Berita

Ilustrasi (Artificial Inteligence)

Bisnis

Darurat Limbah Nikel: Pabrik Raksasa China di Morowali Terpaksa Pangkas Produksi

SELASA, 25 NOVEMBER 2025 | 12:35 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Industri nikel Indonesia menghadapi tantangan besar yang mengancam produksi, yaitu limbah nikel (tailings) yang menumpuk dan area penampungan yang hampir penuh.

Salah satu pabrik utama di Kawasan Industri Morowali (IMIP), QMB New Energy Materials (milik GEM China dan Tsingshan Holding Group), telah mulai mengurangi produksinya. Penurunan ini diperkirakan berlangsung setidaknya selama dua minggu ke depan.

Dikutip dari Bloomberg, Selasa 25 November 2025, perwakilan IMIP di Sulawesi mengonfirmasi bahwa operasional pabrik terpaksa diperlambat karena kapasitas area penampungan limbah QMB di dalam kawasan tersebut hampir penuh. Sementara itu, izin dokumen untuk lokasi penampungan limbah yang baru masih dalam proses.


Indonesia saat ini menyumbang lebih dari setengah produksi nikel dunia. Kunci dari lonjakan ini adalah metode pengolahan HPAL (High-Pressure Acid Leaching). HPAL memungkinkan pemanfaatan bijih nikel berkadar rendah dan berbiaya murah. Namun, metode ini menghasilkan volume limbah padat yang sangat besar, yang harus dikeringkan sebelum disimpan (dipadatkan).

Ekspansi industri yang begitu cepat ini memicu kekhawatiran dari para ahli. Mereka mempertanyakan apakah metode HPAL aman dan berkelanjutan di wilayah kepulauan tropis seperti Indonesia yang rentan terhadap hujan deras dan gempa bumi.

Mengingatkan: Isu limbah ini bukan yang pertama. Produksi QMB sempat terganggu tahun ini akibat insiden longsor mematikan di lokasi penampungan limbah mereka di IMIP.

Di sisi lain, produsen nikel HPAL juga menghadapi kenaikan biaya sulfur (bahan kimia penting). Namun, permintaan global untuk produk hasil olahan HPAL, seperti mixed hydroxide precipitate (MHP) yang mengandung nikel dan kobalt, justru menguat tahun ini. Kenaikan permintaan ini terbantu oleh adanya pembatasan ekspor kobalt dari Republik Demokratik Kongo.

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

KPK Temukan Dokumen Pengurusan Perkara Lain di Rumah Ayah Iptu Setya Budi Dias

Rabu, 12 Agustus 2026 | 22:18

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Boyamin Sebut Ada Dua Brankas Kosong di Rumah Febrie, Ini Respons Kejagung

Rabu, 12 Agustus 2026 | 11:14

UPDATE

DPR: Korporasi Penyebab Karhutla Harus Diberi Sanksi Berat

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 16:22

Pantau Karhutla Riau, Menteri Jumhur Diperlihatkan Inovasi Green Policing

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 15:22

Tanpa Masker, Prabowo Tinjau Langsung Karhutla di Kalbar

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 15:09

Sasar Ribuan Korban Gempa Nagekeo, BHS dan DLU Kirim Bantuan Logistik Hingga Mainan Edukatif

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:57

Karhutla Meluas hingga Permukiman Warga Banjarbaru

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:47

Segel 4 Lahan Konsesi, Menteri LH Bertolak ke Kalimantan Usai Pantau Karhutla Riau

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:29

Efek El Nino dan B50 Bikin Harga CPO Terbang ke Level Tertinggi

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:11

Kabut Asap Karhutla Makin Parah, Kabupaten Kotim Hentikan Sekolah Tatap Muka

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 13:40

Kalah Gugatan Privasi, Pangeran Harry Wajib Bayar Rp317 Miliar

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 13:24

Aliansi Mahasiswa DIY Soroti Ancaman Perampasan Ruang Hidup di Pracimantoro

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 13:12

Selengkapnya