Berita

Presiden Prabowo Subianto. (Foto: Facebook Prabowo Subianto)

Publika

Prabowo Punya Logikanya Sendiri

MINGGU, 23 NOVEMBER 2025 | 02:13 WIB

LOGIKA-logika yang agak terbalik dalam diskursus publik kita akhir-akhir ini, bisa disusun sebagai berikut. Satu, Jokowi diuntungkan secara politik dengan kasus dugaan ijazah palsu yang dilancarkan Roy Suryo cs. Pamor Jokowi terus bertengger di atas, bahkan di atas Presiden Prabowo sekalipun.

Logika terbalik itu melahirkan logika terbalik berikutnya. Yakni, kasus dugaan ijazah palsu ini memang sengaja dimainkan oleh Jokowi dan sadar maupun tidak, Roy Suryo cs sedang bekerja buat Jokowi, dan bukan sebaliknya? Jokowi bukannya dirugikan justru malah diuntungkan.

Dua, kenapa hanya ijazah Jokowi saja yang dikaji, padahal kita punya mantan Presiden tak hanya Jokowi? Pertanyaan ini sepintas terdengar cerdas, menyeret pihak lain dalam masalah yang sedang dihadapi, seolah pihak lain itu memiliki masalah yang sama dengan dirinya.


Padahal orang mengkaji itu karena ada sebab dan sebab itu tak terlihat pada mantan presiden lain, kecuali hanya pada Jokowi. Ijazah Jokowi itu ditampilkan pendukung sendiri, tapi sebab itu orang lain pula yang menjadi tersangka. Ini juga logika yang agak terbalik.

Tiga, kalau Jokowi membuka ijazahnya yang dituduh palsu, maka akan terjadi chaos. Sebab, setiap orang yang dituduh, dialah yang harus membuktikan, bukan pihak yang menuduh itu seharusnya. Ternyata itu tak berlaku bagi Arsul Sani yang dituduh memiliki ijazah palsu, justru dialah yang membuktikan bahwa ijazahnya asli.

Artinya, dalil atau dalih yang dipakai pihak Jokowi dan pendukungnya dibatalkan oleh Arsul Sani. Dan Arsul Sani sukses menipis dugaan ijazah palsu itu dan sebaliknya Jokowi dengan logikanya, sukses pula justru membuat kasus dugaan ijazah palsu ini berlarut-larut.

Empat, meski bukan presiden lagi, Prabowo masih membutuhkan Jokowi. Tingkat kesukaan terhadap Jokowi masih mencapai angka 80 persen. Itu sebetulnya hasil survei. Tapi hasil survei itu seperti terbalik, kok bisa orang yang sudah tak menjabat lagi tingkat kesukaannya masih tinggi?

Padahal setiap hari di media sosial, ada saja yang menyerang dan memaki-makinya. Dan ijazahnya sedang diperkarakan pula, karena diduga palsu. Tapi Prabowo menganggapnya teman. Bagi banyak orang logika itu terbalik, bagi Prabowo kenapa tidak?

Lima, logika terbalik ini masih berdasarkan hasil survei. Bahwa elektabilitas Prabowo hanya sekitar 46 persen saja. Artinya, itu elektabilitas awal Prabowo dulu saat melawan dua kali Jokowi. Kalau logika terbaliknya, Prabowo masih membutuhkan Jokowi, maka sebetulnya bisa dibalik lagi, bahwa Prabowo tak memerlukan Jokowi lagi, karena elektabilitasnya masih tetap sama seperti yang dulu.

Apalagi saat ini Prabowo sedang menjadi Presiden. Lanjut atau tidaknya nanti, bukan lagi tergantung Jokowi, tapi justru karena kinerja Prabowo sendiri.

Enam, dibandingkan Prabowo, Jokowi itu tak ada apa-apanya dalam banyak hal, sebutkanlah halnya apa saja. Dan makin terlihat, saat Prabowo menjadi Presiden saat ini. Tapi entah kenapa Jokowi merasa dan terlihat selalu berada di atas Prabowo, baik saat menjabat Presiden maupun setelah tidak menjabat Presiden lagi?

Itu sebetulnya logika terbalik juga, tapi sepertinya banyak orang menganggap ini logika yang tak terbalik, termasuk oleh Prabowo sendiri. Prabowo tak merasa terganggu dengan logika seperti itu. Baginya itu semacam kenyataan yang terpaksa harus diterima logika. Ataukah Prabowo punya logikanya sendiri yang tak perlu diungkapkannya? 

Tujuh, kalau ada keberhasilan 90 dan kegagalan hanya 10, maka orang akan menyoroti yang 10 itu dan mengabaikan yang 90-nya.

Program MBG, misalnya. Program ini luar biasa. Jelas untuk rakyat dan baru saja dijalankan. Program baik, untuk tujuan yang baik, tapi orang menyorot justru yang tak baiknya.

Bahkan, ada yang berani mengusulkan agar program ini dibatalkan saja. Ini jelas logika terbalik. Sesuatu yang harus didukung, malah ditentang. Seharusnya ditagih agar keberhasilan mendekati 100%, bukan justru sebaliknya.

Delapan, agaknya yang penting itu bukan prestasi atau hasil, melainkan bagaimana mengolahnya. Orang tak berprestasi, bahkan merusak, bisa terlihat berprestasi bahkan pejuang, asal bisa mengolahnya. Mengolah itu bisa lebih penting daripada kerja itu sendiri. Mengolah satu hal, kerja hal lain.

Tak masuk logika, sebetulnya. Prestasi yang dilakukan Prabowo dinilai prestasinya Jokowi, tapi giliran kegagalan ditanggung Prabowo sendiri. Istilah omon-omon sudah dilekatkan pula pada Prabowo, padahal belum ada kiranya Presiden yang satu antara kata dan perbuatannya, selain Prabowo.

Erizal
Direktur ABC Riset & Consulting

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Perdana sebagai Anggota Penuh, Prabowo Hadiri KTT BRICS di India

Sabtu, 12 September 2026 | 12:20

Serda Ahmad Muzammil Tewas, POMAU Periksa 4 Personel

Sabtu, 12 September 2026 | 12:06

Menteri Imipas Penuhi Janji, 82 WNI Dipulangkan dari Malaysia

Sabtu, 12 September 2026 | 11:52

Kemendikdasmen Prioritaskan Revitalisasi Ribuan Sekolah, Ini Kategorinya

Sabtu, 12 September 2026 | 11:37

Pertamina Patra Niaga Tingkatkan Pasokan BBM ke SPBU Sulsel

Sabtu, 12 September 2026 | 11:28

Soal Life Jacket yang Ditemukan, Pemilik Kapal Buka Suara

Sabtu, 12 September 2026 | 11:10

Hari Pelanggan, Manfaat Perlindungan Kesehatan Tembus Rp1,1 Triliun

Sabtu, 12 September 2026 | 11:01

LRT Jabodebek Beroperasi Normal Usai Gempa M5,9 Guncang Jakarta

Sabtu, 12 September 2026 | 10:50

Emas Antam Naik di Akhir Pekan, Satu Gram Jadi Segini

Sabtu, 12 September 2026 | 10:45

DPR Desak Usut Tuntas Penembakan Tiga Pegawai Pertanian Jayawijaya

Sabtu, 12 September 2026 | 10:28

Selengkapnya