Berita

Seorang bocah berjalan meniti kayu yang memenuhi area Pondok Pesantren Darul Mukhlishin pascabanjir bandang di Desa Tanjung Karang, Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Jumat 5 Desember 2025. (Foto: ANTARA FOTO/Erlangga Bregas Prakoso)

Publika

Menuai Bencana Alam

SELASA, 09 DESEMBER 2025 | 04:48 WIB | OLEH: TEUKU GANDAWAN XASIR*

INDONESIA sering disebut sebagai paru-paru dunia, rumah bagi hutan tropis yang luas, kaya, dan indah. Kita bangga dengan itu. Kita mempromosikannya di brosur pariwisata, video pemerintah, dan pidato-pidato resmi.

Tetapi dalam kehidupan nyata, kita membiarkan paru-paru itu rusak, ditebang, digunduli, lalu diganti dengan deretan sawit yang kering, rapuh, dan sama sekali tidak bisa menggantikan fungsi hutan. Kita membiarkannya dihancurkan bukan hanya oleh penebangan liar, tetapi juga oleh ekspansi sawit yang brutal dan pembukaan pertambangan yang menghancurkan bukit, sungai, dan tanah tanpa memikirkan masa depan.

Akhirnya, yang kita tuai adalah banjir, longsor, kekeringan, kebakaran, kerusakan lingkungan, kerugian ekonomi, dan bahkan kematian. Semua ini bukan musibah yang jatuh dari langit. Ini adalah hasil dari ulah kita sendiri.


Padahal, menebang hutan untuk memenuhi kebutuhan industri kayu sebenarnya bukan masalah. Menebang secara terukur adalah bagian dari siklus alam dan ekonomi. Industri kayu seperti plywood, kayu gergajian, furnitur, pulp and paper, hingga konstruksi memang memerlukan pasokan kayu. Sepanjang dilakukan dengan aturan yang benar-tebang pilih, tebang sesuai kuota, dan wajib reboisasi -kegiatan ini adalah hal yang wajar. Negara-negara maju sudah membuktikan bahwa hutan bisa tetap lestari sekaligus mendukung ekonomi, asalkan pengelolaannya konsisten.

Yang menjadi masalah di Indonesia adalah praktik brutalnya: volume tebang yang berlebihan, pengawasan yang longgar, pembiaran terhadap penebangan liar, dan reforestisasi yang hanya menjadi jargon tanpa tindakan nyata.

Hutan ditebang ribuan hektare, tetapi yang ditanam kembali tidak sampai sepersepuluhnya. Bahkan yang ditanam pun sering dibiarkan mati tanpa perawatan. Filosofinya sederhana: menebang menghasilkan uang, menanam tidak menghasilkan apa-apa. Maka jadilah hutan tropis digunduli perlahan, tanpa rasa bersalah.

Padahal hutan tropis bukan hanya kumpulan pohon. Ia adalah sistem yang rumit dan kuat. Ia memegang tanah agar tidak longsor, menyerap air agar tidak banjir, melepas uap air agar udara tidak panas, dan menyediakan rumah bagi ribuan spesies yang menjaga keseimbangan alam. Ketika hutan rusak, semua fungsi itu hilang dalam sekejap.

Di atas kerusakan itu, muncullah kesalahan besar yang terus diulang bertahun-tahun: mengganti hutan tropis dengan hutan sawit. Ada yang membela sawit sebagai “hutan produksi”, tetapi itu adalah kekeliruan fatal. Sawit bukan hutan. Sawit hanya tanaman industri.

Tidak ada burung rangkong di kebun sawit. Tidak ada harimau Sumatra yang bisa hidup di bawahnya. Tidak ada sungai yang tetap jernih di sekitarnya. Yang ada hanyalah deretan pohon identik yang mematikan semua kehidupan lain. Sawit memang menghasilkan uang bagi sebagian pihak, tetapi kerusakannya dirasakan oleh seluruh masyarakat.

Saat musim kemarau, kebun sawit kering seperti jerami. Ia mudah terbakar. Dan ketika terbakar, asapnya menutupi langit, menyiksa jutaan orang. Saat musim hujan, akar sawit yang pendek tidak mampu menahan air. Hujan sedikit saja bisa berubah menjadi banjir bandang yang menghanyutkan rumah dan manusia. Inilah kenyataan yang jarang diakui: sawit menguntungkan segelintir orang dan merugikan jutaan lainnya.

Bahkan logika industrinya pun tidak berkelanjutan. Untuk mengejar ekspor CPO dan produksi biofuel, lahan harus terus dibuka. Ekspansi tanpa henti seperti ini sama dengan menggali lubang bencana masa depan. Biofuel yang digembar-gemborkan sebagai energi hijau justru lahir dari proses yang menghancurkan hutan. Ini ironi terbesar kita.

Belum selesai sampai di situ, bencana diperburuk oleh pembukaan pertambangan yang juga dilakukan secara brutal. Gunung dikeruk, tanah disobek, sungai dialihkan, hutan dibabat habis. Pertambangan nikel, emas, batu bara, timah, bauksit -semuanya membuat kerusakan yang tidak terlihat langsung, tetapi dampaknya sangat menghancurkan. Tanah yang kehilangan vegetasi menjadi rapuh dan mudah longsor.

Sungai-sungai menjadi cokelat pekat karena lumpur dan limbah tambang. Air minum masyarakat tercemar logam berat yang berbahaya. Lingkungan berubah seketika, dan kehidupan masyarakat sekitar tambang ikut berubah menjadi penuh risiko. Banyak lubang tambang dibiarkan begitu saja setelah selesai dieksploitasi. Lubang itu berubah menjadi perangkap maut, menelan korban, terutama anak-anak. Pertambangan yang seharusnya memberikan manfaat ekonomi malah meninggalkan luka abadi di tanah kita.

Di tambah lagi, kerusakan diperparah oleh pembangunan infrastruktur dan ekspansi kota yang tidak pernah memikirkan keseimbangan ekologis. Jalan tol dibangun, tetapi sawah dan hutan yang dikorbankan tidak pernah diganti. Kota dibangun gedung demi gedung, beton demi beton, tetapi ruang terbuka hijau dihapuskan.

Hasilnya? Kota-kota di Indonesia berubah menjadi oven raksasa yang memantulkan panas siang hari dan tidak melepaskannya di malam hari. Suhu meningkat dari tahun ke tahun. AC menyala lebih lama. Energi boros. Hutan kota yang seharusnya menjadi penyelamat tidak diperjuangkan, tidak dilindungi, bahkan tidak dianggap penting.

Reforestisasi yang seharusnya menjadi solusi malah hanya jadi slogan dalam pidato. Tanam sejuta pohon, katanya. Tapi berapa yang bertahan hidup? Berapa yang dirawat? Berapa yang kembali membentuk hutan? Jawabannya: sangat sedikit. Kita selalu berjanji menanam kembali, tetapi dalam kenyataannya kita lebih sibuk menebang daripada menanam. Kita lebih rajin membuka lahan daripada memulihkannya.

Anehnya, kita tahu kota makin panas, tetapi tetap menolak menanam pohon. Kita tahu banjir makin sering, tetapi tetap menutup daerah resapan air dengan beton. Kita tahu iklim berubah drastis, tetapi tetap menyalahkan alam, bukan diri sendiri. Kita berperilaku seolah bencana adalah risiko biasa yang harus diterima, padahal bencana itu lahir dari pilihan kita sendiri. Ketika Aceh, Sumut, dan Sumbar kebanjiran besar, ketika desa-desa tersapu longsor, ketika sungai tiba-tiba meluap, itu bukan karena hujan terlalu besar. Itu karena hutannya sudah rusak, tanahnya sudah rapuh, airnya tidak lagi ditahan akar-akar pohon besar.

Hutan tropis adalah penjaga terakhir kita. Ia pelindung yang setia selama ribuan tahun. Menebangnya secara terukur untuk industri kayu adalah hal wajar. Tetapi menebangnya secara brutal, menggantinya dengan sawit monokultur, dan merusaknya dengan pertambangan tanpa kontrol adalah tindakan bunuh diri perlahan. Kita sedang menghancurkan fondasi hidup kita sendiri. Dan ketika fondasi itu runtuh, bencana tidak hanya merusak, tetapi juga mematikan.

Kalau kita tidak segera sadar, Indonesia akan terus menjadi negeri yang setiap tahunnya menunggu bencana. Kita akan terus melihat berita banjir besar, longsor, ribuan orang mengungsi, dan anak-anak yang meninggal karena lingkungan yang hancur. Kita akan terus menyalahkan alam, padahal alam hanya mengembalikan apa yang kita lakukan padanya.

Hutan tropis bukan sekadar kumpulan pohon. Ia adalah kehidupan. Menghancurkannya sama saja dengan menghancurkan diri sendiri. Dan jika kita terus melakukannya secara brutal, maka bencana alam dan kematian akan menjadi warisan kelam yang kita tinggalkan bagi generasi berikutnya. Ini jelas bukan pembangunan yang berkelanjutan. Kita tidak boleh membiarkan itu terus terjadi.

Kita masih bisa memperbaiki. Tapi untuk memperbaiki, langkah pertama adalah berhenti berpura-pura bahwa semua baik-baik saja. Kita harus sadar sedang berada di tepi jurang, dan saatnya berhenti menggali.

*Penulis adalah Ketua Bidang Kajian Kebijakan Nasional IA-ITB, Mahasiswa Magister Medkom Komunikasi Krisis Universitas Pancasila, Konsultan dan Praktisi IT.

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

ANTAM Pertahankan Posisi di Tiga Indeks ESG KEHATI Periode Juni–November 2026

Jumat, 19 Juni 2026 | 12:22

Dari Korupsi BGN ke RUU HAM: Meninjau Korban yang Terlupakan

Jumat, 19 Juni 2026 | 12:02

KSAU Resmikan Skadron Udara 18 di Lanud Halim, Perkuat Dukungan Penerbangan Kenegaraan

Jumat, 19 Juni 2026 | 12:01

Pimpinan DPR Siap Temui Mahasiswa yang Demo di Parlemen Hari Ini

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:57

PGN Gelar Program Bedah Dapur GasKita 2026 demi Manjakan Pelanggan

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:45

KPK Dalami Peran Mertua Menpora Dito Ariotedjo dalam Skema Kuota Haji 50:50

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:42

BPJPH dan ESQ Siapkan SDM Tangguh Hadapi Wajib Halal 2026

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:37

Sugiono Sampaikan Salam Prabowo untuk Putin, Minta Maaf Absen di KTT ASEAN-Rusia

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:35

Harga Minyak Dunia Stabil saat Selat Hormuz Kembali Dibuka

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:27

93 Sekolah Rakyat Permanen Hampir Rampung, Mensos Imbau Pemda Perkuat Kolaborasi

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:09

Selengkapnya