Berita

CEO Danantara Rosan Roeslani. (Foto: Dokumentasi RMOL)

Bisnis

Ekonom Geruduk Danantara Ingatkan Risiko Baru bagi Negara

SELASA, 18 NOVEMBER 2025 | 21:55 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Aliansi Ekonom Indonesia (AEI) menilai pembentukan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara justru menimbulkan risiko baru bagi perekonomian nasional. 

Penilaian itu disampaikan delapan ekonom AEI dalam pertemuan resmi dengan jajaran pimpinan Danantara, di antaranya Muliaman Hadad, Pandu Sjahrir, Rohan Hafas, dan Reza Yamora Siregar pada Selasa, 18 November 2025.

AEI membawa empat persoalan utama yang dianggap mengkhawatirkan yaitu tumpang tindih mandat, ketidakjelasan sumber pendanaan, lemahnya tata kelola, serta risiko dominasi negara terhadap BUMN dan dunia usaha.


“Kami menyampaikan setidaknya empat isu dan permasalahan terkait Danantara,” ujar Lili Yan Ing sambil menegaskan bahwa persoalan tersebut berpotensi mengganggu kesehatan usaha domestik, termasuk UMKM.

Selain mandat yang dinilai tumpang tindih mulai dari sovereign wealth fund, lembaga pembiayaan pembangunan, hingga penyedia dana proyek pemerintah, AEI menyatakan Danantara belum memiliki prioritas yang jelas dan terukur.

“Mandat yang tumpang tindih tanpa prioritas yang jelas berisiko menciptakan konflik kepentingan dan melemahkan tata kelola,” kata Jahen F. Rezki.

Sementara itu dari sisi pendanaan, para ekonom menyoroti bahwa Indonesia berada dalam kondisi defisit fiskal selama dua dekade dan defisit transaksi berjalan hampir 15 tahun. Mereka mempertanyakan bagaimana Danantara akan dibiayai tanpa memperlebar tekanan terhadap utang nasional.

AEI juga menyoroti hilangnya pemasukan negara dari dividen BUMN yang kini dialihkan ke Danantara, sehingga menambah urgensi transparansi pengelolaan dana.

“Muncul kekhawatiran bahwa ekspansi pembiayaan Danantara justru akan menimbulkan crowding-out terhadap sektor swasta, meningkatkan biaya modal, dan mengurangi ruang gerak investasi domestik,” ungkap Teuku Riefky.

AEI lantas menekankan problem tata kelola, termasuk rangkap jabatan, potensi konflik kepentingan, serta absennya mekanisme meritokrasi yang kuat yang membuat Danantara berpotensi gagal menjadi jawaban dari seluruh permasalahan ini.

“Tekanan politik terhadap Danantara hampir tak terhindarkan mengingat besarnya kepentingan yang terlibat,” ujar Mervin G. Hamonangan.


Populer

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

UPDATE

Keputusan Pemerintah Batasi Ekspor Gas ke Singapura Sangat Tepat

Selasa, 27 Oktober 2026 | 01:57

IHSG, Selat Malaka dan Ujian Kedaulatan Ekonomi Indonesia

Selasa, 27 Oktober 2026 | 01:41

MKD Diminta Bersikap Tegas Sikapi Laporan Dugaan KDRT Anggota Dewan

Selasa, 27 Oktober 2026 | 01:20

Singapura, Dino Patti Djalal dan Opini Sesat

Selasa, 27 Oktober 2026 | 00:45

Bareskrim Tahan WN Taiwan Manajer Kapal Pengangkut 1 Ton Ketamin

Selasa, 27 Oktober 2026 | 00:26

Haji Isam dan Kutukan Demokrasi Mahal

Senin, 26 Oktober 2026 | 23:50

Kinerja Sektor Hukum Era Prabowo-Gibran Makin Bertaring

Senin, 26 Oktober 2026 | 23:24

Temui Mendikdasmen, DPR Minta Gerakan Lawan Bullying Diperkuat Lintas Sektor

Senin, 26 Oktober 2026 | 23:09

Balas Singapura! Bahlil Bakal Bangun PLTN di Batam

Senin, 26 Oktober 2026 | 22:18

Pelabuhan Sabang Didorong jadi Hub Internasional yang Ramah Lingkungan

Senin, 26 Oktober 2026 | 22:17

Selengkapnya