanto menyoroti perubahan struktural neraca pembayaran Indonesia pasca-pandemi Covid-19, terlihat dari transaksi berjalan dan transaksi finansial. Transaksi berjalan menunjukkan impor yang kian tinggi, sementara beban utang dan cicilan bunga melonjak tajam.

"Untungnya angka ekspor naik, jadi masih bisa menahan tekanan," jelasnya lagi.

Namun, di sisi transaksi finansial justru terlihat stagnasi. Aliran modal asing, baik dalam bentuk investasi langsung (FDI) maupun investasi portofolio, melambat padahal dana ini penting untuk menopang pembiayaan ekonomi.

"Meski inflow melambat cadangan devisa tetap meningkat. Ini fenomena yang perlu dicermati serius," tutup Wijayanto. 

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Penyerahan Aset Hasil Kejahatan ke Negara jadi Benchmark Baru Penegakan Hukum

Rabu, 07 Oktober 2026 | 22:12

Polda Kalteng Berjibaku Lakukan Pembasahan di Area Titik Panas

Rabu, 07 Oktober 2026 | 21:59

Mazhab Tebet dan Pokok-pokok Pikiran Ekonomi Heterodoks

Rabu, 07 Oktober 2026 | 21:51

Peringati Hari Tani, PalmCo Dorong Kemandirian KUD Melalui Tata Kelola Sawit Berkelanjutan

Rabu, 07 Oktober 2026 | 21:44

Melihat Sahara dari Denyut Pembangunan

Rabu, 07 Oktober 2026 | 21:27

3.474 Napi Pindah ke Nusakambangan, 115 dari Rutan Depok

Rabu, 07 Oktober 2026 | 21:04

Bos Danantara Ungkap Hilirisasi Dongkrak Ekspor Nikel RI 10 Kali Lipat

Rabu, 07 Oktober 2026 | 20:55

KPK Geledah Dinkes Pemkot Madiun, Sita Dokumen hingga Uang Tunai

Rabu, 07 Oktober 2026 | 20:32

Titiek Soeharto Diminta Turun Gunung Pimpin FKPPI

Rabu, 07 Oktober 2026 | 20:25

RUU Migas dan BUK Migas Harus Menyalakan Kembali Mesin Eksplorasi Indonesia

Rabu, 07 Oktober 2026 | 20:01

Selengkapnya