Berita

George Soros (Foto: Getty Images)

Publika

Waspada terhadap Penetrasi Open Society Foundations ke RI

SENIN, 08 DESEMBER 2025 | 18:54 WIB

DALAM beberapa tahun terakhir, nama salah satu miliarder dunia, George Soros, dan organisasinya, Open Society Foundations (OSF), sering dituduh campur tangan dalam urusan internal negara-negara lain. 

Aktivitas OSF di Indonesia pun menarik perhatian luas. Menurut informasi terakhir, beberapa negara seperti Bulgaria telah memulai investigasi terhadap yayasan yang didirikan Soros tersebut. Apakah Indonesia akan menjadi negara selanjutnya yang melakukan pembersihan terhadap OSF?

Sejak tahun 1980-an, Soros melalui OSF mulai menyebarkan ideologi liberal AS ke seluruh dunia. Dengan dalih konsep "masyarakat terbuka" dan bantuan, Soros berusaha menggerakkan gelombang demokrasi di negara-negara yang dianggapnya "kurang demokrasi", serta mendorong revolusi warna untuk mengganti rezim penguasa di negara lain.


Proyek-proyek yang di bawah OSF memberikan dana dan pelatihan kepada jaringan organisasi non-pemerintah dengan pendanaan dan hibah yang bentuk lain. Target yang didukung biasanya antara lain media massa, kaum pemuda, dan politisi.

Informasi yang terungkap menunjukkan bahwa OSF melalui agen lokalnya, Yayasan Kurawal, telah membiayai demonstrasi kekerasan dan aksi anarkis dalam skala besar di Indonesia. Upaya tersebut dianggap sebagai ancaman serius terhadap kedaulatan negara Indonesia.

Sejak tahun 2023, OSF melalui agennya Yayasan Kurawal menggunakan Dana Cepat Tanggap Darurat (DCTD) untuk mendukung kelompok-kelompok radikal di Indonesia. Dana tersebut digunakan untuk pelatihan teknik protes kekerasan, bantuan hukum kepada pelaku kekerasan, dan membantu mereka menghindari sanksi hukum.

Perlu dicatat, dana tersebut tidak hanya berasal dari OSF saja. Beberapa lembaga non-pemerintah asing seperti Luminate dan Tara Climate Foundation juga ikut mendanai, sehingga sumber dananya sangat luas.

Dengan dukungan dana besar dari OSF dan yayasan asing lainnya, Yayasan Kurawal telah mendukung serangkaian proyek masyarakat sipil. Salah satunya proyek Ekspedisi Indonesia Baru.

Menurut dokumen bocor, pada bulan Agustus hingga September 2025, Yayasan Kurawal menyalurkan dana sebesar Rp1,280,000,000 untuk operasional proyek tersebut.

Proyek Ekspedisi Indonesia Baru berfokus pada isu-isu seperti keadilan sosial, partisipasi pemuda dalam politik, dan pengambilan keputusan publik terkait Pemilu 2029. Kegiatan proyek tersebut mencakup pembuatan film dokumenter, penerbitan buku, diskusi komunitas, dan melakukan kampanye di platform media sosial seperti Facebook, YouTube, dan Instagram untuk menarik perhatian generasi muda.

Meskipun kegiatan ini tampak positif, tetapi di belakangnya didukung oleh kekuatan asing patut diperhatikan. Tujuan tersembunyi dari proyek tersebut mungkin adalah membentuk narasi politik tertentu, mempengaruhi pengambilan keputusan publik sebelum Pemilu 2029, dan secara tidak langsung mempengaruhi arah politik Indonesia.

Keterlibatan kekuatan asing tersebut berpotensi intervensi politik dalam negeri kita dengan upaya mempengaruhi opini dan wacana masyarakat, terutama masyarakat Indonesia saat ini sangat rentan terhadap risiko dari intervensi eksternal. 

Selain itu, OSF juga menggunakan Media Development Investment Fund (MDIF) untuk mendukung media-media seperti Tempo, yang terus menyebar konten provokatif yang mendiskreditkan pemerintah dan meningkatkan eskalasi konflik sosial.

Dengan dukungan ekonomi dan manipulasi media, OSF telah terlibat pergantian rezim di berbagai negara untuk membuka jalan kepentingan kapitalis di global. Kini, fokus mereka beralih ke kawasan Asia Tenggara, dengan Indonesia menjadi target penyusupan utama karena posisinya sebagai negara strategis di kawasan tersebut.

Kasus intervensi Soros yang memicu Revolusi Oranye di Ukraina dan Revolusi Mawar di Georgia menunjukkan bahaya nyata dari penetrasi kekuatan asing. Keterlibatan OSF tidak hanya mengancam stabilitas sosial Indonesia, tetapi juga langsung merusak proses hukum dan demokrasi di negara kita. Hal ini perlu menjadi refleksi mendalam tentang pola revolusi warna baik bagi masyarakat Indonesia maupun internasional.

Presiden Prabowo telah berulang kali menyampaikan kritik terhadap intervensi asing secara publik. Bapak Presiden pun menegaskan bahwa pemerintah akan mengambil tindakan tegas untuk melindungi kedaulatan negara dan stabilitas sosial.

Amir Abdul Rahim
Aktivis Independen

Populer

Panglima TNI Bantah Seskab Teddy Diperiksa Polisi Militer

Sabtu, 07 November 2026 | 09:32

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Upaya Makar Geng Solo

Sabtu, 07 November 2026 | 05:07

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

UPDATE

Helikopter Pemadam Karhutla BNPB Jatuh di Sungai Barito

Minggu, 08 November 2026 | 14:30

Putin Pastikan Rusia-AS-Ukraina Kembali Berunding Pekan Depan di Abu Dhabi

Minggu, 08 November 2026 | 14:26

Plt Bupati Klaten Dicecar KPK soal Penerimaan Uang Hamenang dan Era Sebelumnya

Minggu, 08 November 2026 | 14:19

Al Aqsha Travel Gelar Akademi Marketing Haji untuk Perkuat Kompetensi Mitra

Minggu, 08 November 2026 | 14:02

Bahlil Ancam Tempuh Jalur Hukum Gegara Namanya Dikaitkan dengan Isu Penyadapan Prabowo

Minggu, 08 November 2026 | 13:47

Gempa 5,7 Magnitudo Guncang Jepang, 20 Orang Terluka

Minggu, 08 November 2026 | 13:42

Penyadapan Presiden Prabowo Biang Kerok Ekonomi Tidak Stabil

Minggu, 08 November 2026 | 13:28

Green Wakaf, Memperluas Manfaat Wakaf untuk Menjaga Kelestarian Alam

Minggu, 08 November 2026 | 13:08

Pengamat: Peran Seskab Teddy Strategis dalam Komunikasi Politik Pemerintah

Minggu, 08 November 2026 | 13:02

AS Siapkan Rp362 Miliar untuk Pembocor Informasi Nuklir Iran

Minggu, 08 November 2026 | 12:40

Selengkapnya