Berita

Ilustrasi. (Foto: Artificial Intelligence)

Publika

Menjadi Tom Cruise

SENIN, 24 NOVEMBER 2025 | 12:00 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

MARI kita mulai dari pengakuan jujur yang hanya mungkin diucapkan oleh dua jenis manusia: para sufi yang sudah fana’ atau para aktor Hollywood yang sudah kehabisan kata-kata untuk menjelaskan prestasinya sendiri.

Tom Cruise jelas bukan kategori pertama, tapi kalimatnya , “Making films is who I am”, punya aroma mistik yang tak kalah dari dzikir malam para ahli tarekat. Ia bukan sekadar berkata “aku membuat film”, tapi “aku adalah film itu sendiri.”

Itu satu pengakuan identitas yang kalau diucapkan oleh orang lain mungkin terdengar lebay. Tapi, di mulut Cruise, pernyataan tersebut justru terasa seperti tesis panjang tentang jiwa manusia dan kamera yang tak pernah padam bertahun-tahun.


Orang sering meledek Cruise karena belum pernah menang Oscar. Katanya, mustahil seorang bintang sebesar itu tak punya satu pun piala emas yang jadi totem sakral Hollywood.

Tapi yah, hidup memang suka bercanda. Ada aktor yang menang Oscar hanya karena sekali coba. Ada pula yang seperti Cruise yang bertahun-tahun kerja gila-gilaan, tubuh babak-belur, tulang retak kiri-kanan, melompat dari gedung, tergantung dari pesawat, nyaris wafat karena adegan sendiri, tapi tetap pulang tanpa Oscar, patung kecil berlapis emas itu. Ibarat murid juara kelas tapi tetap tidak dipilih jadi ketua OSIS karena “kurang vibes”.

Namun akhirnya, pada satu malam di Los Angeles, dunia film seakan berkata, “Baiklah, Tom, kamu memang keras kepala, tapi kamu orangnya.” Dan diberikannya lah Honorary Oscar di acara Governors Awards.

Itu sejenis penganugerahan yang hanya jatuh kepada mereka yang tak lagi perlu pembuktian. Semacam gelar “kiai sepuh” dalam pesantren perfilman, bukan karena satu kitab, tapi karena seluruh hidupmu adalah kitab itu sendiri.

Di panggung Governors Awards itu, Cruise tidak berdiri sendirian seperti gladiator tua yang baru saja memenangkan laga terakhirnya. Ia berdiri sejajar dengan para legenda yang datang dari jalur berbeda seperti Dolly Parton sang penyanyi dermawan, Debbie Allen sang koreografer dan produser yang membesarkan generasi, serta Wynn Thomas sang arsitek visual layar lebar.

Mereka empat nama yang seperti empat arah mata angin seni mulai dari musik, gerak, rupa, hingga akting. Dan Cruise, pada usia 63 tahun, akhirnya datang membawa dirinya bukan sebagai pemenang Oscar, melainkan sebagai manusia yang diberi tempat duduk resmi di meja para tetua sinema.

Begitu namanya dipanggil, ruang Ray Dolby Ballroom mendadak berubah seperti gereja agung yang menerima kedatangan santo baru. Standing ovation berlangsung lama, sampai-sampai para bintang yang biasa bertepuk tangan ala kadarnya pun kini bersorak layaknya suporter klub sepak bola Spanyol.

Steven Spielberg berdiri paling awal, Leonardo DiCaprio ikut tepuk tangan sampai pipi memerah, Jerry Bruckheimer tampak bangga seperti ayah yang baru melihat anaknya lulus S3. Suasana begitu gaduh dan hangat hingga sejenak kita lupa bahwa ini Hollywood, bukan reuni keluarga besar yang saling memuji tanpa malu-malu.

Ketika Alejandro G. Iñárritu menyerahkan penghargaan itu, dunia perfilman seperti sedang menyodorkan stempel final bahwa Cruise bukan lagi sekadar aktor blockbuster, bukan sekadar maskot Mission: Impossible, tapi penjaga api sinema.

Dan ia tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dengan suara yang bergetar namun percaya diri, Cruise berbicara tentang para pembuat film yakni mereka yang berada di depan kamera, di balik kamera, bahkan yang tidak pernah muncul di daftar kredit tetapi memeras hidupnya demi adegan lima detik. Ia mengucapkan terima kasih kepada semua yang menemaninya selama 45 tahun kiprahnya, menyebut kekuatan film sebagai bahasa pemersatu dunia.

“Sinema membawaku mengelilingi dunia,” ucapnya. “Ia membuatku belajar menghargai perbedaan, sekaligus menyadari kemanusiaan kita yang sama.” Kalimat itu menggulung perlahan, seperti ombak kecil yang kemudian menabrak karang hati semua orang di ruangan itu.

Bahwa di dalam gelapnya ruang bioskop, orang kaya dan miskin, orang liberal dan konservatif, orang dari Jakarta maupun dari pedalaman Papua, semua bisa sama. Mereka tertawa bersama, menangis bersama, berharap bersama, bermimpi bersama.


Dan Cruise menyimpulkan dengan pukulan telak yang membuat udara di ruangan seketika berubah, “Jadi membuat film bukanlah apa yang kulakukan; itu adalah diriku.”

Perjalanan Tom Cruise tak lahir dari keberuntungan. Laki-laki ini masuk Hollywood seperti tentara menyerbu markas musuh yang disiplin, konsisten, dan doyan melakukan hal-hal berbahaya yang membuat sutradara sampai menandatangani asuransi sambil istighfar.

Ia mencuri perhatian dunia lewat Risky Business (1983), membuat sejarah lewat Top Gun (1986), memeras air mata lewat Rain Man (1988), lalu membuktikan kapasitas akting seriusnya lewat Born on the Fourth of July (nominasi Oscar pertamanya).

Karyanya Jerry Maguire memberinya nominasi kedua Oscar, dan Magnolia menghantarnya pada nominasi ketiga. Tapi piala? Tidak pernah benar-benar mampir. Mungkin karena dewan juri kala itu sedang senang plot twist.

Ketika banyak aktor seusianya memilih pensiun dini dan menikmati tumpukan royalti, Cruise justru melakukan hal yang berlawanan dengan akal sehat. Ia menciptakan ulang dirinya lewat Mission: Impossible -- yang makin lama makin mirip catatan pengalaman hampir wafat yang dikemas jadi waralaba miliaran dolar.

Ia memanjat gedung Burj Khalifa seperti tukang servis AC yang tak kenal rasa takut. Ia menggantung dari pesawat lepas-landas. Ia berlari dalam setiap film dengan kecepatan yang membuat atlet olimpiade tersinggung.

Dan yang membuat Hollywood sungkem adalah ia mempertahankan tradisi film layar lebar ketika studio-studio lain panik, terengah-engah mencari jalan selamat di tengah pandemi.

Itulah sebabnya Presiden Ampas, Janet Yang, menyebut Cruise sebagai orang yang “membantu mengantar industri melewati masa paling sulit.” Ketika film-film besar ditunda, set-set produksi dibekukan, bioskop tutup dan popcorn basi, Cruise memaksa Mission: Impossible 7 tetap berjalan dengan prosedur kesehatan yang super ketat.

Ia bahkan dimarahi media karena gaya memimpinnya yang “keras” di lokasi syuting. Padahal, sebenarnya ia sedang panik setengah mati mempertahankan ribuan kru agar tak kehilangan pekerjaan. Dalam dunia perfilman, tindakan itu nilainya setara dengan berjihad di garis depan.

Maka ketika Alejandro González Iñárritu memperkenalkannya di panggung Governors Awards, ia berkata bahwa menulis pidato empat menit untuk karier 45 tahun Tom Cruise adalah misi mustahil.

Ia membandingkan Cruise dengan gas yang tak berbentuk, tak tertebak, tapi memenuhi seluruh ruang. Bahkan ada cerita jenaka bahwa Cruise makan cabai seperti popcorn, sementara Iñárritu yang orang Meksiko asli justru menangis. Satu perumpamaan kecil yang menunjukkan bahwa intensitas Cruise bukan sekadar akting; ia bawaan pabrik.

Tapi apa rahasia lelaki ini? Mengapa ia bisa tiba di titik puncak dimana hidup dan pekerjaannya melebur tanpa batas?

Pertama, ia penderita kronis dari penyakit yang cuma menyerang orang-orang langka yaitu obsesi tingkat dewa. Cruise tak pernah melakukan sesuatu setengah-setengah.

Ia belajar bertahun-tahun untuk setiap karakter, menguasai seni bela diri, penerbangan, bahkan scuba diving sampai level gila. Adegan-adegan yang dilakukan pemeran pengganti oleh aktor lain, ia kerjakan sendiri dengan senyuman dan peluh, lalu pulang ke rumah sambil membawa lebam-lebam yang tak diklaim BPJS.

Kedua, ia percaya penuh bahwa film adalah ritual. Saat ia berkata “Making films is who I am,” itu bukan metafora manis. Itu pengakuan eksistensial. Di titik tertentu, pekerjaan ini bukan lagi profesi, ia adalah definisi diri.

Sama seperti penyair yang hidup dari kalimat, atau seorang pelukis yang merasa tanpa kanvas ia akan roboh, Cruise hidup dari cerita yang ia ciptakan. Dunia film bukan tempat ia bekerja; itu tempat ia bernafas.

Dan ketiga, ia konsisten hadir. Tidak peduli dunia berubah, teknologi berubah, selera publik berubah, Cruise tetap kokoh seperti tebing yang diterjang ombak Hollywood selama empat dekade.

Ia tak pernah berhenti. Tak pernah mengeluh. Tak pernah “menghilang sebentar.” Konsistensi itu, dalam dunia yang suka cepat lupa, adalah bentuk keajaiban tersendiri.

Di malam penghargaan itu, ia menutup dengan kata-kata yang membuat seluruh ruangan hening yaitu bahwa film adalah ruang dimana manusia tertawa, menangis, dan sembuh bersama; bahwa sinema bukan sekadar tontonan, tapi refleksi kemanusiaan kita yang paling jujur.

Dan mungkin di sanalah inti perjalanan Cruise selama ini dimana ia membuat film bukan untuk mendapatkan Oscar, tapi untuk menghubungkan manusia satu sama lain. Oscar hanyalah bonus, tapi bakti hidupnyalah yang mengangkatnya sampai titik ini.

Pada akhirnya, perjalanan Tom Cruise adalah bukti bahwa kadang puncak prestasi bukan datang dari satu karya monumental, tapi dari hidup yang dijalani dengan totalitas.

Ia membuktikan bahwa kegigihan bisa mengalahkan kegagalan, bahwa konsistensi adalah bentuk paling sederhana dari kejeniusan, dan bahwa pengakuan sejati datang pada waktu yang tepat bahkan jika butuh empat puluh lima tahun.

Dan seperti biasa, dalam tradisi manusia yang sering belajar terlambat, kita baru sadar bahwa yang pantas dihormati bukanlah piala di tangan aktor, tapi napas panjang perjuangannya. Bahwa puncak penghargaan bukan hanya tentang menang, tapi tentang menjadi.

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Tourism Malaysia Gencarkan Promosi Wisata di Tiga Kota Indonesia

Selasa, 28 April 2026 | 10:20

DPR Desak Evaluasi Nasional Perlintasan Sebidang Usai Tabrakan Kereta di Bekasi

Selasa, 28 April 2026 | 10:13

Bus Shalawat Gratis 24 Jam Disiapkan untuk Jemaah Haji di Makkah

Selasa, 28 April 2026 | 10:09

Update Korban Jiwa Tabrakan KA di Bekasi Bertambah Jadi 14 Orang

Selasa, 28 April 2026 | 10:00

Prabowo Minta Segera Investigasi Kasus Tabrakan Kereta Bekasi

Selasa, 28 April 2026 | 09:56

Lokomotif Argo Bromo Berhasil Dipindahkan, Tim SAR Fokus Evakuasi Korban

Selasa, 28 April 2026 | 09:53

Purbaya Pede IHSG Bisa Terbang 28.000, Pasar Langsung Terkoreksi

Selasa, 28 April 2026 | 09:51

Dinamika Global Tekan Indeks DXY ke Level 98,45 Jelang Keputusan Federal Reserve

Selasa, 28 April 2026 | 09:48

Kopdes Jadi Instrumen Capai Nol Kemiskinan Ekstrem

Selasa, 28 April 2026 | 09:39

Imbas Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Belasan Perjalanan KA Jarak Jauh dari Jakarta Resmi Dibatalkan

Selasa, 28 April 2026 | 09:27

Selengkapnya